HIPKIN JATENGHIPKIN JATENG

Journal of Curriculum IndonesiaJournal of Curriculum Indonesia

Penelitian ini menyelidiki bagaimana transformasi digital membentuk program dukungan mahasiswa di institusi pendidikan tinggi di Afrika Selatan. Meskipun ada peningkatan investasi dalam alat dan platform digital, sedikit yang diketahui tentang bagaimana pergeseran ini dialami oleh mereka yang merancang dan menerapkan struktur dukungan, Praktisi Pengembangan Akademik (PAD). Untuk mengatasi kesenjangan ini, penelitian ini melibatkan 12 PAD dari berbagai universitas melalui wawancara mendalam semi-terstruktur. Dipandu oleh lensa teoretis Sistem Sosioteknik, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana alat digital (misalnya, sistem manajemen pembelajaran, WhatsApp, platform e-mentoring) berinteraksi dengan praktik manusia, norma institusional, dan kebutuhan mahasiswa. Analisis tematik mengungkapkan empat tema sentral: (1) pergeseran identitas PAD di ruang digital, (2) akses yang tidak setara dan kesenjangan digital, (3) model dukungan relasional yang berkembang, dan (4) ketegangan antara inovasi dan inersia institusional. Temuan menunjukkan bahwa meskipun transformasi digital telah meningkatkan jangkauan dan efisiensi, hal itu juga telah memperkenalkan kompleksitas terkait beban kerja, batas profesional, dan keterlibatan mahasiswa. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana digitalisasi memengaruhi desain, penyampaian, dan pengalaman dukungan mahasiswa, menawarkan wawasan penting untuk kebijakan, praktik, dan penelitian lebih lanjut di Global South.

Penelitian ini menyoroti bahwa transformasi digital tidak hanya merupakan latihan teknis tetapi proses yang mendalam dan kontekstual.Meskipun alat digital telah memperluas jangkauan dan kecepatan dukungan akademik, mereka juga telah memperkenalkan tantangan baru, seperti peningkatan beban kerja emosional, batas profesional yang kabur, akses mahasiswa yang tidak setara, dan kerangka institusional yang tidak mendukung.Dari perspektif Sistem Sosioteknik, ketegangan ini muncul ketika kemajuan teknologi tidak disertai dengan penyesuaian sosial dan institusional yang tepat.Oleh karena itu, transformasi digital yang berkelanjutan dan adil membutuhkan lebih dari sekadar akses ke platform, tetapi juga pemikiran ulang sistem, peran, hubungan, dan nilai-nilai dalam pendidikan tinggi.PAD tidak hanya sebagai pelaksana strategi digital, tetapi juga sebagai ko-pencipta pengalaman mahasiswa.

Berdasarkan temuan penelitian, beberapa saran penelitian lanjutan dapat diajukan. Pertama, perlu dilakukan studi longitudinal untuk menginvestigasi dampak jangka panjang transformasi digital terhadap kesejahteraan dan kepuasan kerja PAD. Kedua, penelitian kualitatif mendalam dapat mengeksplorasi bagaimana PAD dari berbagai latar belakang dan institusi menavigasi tantangan digital, dengan fokus pada strategi adaptasi dan inovasi yang mereka terapkan. Ketiga, penelitian komparatif lintas negara dapat membandingkan pengalaman PAD di berbagai konteks Global South, untuk mengidentifikasi praktik terbaik dan faktor-faktor yang memfasilitasi keberhasilan transformasi digital. Studi-studi ini dapat memberikan wawasan berharga bagi institusi pendidikan tinggi dalam merancang dan menerapkan program dukungan mahasiswa yang efektif, inklusif, dan berkelanjutan di era digital.

Read online
File size245.84 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test