UPI YAIUPI YAI

IKRAITH-EKONOMIKAIKRAITH-EKONOMIKA

Melalui analisis naratif kualitatif terhadap film Invictus, penelitian ini menyelidiki signifikansi kecerdasan emosional dalam praktik kepemimpinan. Fokus kajian ini adalah pada karakter Nelson Mandela dan strateginya dalam memimpin rekonsiliasi pasca-apartheid di Afrika Selatan. Dengan memeriksa secara mendalam alur cerita, dialog, dan adegan-adegan kunci, penelitian ini mengidentifikasi bagaimana kompetensi emosional termasuk empati, kesadaran diri, regulasi emosi, dan keterampilan sosial berperan penting bagi keberhasilan Mandela dalam menavigasi konflik sosial yang kompleks. Temuan menunjukkan bahwa pendekatan kepemimpinan transformasional Mandela, yang berlandaskan pada prinsip pengampunan, rekonsiliasi, dan tujuan bersama, secara efektif mempersatukan bangsa yang terfragmentasi serta membangun perdamaian dan solidaritas nasional. Studi ini menyimpulkan bahwa kapasitas emosional adalah krusial bagi para pemimpin yang menghadapi dinamika konflik dan perubahan sosial, serta merekomendasikan agar pengembangan kecerdasan emosional diprioritaskan sebagai kompetensi inti untuk kepemimpinan yang efektif di semua tingkatan, baik organisasi maupun nasional.

Kajian ini sampai pada kesimpulan bahwa kecerdasan emosional berfungsi sebagai pilar esensial bagi kepemimpinan yang efektif, khususnya dalam menavigasi konflik dan transformasi sosial berskala besar seperti yang terjadi di Afrika Selatan pasca-apartheid.Analisis naratif terhadap film Invictus mengilustrasikan bagaimana Nelson Mandela secara strategis menerapkan empati, kesadaran diri, regulasi emosi, dan kecekatan interpersonal untuk memfasilitasi rekonsiliasi dan perdamaian di tengah bangsa yang terbelah.Pendekatan kepemimpinan Mandela yang berpusat pada rekonsiliasi, pengampunan, dan kolaborasi terbukti berhasil menurunkan eskalasi ketegangan sosial seraya memperkokoh solidaritas nasional.Gaya transformasional yang diusungnya menjadi bukti bahwa seorang pemimpin yang mampu mengintegrasikan visi strategis dengan kompetensi emosional dapat secara efektif menginspirasi dan memobilisasi masyarakat untuk meraih tujuan kolektif yang lebih unggul.

Berdasarkan hasil penelitian, disarankan agar pengembangan kecerdasan emosional menjadi prioritas dalam pelatihan kepemimpinan di berbagai tingkatan, baik organisasi maupun nasional. Pemahaman yang mendalam tentang kecerdasan emosional dapat membantu pemimpin dalam mengelola konflik dan perubahan sosial secara efektif. Selain itu, studi kasus Nelson Mandela dalam film Invictus dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran bagi pemimpin masa depan untuk memahami pentingnya empati, kesadaran diri, dan regulasi emosi dalam memimpin rekonsiliasi dan membangun perdamaian. Penelitian lanjutan dapat fokus pada implementasi praktis kecerdasan emosional dalam berbagai konteks kepemimpinan, termasuk dalam organisasi bisnis, pemerintahan, dan komunitas.

  1. Vol. 9 No. 2 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 | IKRAITH-EKONOMIKA. vol ikraith ekonomika... journals.upi-yai.ac.id/index.php/IKRAITH-EKONOMIKA/issue/view/244Vol 9 No 2 2026 IKRAITH EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 IKRAITH EKONOMIKA vol ikraith ekonomika journals upi yai ac index php IKRAITH EKONOMIKA issue view 244
  1. #pengembangan pendidikan#pengembangan pendidikan
  2. #dukungan organisasi#dukungan organisasi
Read online
File size1.31 MB
Pages11
Short Linkhttps://juris.id/p-3nX
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test