UNIPASBYUNIPASBY

Jurnal Plano BuanaJurnal Plano Buana

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi dan kelemahan kawasan cagar budaya di Kabupaten Sumenep. Teknik pengumpulan data berupa teknik observasi, dokumentasi dan survei instansi. Metode analisis menggunakan analisis expert judgement berdasarkan aspek bangunan dan non bangunan serta analisis delineasi software GIS. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa potensi kawasan cagar budaya sebagai kawasan wisata heritage meliputi sangat berpotensi (Masjid Jamik), berpotensi (Keraton Sumenep), cukup berpotensi (Asta Tinggi), kurang berpotensi (Asta Pangeran Lor dan Wetan, Kota Tua Kalianget), serta sangat kurang berpotensi (Benteng Kalimook dan Asta Panembahan Blingi Sepudi). Potensi kawasan cagar budaya dinilai berdasarkan aspek bangunan (kondisi bangunan, keadaan lingkungan, fasilitas umum dan fasilitas kesenian) dan non bangunan (atraksi wisata, jarak tempuh dan transportasi). Kelemahan kawasan cagar budaya berupa ketersediaan fasilitas umum, fasilitas kesenian dan atraksi wisata.

Analisis potensi kawasan cagar budaya berdasarkan variabel bangunan dan non bangunan menunjukkan bahwa terdapat lima kelas Kawasan Cagar Budaya Kabupaten Sumenep, yaitu sangat berpotensi, berpotensi, cukup berpotensi, kurang berpotensi, dan sangat kurang berpotensi.Kelemahan kawasan cagar budaya berupa tidak adanya atraksi wisata, kurangnya ketersediaan fasilitas umum di kawasan cagar budaya dan aksesibilitas ke pusat kota.Perlu adanya kajian lebih lanjut mengenai usia bangunan, nilai sejarah, karakteristik khas, fungsi dan kegunaan, serta citra kawasan.

Berdasarkan hasil penelitian, terdapat beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat dikembangkan. Pertama, perlu dilakukan penelitian lebih mendalam mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi wisatawan terhadap atraksi wisata di kawasan cagar budaya, dengan tujuan untuk mengidentifikasi strategi pemasaran yang efektif dalam menarik minat wisatawan. Kedua, penelitian mengenai dampak sosial-ekonomi dari pengembangan wisata heritage terhadap masyarakat lokal di sekitar kawasan cagar budaya dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai manfaat dan tantangan yang dihadapi. Ketiga, studi tentang strategi pelestarian bangunan cagar budaya yang berkelanjutan, dengan mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi, dapat menjadi acuan bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan yang mendukung pelestarian warisan budaya. Pengembangan wisata heritage di Kabupaten Sumenep memerlukan pendekatan yang holistik, melibatkan partisipasi aktif masyarakat lokal, dan memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan. Dengan demikian, potensi wisata heritage dapat dimaksimalkan secara optimal, sekaligus melestarikan warisan budaya untuk generasi mendatang.

Read online
File size585.36 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test