ORLIORLI

Oto Rhino Laryngologica IndonesianaOto Rhino Laryngologica Indonesiana

Latar belakang: Anomali celah brankial pertama (ACBP) adalah entitas klinis yang jarang terjadi pada area kepala dan leher. Insiden yang rendah dan manifestasi yang bervariasi sering mengakibatkan kesalahan diagnosis dan penatalaksanaan yang tidak tepat. Diagnosis yang akurat sangat penting untuk penatalaksanaan yang tepat, sementara diagnosis yang salah seringkali menyebabkan penatalaksanaan yang tidak adekuat. Pemahaman yang baik tentang anatomi dan embriologi dapat mengarahkan pada diagnosis dini, dan dengan demikian penatalaksanaan ACBP menjadi efektif. Tujuan: Untuk menyajikan langkah diagnosis dan manajemen ACBP. Laporan kasus: Seorang anak perempuan berusia 6 tahun dengan FBCA, yang memiliki riwayat pembengkakan dan keluarnya cairan berulang dari fistula di daerah infra-auricular. Eksisi lengkap fistula telah dilakukan tanpa komplikasi pada saraf wajah. Pertanyaan klinis: Pencitraan apa yang tepat untuk diagnosis ACBP? Tinjauan literatur: Dilakukan metode scoping review untuk mengidentifikasi bukti ilmiah tentang pilihan pencitraan untuk diagnosis ACBP. Dilakukan pencarian literatur melalui PubMed, Embase, Proquest, dan Web of Science, menggunakan kata kunci first branchial cleft, anomaly, dan imaging. Hasil: Ditemukan 3 artikel yang sesuai dengan topik pencitraan untuk diagnosis ACBP. Kesimpulan: Diagnosis ACBP yang tepat membuat tatalaksana ACBP menjadi tepat, dengan hasil yang baik. Pencitraan dapat memberikan gambaran anatomi dari anomali arkus brankial, yang akan sangat membantu dalam perencanaan pra operasi dalam menentukan pendekatan bedah definitif. Manajemen ACBP yang dini dan tepat bisa mengurangi tingkat kekambuhan secara signifikan.

Diagnosis ACBP yang tepat membuat tatalaksana ACBP menjadi tepat, dengan hasil yang baik.Pencitraan dapat memberikan gambaran anatomi dari anomali arkus brankial, yang akan sangat membantu dalam perencanaan pra operasi dalam menentukan pendekatan bedah definitif.Manajemen ACBP yang dini dan tepat bisa mengurangi tingkat kekambuhan secara signifikan.

Penelitian lanjutan dapat fokus pada pengembangan teknik pencitraan non-invasif untuk anak-anak dengan ACBP, seperti ultrasonografi atau pencitraan MRI dengan dosis radiasi minimal. Selain itu, penelitian tentang efektivitas pendekatan bedah berbeda untuk jenis ACBP (misalnya, tipe 1 vs. tipe 2) dalam mengurangi risiko komplikasi saraf wajah juga relevan. Terakhir, studi tentang hubungan antara faktor genetik atau lingkungan dengan insiden ACBP dapat membantu memahami penyebab dasar dan meningkatkan strategi diagnosis dini.

Read online
File size626.69 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test