UNISAYOGYAUNISAYOGYA

JHeS (Journal of Health Studies)JHeS (Journal of Health Studies)

Sifilis adalah infeksi menular seksual (IMS) yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum. Skrining sifilis dapat dilakukan menggunakan metode imunokromatografi. Puskesmas (Puskesmas) Gondokusuman II, Kota Yogyakarta, menyediakan fasilitas skrining sifilis menggunakan metode imunokromatografi. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan hasil skrining sifilis menggunakan metode imunokromatografi. Penelitian ini menggunakan deskriptif kuantitatif. Sampel penelitian ini adalah hasil skrining sifilis dari Januari 2024 hingga Juni 2025 menggunakan rumus Slovin, dan diperoleh hasil dari 81 responden. Berdasarkan penelitian ini, hasil skrining sifilis didominasi oleh laki-laki berusia 20-25 tahun (64,2%), dibandingkan dengan perempuan (35,8%). Persentase tinggi ditemukan pada pria usia produktif atau dewasa. Kelompok usia ini memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, sehingga cenderung mendorong untuk mencoba hal-hal baru. Persentase hasil reaktif tinggi berdasarkan hasil pemeriksaan mengindikasikan potensi penyebaran infeksi pada populasi. Kesimpulan menunjukkan bahwa pemeriksaan sifilis pada Januari 2024-Juni 2025 menggunakan metode imunokromatografi didominasi oleh jenis kelamin laki-laki berusia 20-25 tahun atau usia produktif dan usia dewasa.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada hasil skrining sifilis dari Januari 2024 hingga Juni 2025, dapat disimpulkan bahwa hasil reaktif terbanyak terdapat pada pria berusia 20-25 tahun.Hal ini disebabkan oleh perilaku seksual berisiko dan kurangnya kesadaran akan kesehatan reproduksi.Implikasi praktis bagi responden reaktif adalah konfirmasi dengan tes treponemal lainnya, yaitu TPHA.Metode imunokromatografi dapat digunakan sebagai metode skrining sifilis rutin untuk pasien dengan gejala IMS dan populasi berisiko tinggi.

Berdasarkan latar belakang penelitian yang menyoroti prevalensi sifilis yang lebih tinggi pada pria usia produktif, penelitian lanjutan dapat difokuskan pada eksplorasi faktor-faktor sosial budaya yang berkontribusi terhadap perilaku seksual berisiko pada kelompok ini. Selain itu, penelitian kualitatif dapat dilakukan untuk memahami persepsi dan pengetahuan tentang sifilis di kalangan remaja dan dewasa muda, sehingga dapat menginformasikan pengembangan program edukasi yang lebih efektif. Lebih lanjut, penelitian longitudinal dapat dilakukan untuk melacak perkembangan penyakit sifilis pada individu yang terinfeksi, serta mengevaluasi efektivitas intervensi pencegahan dan pengobatan yang telah diterapkan. Dengan menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif, penelitian lanjutan dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang dinamika sifilis dan berkontribusi pada upaya pencegahan dan pengendalian penyakit yang lebih efektif di masyarakat.

  1. The description of syphilis examination results using the immunochromatography method based on gender... ejournal.unisayogya.ac.id/index.php/JHeS/article/view/4392The description of syphilis examination results using the immunochromatography method based on gender ejournal unisayogya ac index php JHeS article view 4392
Read online
File size332.48 KB
Pages6
DMCAReport

Related /

ads-block-test