JURNALSTIKESTULUNGAGUNGJURNALSTIKESTULUNGAGUNG

Prosiding Riset KesehatanProsiding Riset Kesehatan

Tanah longsor merupakan salah satu bencana alam yang sering melanda daerah perbukitan karena curah hujan yang tinggi. BNPB mencatat 552 kejadian tanah longsor pada tahun 2020 di Indonesia. Pengetahuan self efficacy menjadi faktor penting dalam kesiapsiagaan bencana. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara pengetahuan self efficacy dengan kesiapsiagaan bencana tanah longsor pada masyarakat di RT 01 / RW 02 Desa Sidomulyo, Kecamatan Pagerwojo, Kabupaten Tulungagung tahun 2021. Desain penelitian deskriptif korelasional dengan pendekatan cross‑sectional, populasi 40 responden dipilih purposive sampling. Data dikumpulkan dengan kuesioner door to door dan dianalisis menggunakan uji statistik Spearman Rho. Hasil menunjukkan 60% responden memiliki pengetahuan self efficacy baik dan 70% sangat siap menghadapi bencana tanah longsor. Analisis menunjukkan p‑value 0,000 (<0,05), sehingga H0 ditolak dan H1 diterima, membuktikan adanya hubungan signifikan antara pengetahuan self efficacy dan kesiapsiagaan bencana tanah longsor. Pengetahuan self efficacy berhubungan erat dengan kesiapsiagaan; individu dengan self efficacy baik sangat siap menghadapi bencana, sebaliknya yang kurang self efficacy kurang siap.

Pengetahuan self efficacy masyarakat di RT 01/RW 02 Desa Sidomulyo sebagian besar baik (60%) dengan sisanya cukup atau kurang, dipengaruhi faktor sosial budaya, lingkungan, dan ekonomi.Kesiapsiagaan bencana tanah longsor mayoritas sangat siap (70%), dengan persentase siap, hampir siap, dan kurang siap masing‑masing 17,5%, 7,5%, dan 2,5%.Analisis Spearman Rho menunjukkan hubungan signifikan antara pengetahuan self efficacy dan kesiapsiagaan bencana tanah longsor (p‑value = 0,000), sehingga terdapat hubungan positif yang kuat.

Penelitian selanjutnya dapat mengevaluasi apakah program pelatihan mitigasi bencana yang terstruktur dapat meningkatkan self‑efficacy dan tingkat kesiapsiagaan masyarakat di wilayah rawan longsor, dengan menggunakan desain eksperimen berkelompok dan pengukuran pra‑dan pasca‑intervensi. Selain itu, studi longitudinal selama tiga sampai lima tahun dapat dipandang untuk memantau dinamika perubahan pengetahuan self‑efficacy serta kesiapsiagaan seiring dengan pengalaman pribadi korban longsor dan perubahan kondisi lingkungan, sehingga dapat mengidentifikasi faktor‑faktor penunjang atau penghambat jangka panjang. Penelitian komparatif antara beberapa desa dengan profil sosial‑ekonomi berbeda dapat memperluas pemahaman tentang pengaruh tingkat pendidikan, pendapatan, dan akses informasi terhadap hubungan self‑efficacy dan kesiapsiagaan, dengan melakukan analisis multivariat. Selanjutnya, pendekatan kualitatif menggunakan wawancara mendalam dan focus group discussion dapat menggali persepsi subjektif warga terhadap efektivitas kebijakan lokal dalam meningkatkan kepercayaan diri menghadapi bencana. Terakhir, pengembangan model prediktif berbasis machine learning yang mengintegrasikan data demografis, historis bencana, dan skor self‑efficacy dapat membantu pihak berwenang merancang intervensi yang lebih tepat sasaran.

Read online
File size284.54 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test