RESEARCHHUBRESEARCHHUB

Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan IndonesiaJurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia

Zingiber officinale Var. Amarum (umumnya dikenal sebagai jahe emprit) adalah varietas jahe lokal yang dikenal kaya akan senyawa bioaktif, termasuk flavonoid, fenolik, tanin, saponin, dan terpenoid, yang secara luas dilaporkan memiliki sifat antioksidan dan kemampuan menyerap radiasi ultraviolet (UV). Karakteristik ini menyoroti potensinya sebagai sumber alami agen fotoprotektif. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi Faktor Perlindungan Matahari (SPF) dari limbah distilasi rimpang jahe dan melakukan skrining fitokimia untuk mengidentifikasi kandungan metabolit sekundernya. Distilasi dilakukan pada 250 gram rimpang jahe segar dengan rasio pelarut 1:2 (b/v). Proses ini menghasilkan 130 mL limbah cair dengan tingkat pemulihan 52% dan mempertahankan profil aromatik khas jahe. Analisis fitokimia menunjukkan adanya flavonoid, fenolik, saponin, dan fitosterol, sementara alkaloid hanya terdeteksi dalam jumlah renik, menunjukkan bahwa limbah tersebut masih mengandung konstituen bioaktif yang berharga meskipun telah melalui proses distilasi. Penentuan SPF dilakukan menggunakan metode spektrofotometri Mansur, yang mengukur absorbansi dalam rentang panjang gelombang 290–320 nm pada interval 5 nm. Ekstrak menunjukkan nilai SPF rata-rata 39,29, yang dikategorikan sebagai perlindungan ultra, menunjukkan tingkat kapasitas fotoprotektif yang sangat tinggi. Hasil ini menegaskan bahwa limbah distilasi rimpang jahe mempertahankan senyawa dengan daya serap UV dan potensi antioksidan yang kuat, mendukung penggunaannya sebagai bahan aktif dalam formulasi tabir surya. Selain efikasi fungsionalnya, pemanfaatan produk sampingan ini juga mendorong keberlanjutan dengan mengurangi limbah dari industri minyak esensial dan berkontribusi pada inovasi kosmetik ramah lingkungan. Kesimpulannya, penelitian ini memberikan bukti ilmiah bahwa limbah penyulingan jahe dapat dimanfaatkan menjadi produk bernilai tinggi,.

Penelitian ini menunjukkan bahwa limbah destilasi rimpang jahe emprit dari 250 g simplisia menghasilkan 130 mL residu beraroma khas jahe yang masih mengandung senyawa berupa flavonoid, fenolik, saponin, alkaloid dan fitosterol yang diketahui memiliki kemampuan menyerap radiasi UV dan aktivitas antioksidan.Berdasarkan pengujian dengan metode spektrofotometri UV-Vis, didapatkan nilai SPF rata‑rata 39,29 yang tergolong proteksi ultra, sehingga limbah destilasi ini berpotensi besar untuk dikembangkan sebagai bahan aktif alami dalam formulasi kosmetik tabir surya, sekaligus mendukung pemanfaatan limbah tanaman obat secara lebih optimal dan berkelanjutan.

Untuk penelitian lanjutan, dapat dilakukan studi komparatif antara limbah jahe emprit dengan jahe varietas lain untuk menentukan potensi SPF masing-masing. Selain itu, penelitian dapat fokus pada formulasi produk tabir surya yang optimal dengan menggunakan limbah jahe emprit sebagai bahan aktif, dengan mempertimbangkan stabilitas dan efektivitasnya dalam jangka panjang. Terakhir, penelitian dapat mengeksplorasi potensi limbah jahe emprit dalam aplikasi kosmetik lain selain tabir surya, seperti pelembab atau produk perawatan kulit lainnya.

  1. Penentuan Nilai SPF (Sun Protection Factor) Limbah Destilasi Rimpang Jahe Emprit (Zingiber officinale... doi.org/10.55606/jikki.v5i3.8148Penentuan Nilai SPF Sun Protection Factor Limbah Destilasi Rimpang Jahe Emprit Zingiber officinale doi 10 55606 jikki v5i3 8148
  2. The Amount of βCarotene, Total Phenolic and Total Flavonoid of Ethanol Extract of Leaf Moringa Oleifera... doi.org/10.2991/adics-phs-19.2019.22The Amount of Carotene Total Phenolic and Total Flavonoid of Ethanol Extract of Leaf Moringa Oleifera doi 10 2991 adics phs 19 2019 22
Read online
File size388.92 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test