169169
PanggungPanggungStudi ini membahas kehadiran kesadaran imanen melalui musik. Isu yang dibahas adalah bagaimana realitas imanen ini hadir dalam praktik bermain musik. Oleh karena itu, fokus penelitian ini adalah pengalaman estetika musisi saat bermain musik. Hal ini dikarenakan, sejauh ini, ketika informan berbicara tentang topik pertunjukan musik, objek studi cenderung berfokus pada hal-hal praktis seperti efektivitas teknik bermain, strategi pemilihan repertoar, analisis musik, dan manajemen pertunjukan. Di Indonesia, studi musik yang membahas pengalaman imanen cenderung menekankan pengalaman non-sensori: imanen sebagai jenis pengalaman transenden yang ilahi, kosmik, atau metafisika. Sebaliknya, peran musik dalam munculnya pengalaman imanen belum banyak dibahas. Menggunakan konsep Deleuze tentang yang virtual, studi ini menguraikan berbagai pengalaman imanen dalam konteks musisi tradisional. Data penelitian dikumpulkan melalui wawancara dengan dua musisi tradisional: Iwan Gunawan (pemain kendang Sunda) dan Maspon (pemain saluang). Data kemudian dikategorikan menjadi tiga jenis pengalaman: pengalaman empiris, pengalaman ambang, dan berbagai sensasi yang dirasakan. Temuan menunjukkan bahwa praktik musik memfasilitasi pergeseran kesadaran, dari persepsi empiris menuju kesadaran imanen. Pergeseran ini memungkinkan musisi untuk mengalami bentuk-bentuk realitas baru di luar norma pertunjukan standar - muncul sebagai mode pemahaman pra-predikatif.
Dalam menjawab pertanyaan penelitian pertama, studi ini menyimpulkan bahwa imanen dalam musik hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan pengalaman empiris.Alasannya adalah imanen adalah efek kontraksi memori yang mengganggu persepsi.Agar informan memiliki memori, mereka harus memiliki pengalaman.Di sini pengalaman empiris menjadi penting sebagai fondasi krusial bagi informan untuk dapat mengalami imanen dalam musik.Dalam pengalaman empiris, informan harus mampu menemukan keunikan objek yang dirasakan.Informan harus mampu menemukan keunikan objek dalam kesadaran persepsi mereka pada tingkat molekular.Hal ini hanya mungkin jika informan mengintensifkan fokus kesadaran mereka ketika merasakan objek musik.Dengan kata lain, musik yang kita rasakan harus benar-benar diinternalisasi.Tanpa apresiasi yang dalam, musik hanya akan hadir di telinga kita sebagai urutan suara, tidak lebih.Menjawab pertanyaan penelitian kedua, parameter musik yang memungkinkan informan mengalami imanen dapat berupa apa saja.Dalam kasus Iwan, titik masuknya adalah elemen intramusikal (ritme), sedangkan dalam kasus Maspon, titik masuknya adalah elemen ekstramusikal (keadaan dalam).Dalam hal ini, perlu dijelaskan bahwa apresiasi bukan sama dengan analisis musikologis.Setiap informan bebas menghargai musik dengan caranya sendiri.Bahkan informan yang tidak memiliki latar belakang musik dapat menghargai musik dengan caranya sendiri.Yang penting adalah informan mampu mengidentifikasi elemen-elemen khusus dari objek musik yang mampu meninggalkan kesan mendalam - sesuatu yang menusuk kesadaran mereka selama persepsi.Hal inilah yang memiliki potensi untuk menculik kesadaran informan dan mengkristalkannya pada momen tertentu (Deleuze, 2019, p.69) dari urutan momen suara dalam musik.
Berdasarkan temuan dan analisis dalam penelitian ini, berikut adalah tiga saran penelitian lanjutan yang dapat dipertimbangkan:. . 1. Mempelajari lebih lanjut tentang bagaimana pengalaman imanen dalam musik dapat mempengaruhi interpretasi dan ekspresi musisi dalam pertunjukan. Bagaimana pengalaman imanen ini dapat diterjemahkan menjadi bahasa musik yang unik dan orisinal? Apakah ada hubungan antara pengalaman imanen dengan kreativitas dan inovasi dalam musik?. . 2. Menjelajahi peran emosi dan perasaan dalam pengalaman imanen musisi. Bagaimana emosi dan perasaan ini dapat mempengaruhi persepsi dan interpretasi musisi terhadap musik? Apakah ada perbedaan antara pengalaman imanen yang didorong oleh emosi dan pengalaman imanen yang lebih rasional atau kognitif?. . 3. Meneliti bagaimana pengalaman imanen dalam musik dapat mempengaruhi pengalaman pendengar. Apakah pengalaman imanen musisi dapat ditransfer atau disampaikan kepada pendengar? Bagaimana pendengar dapat merasakan atau memahami pengalaman imanen ini? Apakah ada perbedaan antara pengalaman imanen musisi dan pengalaman imanen pendengar?.
| File size | 351.69 KB |
| Pages | 19 |
| Short Link | https://juris.id/p-3pM |
| Lookup Links | Google ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard |
| DMCA | Report |
Related /
APTISIAPTISI Studi ini bertujuan untuk memetakan literatur designpreneurship melalui analisis bibliometrik yang mengidentifikasi tren publikasi, tema dominan, dan aktorStudi ini bertujuan untuk memetakan literatur designpreneurship melalui analisis bibliometrik yang mengidentifikasi tren publikasi, tema dominan, dan aktor
STIPASSTIPAS Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan pendekatan deskriptif kualitatif, menelaah dokumen Gereja seperti Laudato si dan data sekunder lainnya.Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan pendekatan deskriptif kualitatif, menelaah dokumen Gereja seperti Laudato si dan data sekunder lainnya.
ISI YogyakartaISI Yogyakarta Adegan visual film menjadi dasar penciptaan musik yang berevolusi sesuai dinamika emosional setiap adegan. Dialog filosofis pappaseng diadaptasi menjadiAdegan visual film menjadi dasar penciptaan musik yang berevolusi sesuai dinamika emosional setiap adegan. Dialog filosofis pappaseng diadaptasi menjadi
STIPASSTIPAS 14. Kurangnya partisipasi umat Paroki Katedral Santa Maria Palangka Raya dalam bernyanyi. Tujuannya adalah melalui perayaan liturgi dan musik inkulturasi14. Kurangnya partisipasi umat Paroki Katedral Santa Maria Palangka Raya dalam bernyanyi. Tujuannya adalah melalui perayaan liturgi dan musik inkulturasi
STT ABDIELSTT ABDIEL 199) sesuai dengan teori Jamalus tentang bentuk komposisi musik. Analisis lagu ini menunjukkan penggunaan ritme dengan nilai not 1, ½, ¼, 1/8, melodi199) sesuai dengan teori Jamalus tentang bentuk komposisi musik. Analisis lagu ini menunjukkan penggunaan ritme dengan nilai not 1, ½, ¼, 1/8, melodi
ISI YogyakartaISI Yogyakarta Tradisi musik patrol GAMAN (Gerakan Anak Muda Anti Narkoba) Surabaya adalah salah satu seni yang tumbuh dari tradisi lokal. Penelitian ini bertujuan untukTradisi musik patrol GAMAN (Gerakan Anak Muda Anti Narkoba) Surabaya adalah salah satu seni yang tumbuh dari tradisi lokal. Penelitian ini bertujuan untuk
ISI YogyakartaISI Yogyakarta Dengan kriteria pengambilan keputusan bahwa jika nilai signifikansi sebesar < 0,05 maka, aktivitas latihan gamolan dan relasi sosial dinyatakan berkorelasiDengan kriteria pengambilan keputusan bahwa jika nilai signifikansi sebesar < 0,05 maka, aktivitas latihan gamolan dan relasi sosial dinyatakan berkorelasi
ISI YogyakartaISI Yogyakarta Proses apropriasi musik gamat terjadi dalam bentuk multi kultural secara kompleks dalam perwujudan budaya masyarakat Pesisir Minangkabau Sumatera Barat,Proses apropriasi musik gamat terjadi dalam bentuk multi kultural secara kompleks dalam perwujudan budaya masyarakat Pesisir Minangkabau Sumatera Barat,
Useful /
UncenUncen Penelitian tentang karakterisasi isolat Bacillus thuringiensis Berliner yang dikumpulkan dari tanah dilakukan di Kampus UNCEN. Tujuan penelitian adalahPenelitian tentang karakterisasi isolat Bacillus thuringiensis Berliner yang dikumpulkan dari tanah dilakukan di Kampus UNCEN. Tujuan penelitian adalah
APTISIAPTISI Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan mengumpulkan data dari 383 pemilik UMKM batik di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwaPenelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan mengumpulkan data dari 383 pemilik UMKM batik di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
APTISIAPTISI Hasil empiris menunjukkan bahwa ensemble AutoML mengungguli model tradisional sebesar 22–41% dalam akurasi tetapi membutuhkan sumber daya komputasi sekitarHasil empiris menunjukkan bahwa ensemble AutoML mengungguli model tradisional sebesar 22–41% dalam akurasi tetapi membutuhkan sumber daya komputasi sekitar
ISI YogyakartaISI Yogyakarta Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat 10 ubit-ubitan yaitu nyendhok, bolak-balik nuduk, tulak wali, bolak-balik ngutang, nyalud, uber-uberan,Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat 10 ubit-ubitan yaitu nyendhok, bolak-balik nuduk, tulak wali, bolak-balik ngutang, nyalud, uber-uberan,