WIDYADHARMAWIDYADHARMA

BLESSBLESS

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas integrasi perangkat lunak fonetik berbasis AI dan platform pembelajaran yang digamifikasi dalam memperkuat kerangka kerja Science of Reading (SoR) di kalangan mahasiswa semester dua jurusan bahasa Inggris. Dengan menggunakan desain eksperimen kuasi kuantitatif dengan pendekatan Nonequivalent Control Group, penelitian ini melibatkan 70 mahasiswa semester genap di Fakultas Bahasa, Universitas Widya Dharma, Pontianak. Peserta dibagi secara merata menjadi kelompok eksperimen (n=35) yang menerima instruksi yang diperkuat teknologi menggunakan SpeechACE dan Quizizz, dan kelompok kontrol (n=35) yang menerima instruksi konvensional. Data dikumpulkan melalui pre-test dan post-test, lembar observasi, dan Skala Efikasi Diri yang Dimediasi Teknologi (TMSES) selama intervensi delapan minggu. Hasil menunjukkan bahwa kelompok eksperimen mencapai peningkatan rata-rata sebesar 22,17 poin, secara signifikan melebihi kelompok kontrol yang hanya mencapai peningkatan 9,35 poin. Uji t independen mengonfirmasi signifikansi perbedaan ini (t = 8,45, p < 0,001) dengan ukuran efek yang besar (Cohens d = 0,92). Temuan kualitatif mengungkapkan bahwa intervensi teknologi meningkatkan keterlibatan kelas dari 60% menjadi 85%, sambil mengurangi kecemasan dan meningkatkan efikasi diri melalui umpan balik digital pribadi dan instan. Kesimpulannya, instruksi yang dimediasi teknologi berfungsi sebagai alat pedagogis transformasional yang efektif dalam menjembatani gangguan L1, memvisualisasikan konsep fonemik abstrak, dan selaras dengan preferensi kognitif generasi digital. Penelitian ini merekomendasikan integrasi formal modul Computer-Assisted Language Learning (CALL) ke dalam kurikulum fakultas, dukungan infrastruktur institusional yang diperluas, dan penelitian longitudinal untuk menilai dampak jangka panjang.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa instruksi yang dimediasi teknologi terbukti secara fundamental lebih unggul daripada metode tradisional, berfungsi sebagai kebutuhan pedagogis daripada sekadar aksesori.Dengan kelompok eksperimen mencapai peningkatan rata-rata sebesar 22,17 poin dan menunjukkan ukuran efek yang besar (0,92), alat digital terbukti menjadi penyangga kognitif yang esensial.Dalam konteks Science of Reading, di mana mahasiswa harus menguasai konsep abstrak seperti pemetaan ortografik dan kesadaran fonemik, teknologi menyediakan masukan multisensorik visual, auditif, dan kinestetik yang tidak dapat ditiru oleh papan tulis dan buku teks.Selain metrik akademik, penelitian ini menekankan bagaimana teknologi mengatasi hambatan bahasa regional dan memupuk pemberdayaan psikologis.Perangkat lunak fonetik yang didukung AI muncul sebagai jembatan yang hilang bagi mahasiswa dari latar belakang yang beragam, memungkinkan mereka untuk melewati gangguan fonetik yang berat dari dialek Melayu, Dayak, atau Banjar dengan memvisualisasikan suara melalui gelombang digital dan grafik artikulasi.Pendekatan ini mencapai akurasi fonetik melalui fisika visual, melampaui keterbatasan metode mendengarkan dan mengulang yang tradisional.Secara bersamaan, teknologi berfungsi sebagai alat vital untuk regulasi emosional.dengan menyediakan jaring keselamatan psikologis melalui umpan balik pribadi dan instan, platform digital menurunkan Filter Afektif.Pergeseran ini meningkatkan tingkat keterlibatan dari 60% di kelompok kontrol menjadi 85% di kelompok eksperimen, menunjukkan bahwa ketika mahasiswa merasa diberdayakan dan tidak takut gagal secara publik, efikasi diri dan ketekunan akademik mereka meningkat secara eksponensial.

Berdasarkan hasil penelitian, berikut adalah saran penelitian lanjutan yang dapat dilakukan: Pertama, mengintegrasikan modul Computer-Assisted Language Learning (CALL) secara resmi ke dalam kurikulum mata kuliah Fonetik Dasar, Linguistik Umum, dan Morfo-Sintaks. Dengan mengadopsi model kelas terbalik, dosen dapat memaksimalkan waktu tatap muka dengan siswa, di mana siswa melakukan latihan fonetik dasar dan gamifikasi kosa kata melalui aplikasi di luar kelas, sementara waktu kelas digunakan untuk diagnosis literasi tingkat tinggi dan pemecahan masalah kolaboratif. Selain itu, universitas harus menyediakan pelatihan pengembangan profesional berkelanjutan untuk memastikan fakultas tetap lincah secara digital dan mampu memilih alat yang efektif sesuai dengan prinsip Science of Reading. Kedua, memperluas infrastruktur Wi-Fi di Fakultas Bahasa untuk mendukung pemrosesan AI secara real-time dan aplikasi yang membutuhkan bandwidth tinggi. Untuk menjembatani digital divide, universitas dapat mempertimbangkan skema pinjaman perangkat atau program tablet bersubsidi, memastikan bahwa mahasiswa dari latar belakang pedesaan atau berpenghasilan rendah tidak mengalami kerugian akademik akibat kekurangan perangkat keras. Selain itu, mendirikan Interactive Articulatory Lab yang dilengkapi dengan perangkat lunak khusus akan menyediakan pusat penting bagi calon guru untuk berlatih keterampilan diagnosis yang diperlukan untuk kelas mereka di masa depan. Ketiga, penelitian lanjutan dapat melakukan penilaian dampak longitudinal dengan mengikuti cohort semester dua hingga lulus dan memasuki karier mengajar awal mereka untuk menentukan apakah peningkatan dalam keahlian Science of Reading diterjemahkan menjadi hasil membaca yang lebih baik untuk siswa sekolah dasar. Lingkup penelitian juga dapat diperluas untuk mengeksplorasi bagaimana teknologi membantu dalam pelestarian atau pengajaran bahasa Indonesia lokal (L1) menggunakan kerangka kerja yang serupa. Akhirnya, penyelidik dapat mengeksplorasi frontier teknologi imersif berikutnya, khususnya Realitas Virtual dan Augmented Reality (VR/AR), untuk menilai apakah lingkungan tersebut dapat lebih mempercepat akuisisi terminologi linguistik kompleks dan keterampilan manajemen kelas untuk calon guru.

Read online
File size375 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test