UIN SUSKAUIN SUSKA

Jurnal AgroteknologiJurnal Agroteknologi

Fruit flies (Bactrocera spp.) merupakan kelompok hama tanaman yang dapat menyebabkan kerugian baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Pemanfaatan pestisida kimia serta keterbatasan ketersediaan Metil Eugenol terus menjadi tantangan signifikan dalam pertanian. Ketersediaan melada secara melimpah memberikan peluang pengembangan atraktan biologis yang ekonomis dan ramah lingkungan. Teknologi enkapsulasi berbasis Maltodextrin dan Gum Arabic (MD‑GA) yang diformulasi dengan simplisia bubuk daun melada pada formulasi F1 (02:10), F2 (05:10), F3 (10:10), dan F4 (12:10) digunakan untuk meningkatkan ketahanan pelepasan perlahan senyawa volatil. Kandungan minyak permukaan keempat formulasi berkisar antara 0,3 % hingga 9,6 %. Nilai efisiensi enkapsulasi masing‑masing formulasi berada pada rentang 70 %–85 %. Nilai kapasitas pemuatan berada pada rentang 0,7 %–1,3 %. Nilai yield karakteristik mikrokapsul berkisar antara 63 %–82 %. Analisis morfologi menunjukkan penurunan jumlah partikel seiring kombinasi formulasi perlakuan. Ukuran mikrokapsul keempat formulasi berada dalam rentang 201,2 µm–252,6 µm. Efektivitas atraktan yang dihasilkan dapat menarik 19‑185 lalat buah. Keanekaragaman populasi lalat buah yang didapat meliputi spesies Bactrocera umbrosa dan Bactrocera melastomatos. Nilai total formulasi terbaik untuk keempat perlakuan berada pada rentang 0,3 %‑0,5 %. Optimasi aplikasi atraktan biologis dengan potensi pengembangan tinggi terletak pada formulasi enkapsulasi F3 dan F4.

Formulasi enkapsulasi simplisia bubuk daun Melada dengan Maltodextrin dan Gum Arabic yang paling efektif dalam meningkatkan ketahanan slow‑release senyawa volatil dan memikat lalat buah adalah F3 (rasio 10.Meskipun F3 memberikan efektivitas yang setara, F4 dipilih sebagai pilihan optimal untuk aplikasi atraktan biologis yang maksimal.Penelitian ini masih terbatas pada uji pada cabai dan belum melakukan analisis biaya‑manfaat, sehingga diperlukan studi lanjutan untuk menguji efektivitas pada tanaman lain serta evaluasi ekonomi.

Penelitian lanjutan dapat menguji efektivitas formulasi enkapsulasi F3 dan F4 pada tanaman hortikultura selain cabai, seperti tomat, mangga, atau stroberi, untuk mengetahui apakah atraktan biologis melada tetap mampu menarik lalat buah secara konsisten di berbagai inang tanaman. Selain itu, studi ekonomi yang membandingkan biaya produksi dan manfaat agrikultural antara atraktan melada terenkapsulasi dengan pestisida sintetis maupun Metil Eugenol dapat memberikan gambaran kelayakan komersial teknologi ini. Selanjutnya, dilakukan penelitian untuk memvariasikan rasio Maltodextrin‑Gum Arabic serta ukuran partikel mikrokapsul secara sistematis, sehingga dapat diidentifikasi kombinasi optimal yang memaksimalkan efisiensi enkapsulasi, kapasitas pemuatan, dan durasi pelepasan senyawa volatil dalam kondisi iklim tropis yang berfluktuasi. Penelitian tersebut sebaiknya dilaksanakan dalam skala lapangan selama minimal tiga bulan untuk memantau pengaruh cuaca, degradasi senyawa, dan perubahan populasi spesies Bactrocera. Hasilnya diharapkan dapat memberikan rekomendasi praktis bagi petani serta dasar ilmiah bagi pengembangan produk atraktan melada yang berkelanjutan. Dengan mengintegrasikan data agronomi, ekonomi, dan karakterisasi mikrokapsul, penelitian ini dapat menjawab pertanyaan apakah atraktan melada dapat menggantikan pestisida kimia secara efektif dan ramah lingkungan. Selain itu, evaluasi dampak lingkungan seperti residu non‑target pada tanah dan air harus disertakan untuk memastikan keamanan ekosistem. Secara keseluruhan, tiga arah studi tersebut akan memperluas pengetahuan tentang aplikasi atraktan melada dan mempercepat adopsi teknologi pengendalian hama yang berkelanjutan.

Read online
File size331.97 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test