RADEN WIJAYARADEN WIJAYA

Sabbhata Yatra: Jurnal Pariwisata dan BudayaSabbhata Yatra: Jurnal Pariwisata dan Budaya

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sentuhan nilai-nilai budaya Tionghoa dalam menu Timlo Solo. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan analisis deskriptif melalui studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai budaya Tionghoa yang otentik dalam menu Timlo terdapat pada bahan-bahan dasarnya, seperti bunga sedap malam kering, telur pindang, soun, dan jamur kuping kering, yang memiliki nilai simbolis dalam budaya Tionghoa, seperti energi positif, kesehatan, dan kemakmuran. Timlo sendiri juga terinspirasi dari sup, yang merupakan salah satu identitas Tionghoa, khususnya mengingatkan pada sup khas Shandong yang dikombinasikan dengan sup Guangdong/Cantonese yang kaya rempah dan selalu menggunakan bunga sedap malam kering. Selain itu, teknik memasak Timlo juga tidak terlepas dari metode memasak ala Tionghoa, yaitu red stewing, merebus, dan braising.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa Timlo Solo merupakan hasil akulturasi budaya Tionghoa, lokal, dan Barat yang termanifestasi dalam bentuk produk makanan.Nilai keotentikan Tionghoa dalam menu Timlo terletak pada bahan-bahan dasarnya, seperti bunga sedap malam kering, telur pindang, soun, dan jamur kuping kering yang memiliki nilai simbolis dalam budaya Tionghoa.Timlo juga terinspirasi dari sup khas Tionghoa, khususnya dari wilayah Shandong dan Guangdong, yang kemudian berpadu dengan cita rasa lokal Jawa di Solo.

Berdasarkan penelitian ini, terdapat beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat dikembangkan. Pertama, penelitian lebih lanjut dapat dilakukan untuk mengkaji secara mendalam pengaruh akulturasi budaya Tionghoa terhadap perkembangan kuliner di kota-kota lain di Indonesia, selain Solo. Hal ini penting untuk memahami bagaimana nilai-nilai budaya Tionghoa telah beradaptasi dan berinteraksi dengan budaya lokal di berbagai daerah. Kedua, penelitian dapat difokuskan pada analisis persepsi konsumen terhadap Timlo Solo, khususnya terkait dengan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Dengan memahami bagaimana konsumen memaknai Timlo, dapat diperoleh wawasan tentang bagaimana kuliner dapat menjadi media transmisi budaya. Ketiga, penelitian dapat mengeksplorasi potensi pengembangan produk Timlo dengan variasi rasa dan bahan baku yang lebih beragam, namun tetap mempertahankan nilai-nilai budaya Tionghoa yang otentik. Pengembangan ini dapat dilakukan dengan menggabungkan teknik memasak Tionghoa dengan bahan-bahan lokal yang unik, sehingga menghasilkan produk kuliner yang inovatif dan menarik bagi pasar yang lebih luas. Ketiga saran ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan studi kuliner di Indonesia, khususnya dalam memahami dinamika akulturasi budaya dan dampaknya terhadap identitas kuliner.

Read online
File size195.83 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test