IJID RSPISULIANTISAROSOIJID RSPISULIANTISAROSO

The Indonesian Journal of Infectious DiseasesThe Indonesian Journal of Infectious Diseases

Ulkus kolitis (UC) adalah penyakit inflamasi di kolon, disebabkan oleh gangguan interaksi antara respons imun dan mikrobiota usus pada inang yang secara genetik rentan. Ketidakseimbangan antara mikrobiota usus komensal dan patogenik mempromosikan inflamasi. Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi efikasi minyak biji labu dan SCFAs dalam menjaga mikrobiota usus pada model tikus UC. Empat kelompok, K1, K2, K3, dan K4, sebagai kontrol sehat diberikan air suling (K1); K2, K3, dan K4 diinduksi UC dengan 2% DSS, diikuti dengan pemberian Asam Lemak Rantai Pendek (SCFAs) (K3), suplementasi SCFAs dan minyak biji labu (K4). Jumlah koloni diukur keragaman mikrobiota (log CFU/mL/g) dalam NA, EMB, MRSA, dan media McConkey. Hemoglobin dan hematokrit juga diukur untuk menilai anemia. Hasil: Rata-rata jumlah koloni bakteri yang tumbuh pada NA, EMB, MRSA, dan media McConkey pada K4 adalah 7,65, 5,78, 7,85, dan 6,20, berturut-turut, dan rata-rata kadar HB dan hematokrit adalah 14,2 g/dL dan 42%, berturut-turut. Terdapat keragaman mikrobiota dan bakteri laktobacillus yang lebih besar pada tikus UC yang diberikan minyak biji labu dan SCFAs, dengan Enterobacteriaceae dan E. coli yang lebih sedikit dibandingkan pada model UC. Peningkatan kadar HB dan hematokrit juga menunjukkan tren yang sama. Kesimpulan: Minyak biji labu pada dosis 100 mg/kg dan SCFAs dapat menjadi bioterapi prospektif untuk menjaga keseimbangan mikrobiota alami dan meningkatkan kadar HB.

Minyak biji labu pada dosis 100 mg/kg dan SCFAs dapat menjadi bioterapi prospektif untuk menjaga keseimbangan mikrobiota alami dan meningkatkan kadar HB.Kombinasi minyak biji labu dan SCFAs menunjukkan potensi dalam menjaga kesehatan usus dan mengurangi peradangan.Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi mekanisme kerja dan efektivitasnya pada manusia.

Berdasarkan hasil penelitian ini, beberapa saran penelitian lanjutan dapat diajukan. Pertama, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengidentifikasi jenis SCFAs yang paling efektif dalam meningkatkan keragaman mikrobiota dan mengurangi inflamasi pada model UC, serta menentukan dosis optimalnya. Kedua, penelitian dapat difokuskan pada mekanisme molekuler yang mendasari efek protektif minyak biji labu dan SCFAs terhadap mikrobiota usus dan respons imun, termasuk interaksi antara senyawa bioaktif dalam minyak biji labu dengan reseptor pada sel-sel imun. Ketiga, penelitian longitudinal dapat dilakukan untuk mengevaluasi dampak jangka panjang suplementasi minyak biji labu dan SCFAs terhadap perkembangan dan progresivitas UC, serta dampaknya terhadap kualitas hidup pasien. Dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang mekanisme kerja dan efektivitasnya, minyak biji labu dan SCFAs berpotensi menjadi strategi terapeutik alami yang menjanjikan untuk pengelolaan UC.

  1. Frontiers | The Role of Short-Chain Fatty Acids From Gut Microbiota in Gut-Brain Communication. frontiers... doi.org/10.3389/fendo.2020.00025Frontiers The Role of Short Chain Fatty Acids From Gut Microbiota in Gut Brain Communication frontiers doi 10 3389 fendo 2020 00025
  2. Frontiers | Lactobacillus spp. for Gastrointestinal Health: Current and Future Perspectives. frontiers... doi.org/10.3389/fimmu.2022.840245Frontiers Lactobacillus spp for Gastrointestinal Health Current and Future Perspectives frontiers doi 10 3389 fimmu 2022 840245
Read online
File size446.54 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test