MAN4KOTAPEKANBARUMAN4KOTAPEKANBARU

Takuana: Jurnal Pendidikan, Sains, dan HumanioraTakuana: Jurnal Pendidikan, Sains, dan Humaniora

Studi berbasis literatur ini mengkaji ulang konsolidasi politik, inovasi fiskal, dan reformasi administratif yang dicapai oleh Kekhalifahan Umayyah (661–750 M). Menggunakan pendekatan historiografi kualitatif, penelitian ini mensintesis kronik-kronik primer dan karya akademik terbaru untuk mengungkap tiga perkembangan kunci: (1) transformasi dari kekhalifahan elektif menjadi monarki herediter; (2) unifikasi ekonomi melalui Arabisasi mata uang dan birokrasi; serta (3) kantor administrasi berlapis yang membakukan perpajakan, keadilan, dan komunikasi di seluruh kekaisaran trans-regional. Temuan-temuan ini menunjukkan bagaimana sistem pemerintahan awal, kebijakan moneter, dan desain institusional di bawah Muawiyah, Abdul Malik, dan Umar II mendorong ekspansi yang belum pernah terjadi sebelumnya, namun secara bersamaan menanamkan kelemahan struktural yang mempercepat kemunduran. Artikel ini mengklarifikasi dua warisan kekhalifahan: prototipe pembangunan negara untuk entitas politik Muslim di kemudian hari dan pelajaran peringatan tentang kekuasaan terpusat; serta menyarankan jalur komparatif untuk penelitian tata kelola Islam di masa depan.

Dinasti Umayyah merupakan prototipe awal negara Islam yang berhasil menggabungkan dimensi politik, fiskal, dan administratif secara terorganisasi, dengan transformasi dari sistem musyawarah menjadi monarki herediter serta inovasi dalam birokrasi dan ekonomi.Namun, ekspansi fiskal tanpa diversifikasi sumber pendapatan dan pengeluaran rutin yang tinggi menyebabkan defisit struktural dan gejala imperial overstretch, diperparah oleh ketidakseimbangan fiskal serta ketergantungan pada patronase etno-politik.Kegagalan Dinasti Umayyah dalam beradaptasi dan responsif terhadap perubahan sosial-politik menegaskan bahwa keberlangsungan kekuasaan negara modern sangat bergantung pada keseimbangan legitimasi ideologis, kapasitas fiskal, dan birokrasi yang adaptif.

Untuk memperkaya pemahaman tentang Dinasti Umayyah dan pelajaran yang dapat diambil, ada beberapa arah penelitian lanjutan yang menarik dan relevan. Pertama, akan sangat berharga jika studi ke depan tidak hanya mengandalkan literatur, tetapi juga mengintegrasikan analisis kuantitatif dan bukti arkeologis. Misalnya, penggalian situs-situs kuno Dinasti Umayyah dapat memberikan data konkret tentang pola perdagangan, produksi pertanian, dan arsitektur administratif, yang memungkinkan kita untuk menguji hipotesis tentang efisiensi fiskal dan distribusi kekayaan yang diuraikan dalam artikel ini. Bagaimana temuan artefak atau sisa-sisa bangunan dapat menjelaskan lebih jauh tentang dampak kebijakan Arabisasi mata uang atau sistem perpajakan di tingkat lokal? Kedua, penelitian dapat memperdalam kesinambungan institusional antara Dinasti Umayyah dan Abbasiyah. Sebuah studi komparatif mengenai evolusi struktur fiskal, sistem patronase suku, dan pengembangan hukum administratif dari satu dinasti ke dinasti berikutnya akan mengungkap bagaimana fondasi Umayyah diteruskan, dimodifikasi, atau bahkan ditolak oleh Abbasiyah, serta implikasinya terhadap tata kelola negara Islam selanjutnya. Terakhir, mengingat artikel ini menyoroti imperial overstretch dan kegagalan Umayyah beradaptasi dengan perubahan sosial-politik, penelitian komparatif dengan kekaisaran pra-modern lainnya dapat memberikan wawasan baru. Mengidentifikasi faktor-faktor universal atau spesifik yang membuat suatu kekaisaran berhasil atau gagal dalam mengelola ekspansi wilayah dan keragaman internal dapat membantu kita memahami lebih baik dinamika kekuatan dan kerapuhan negara-negara besar dalam sejarah.

  1. Dinamika politik, ekonomi, dan administrasi Dinasti Umayyah | Takuana: Jurnal Pendidikan, Sains, dan... doi.org/10.56113/takuana.v4i1.129Dinamika politik ekonomi dan administrasi Dinasti Umayyah Takuana Jurnal Pendidikan Sains dan doi 10 56113 takuana v4i1 129
Read online
File size590 KB
Pages15
DMCAReport

Related /

ads-block-test