BTPBTP

JURNAL MATA PARIWISATAJURNAL MATA PARIWISATA

Pengembangan Rempang Eco-City (REC) di Batam merupakan upaya strategis untuk mempromosikan pariwisata berkelanjutan dan pertumbuhan ekonomi regional. Penelitian ini mengeksplorasi kesenjangan antara konsep yang direncanakan dan implementasinya, khususnya dalam potensi pariwisata dan konflik sosial. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif dan analisis gap, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan tinjauan literatur, fokus pada empat aspek: kebijakan dan perencanaan, kondisi sosial, potensi ekonomi dan pariwisata, serta infrastruktur dan kesiapan lingkungan. Hasil menunjukkan kesenjangan signifikan di semua aspek. Pengembangan tetap dominan top-down dengan partisipasi masyarakat terbatas, sementara resistensi sosial menunjukkan isu hak dan inklusivitas yang belum terpecahkan. Meskipun memiliki potensi pariwisata kuat, progres terhambat oleh ketidakpastian dan konflik, serta infrastruktur masih tidak memadai. Penelitian menyimpulkan bahwa keberhasilan Rempang Eco-City bergantung pada integrasi inklusivitas sosial, keberlanjutan lingkungan, dan tata kelola partisipatif, didukung oleh pariwisata berbasis komunitas, infrastruktur yang ditingkatkan, dan kebijakan inklusif.

Pengembangan Rempang Eco-City memiliki potensi besar sebagai kawasan pariwisata berkelanjutan, namun masih menghadapi kesenjangan signifikan antara perencanaan dan implementasi.Gap utama terletak pada aspek kebijakan yang belum inklusif, konflik sosial akibat relokasi masyarakat, belum optimalnya pemanfaatan potensi pariwisata, infrastruktur dan kesiapan lingkungan.Keberhasilan Rempang Eco-City sangat ditentukan oleh kemampuan pemangku kepentingan dalam mengintegrasikan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan secara seimbang, dengan menempatkan masyarakat lokal sebagai bagian utama dalam proses pembangunan.

Penelitian lanjutan dapat fokus pada tiga arah: pertama, mengevaluasi dampak kebijakan partisipatif dalam mengurangi konflik sosial selama relokasi masyarakat, seperti membandingkan pendekatan dialog intensif dengan model relokasi tradisional. Kedua, mengkaji model pariwisata ekowisata berbasis komunitas di Rempang dengan mempertimbangkan kearifan lokal dan kebutuhan ekonomi masyarakat. Ketiga, menganalisis kesiapan infrastruktur ramah lingkungan untuk mendukung konsep eco-city, termasuk pengelolaan limbah dan aksesibilitas transportasi. Penelitian ini juga bisa mempelajari keterkaitan antara kebijakan nasional dan lokal dalam pembangunan kawasan strategis, serta mengeksplorasi peran perusahaan swasta dalam mendukung keberlanjutan sosial dan lingkungan. Pendekatan ini akan memberikan wawasan baru tentang keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, perlindungan hak masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan dalam pengembangan kawasan pariwisata.

  1. Gap Analysis of the Implementation of the 7a Concept in Tourism on Bangka Island | Atlantis Press. gap... doi.org/10.2991/978-94-6463-974-2_11Gap Analysis of the Implementation of the 7a Concept in Tourism on Bangka Island Atlantis Press gap doi 10 2991 978 94 6463 974 2 11
  2. Indonesia-Singapore Cross Border Tourism Facts | Atlantis Press. singapore cross border tourism facts... atlantis-press.com/proceedings/intact-22/125980258Indonesia Singapore Cross Border Tourism Facts Atlantis Press singapore cross border tourism facts atlantis press proceedings intact 22 125980258
Read online
File size408.72 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test