JOMPARNDJOMPARND

One moment, please...One moment, please...

Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kesadaran dan memfasilitasi deteksi dini skoliosis pada remaja di Kelurahan Mulyorejo, Surabaya. Skoliosis pada remaja sering terlewatkan namun berpotensi menimbulkan masalah jangka panjang. Kegiatan dilaksanakan di klinik fisioterapi Surabaya (Mulyosari Timur) pada tanggal 4 Mei 2025, diikuti 15 remaja karang taruna (usia 16-18 tahun). Metode meliputi penyuluhan interaktif menggunakan presentasi dan skrining individu menggunakan scoliometer. Hasil penyuluhan menunjukkan peningkatan pengetahuan signifikan partisipan, dengan rata-rata skor post-test 86.5 dibandingkan pre-test 64.5. Skrining awal mendeteksi indikasi kelainan lengkung tulang belakang pada 2 dari 15 partisipan (13%), yang kemudian diberikan rekomendasi pemeriksaan lanjutan dan latihan mandiri. Kegiatan ini menunjukkan efektivitas program preventif skoliosis berbasis komunitas dan direkomendasikan untuk diperluas ke lingkup sekolah dan kolaborasi dengan fasilitas kesehatan.

Kegiatan pengabdian masyarakat ini berhasil meningkatkan kesadaran dan pengetahuan remaja Kelurahan Mulyorejo, Surabaya, tentang skoliosis melalui penyuluhan interaktif, sekaligus mendeteksi indikasi kelainan tulang belakang pada beberapa peserta.Kombinasi metode penyuluhan dan skrining terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman dan mengidentifikasi potensi kasus skoliosis sejak dini, menegaskan pentingnya program preventif semacam ini.Untuk keberlanjutan, disarankan perluasan jangkauan skrining ke sekolah, pelibatan aktif orang tua dan guru, kolaborasi dengan Puskesmas, serta pengembangan edukasi sebaya dan metode skrining yang lebih komprehensif.

Melihat keberhasilan dan keterbatasan dari kegiatan deteksi dini skoliosis yang telah dilakukan, ada beberapa arah penelitian lanjutan yang sangat menarik untuk dieksplorasi agar program ini bisa lebih optimal dan menjangkau lebih banyak remaja. Pertama, akan sangat berharga untuk melakukan penelitian yang membandingkan efektivitas dan keberlanjutan dari model program deteksi dini skoliosis yang berbeda, misalnya, apakah program berbasis sekolah dengan melibatkan guru dan orang tua secara aktif memberikan hasil yang lebih baik dalam jangka panjang dibandingkan program yang hanya berfokus pada komunitas atau klinik. Penelitian ini bisa mengukur tidak hanya peningkatan pengetahuan dan angka deteksi, tetapi juga melihat bagaimana program tersebut dapat memicu perubahan perilaku kesehatan dan tindak lanjut medis yang diperlukan. Kedua, mengingat adanya tantangan dalam durasi skrining individu dan ketergantungan pada metode visual sederhana, penelitian dapat mengeksplorasi potensi penggunaan teknologi yang lebih canggih dan mudah diakses, seperti aplikasi seluler atau alat bantu berbasis kecerdasan buatan, untuk skrining awal skoliosis di komunitas. Studi ini bisa menilai akurasi, kecepatan, dan penerimaan remaja serta tenaga kesehatan terhadap teknologi baru tersebut, serta potensi dampaknya dalam meningkatkan efisiensi deteksi dini. Ketiga, karena keberhasilan tindak lanjut pasca-skrining belum dapat dipantau sepenuhnya, sebuah studi longitudinal yang meneliti faktor-faktor yang memengaruhi kepatuhan remaja dan keluarganya terhadap rekomendasi rujukan atau latihan mandiri sangat dibutuhkan. Penelitian ini akan membantu mengidentifikasi hambatan dan pendorong agar mereka benar-benar melakukan pemeriksaan lanjutan dan menjalani terapi, sehingga rekomendasi yang diberikan tidak hanya berhenti di tahap skrining, tetapi berlanjut hingga penanganan yang tuntas demi kesehatan tulang belakang remaja di masa depan.

Read online
File size809.97 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test