UNSULBARUNSULBAR

Seminar Nasional Peternakan, Kelautan, dan PerikananSeminar Nasional Peternakan, Kelautan, dan Perikanan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi infusa daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi Linn) sebagai akarisida alami terhadap caplak Boophilus microplus berdasarkan konsentrasi dan waktu yang dibutuhkan untuk membunuh caplak Boophilus microplus. Jenis penelitian ini adalah eksperimental dengan menggunakan rancangan acak lengkap yang dibagi menjadi empat perlakuan yaitu: P0 = 100 % akarisida bahan kimia (Permethrin dan Piperonyl Butoxide): P1 = 25 % infusa daun belimbing wuluh; P2 = 50 % infusa daun belimbing wuluh; P3 = 75 % infusa daun belimbing wuluh. Sampel caplak Boophilus microplus yang digunakan sebanyak 125 ekor dengan 5 kali ulangan dan setiap ulangan terdiri dari 5 ekor caplak. Analisis data menggunakan Anova dengan uji lanjut Duncan. Hasil penelitian menunjukkan rataan waktu kematian caplak tercepat terdapat pada perlakuan kontrol positif (P0) yaitu 208,04 ± 42,65a menit atau 3 jam 28 menit dan P3 yaitu 254,84 ± 36,66ab atau 4 jam 14 menit. Rataan waktu kematian caplak terlama terdapat pada perlakuan P1 (25 % infusa daun belimbing wuluh) yaitu 349,52 ± 11,82c menit atau 5 jam 50 menit. Dapat disimpulkan bahwa, infusa daun belimbing wuluh mampu berperan sebagai akarisida alami karena dapat membunuh caplak Boophilus microplus dengan konsentrasi pemberian sebanyak 75 % dengan waktu kematian 4 jam 14 menit sehingga dapat dijadikan sebagai alternatif pengganti akarisida berbahan kimia.

Infusa daun belimbing wuluh berpotensi sebagai akarida alami terhadap caplak Boophilus mikroplus sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif akarisida alami.

Saran penelitian lanjutan pertama adalah menguji efektivitas infusa daun belimbing wuluh pada konsentrasi lebih tinggi dari 75 % atau dengan kombinasi dosis bertahap untuk menentukan ambang batas mortalitas tertinggi terhadap caplak Boophilus microplus. Kedua, perlu dilakukan uji lapangan pada ternak sapi secara real‑time untuk menilai kinerja infusa dalam kondisi lingkungan peternakan, termasuk pengaruh faktor iklim, paparan air, dan interaksi dengan kulit hewan. Ketiga, penelitian dapat memisahkan dan mengkarakterisasi senyawa aktif seperti flavonoid, saponin, tannin, alkaloid, dan terpenoid dalam ekstrak belimbing wuluh, lalu menguji masing‑masing senyawa tersebut secara terisolasi terhadap caplak untuk mengetahui kontribusi spesifik tiap komponen. Keempat, studi longitudinal dapat menilai kemungkinan perkembangan resistensi pada caplak terhadap infusa dalam jangka waktu panjang. Kelima, analisis biaya‑manfaat penggunaan infusa dibandingkan akarisida kimia di skala peternakan dapat memberikan gambaran ekonomis bagi peternak. Keenam, eksplorasi formulasi aplikasi alternatif seperti semprot berbasis minyak atau kapsul dapat meningkatkan stabilitas dan penyerapan senyawa aktif. Ketujuh, kolaborasi dengan ahli agronomi dapat mengoptimalkan budidaya tanaman belimbing wuluh yang berkelanjutan untuk memastikan pasokan bahan baku yang cukup.

Read online
File size396.74 KB
Pages5
DMCAReport

Related /

ads-block-test