LPPMDIANHUSADALPPMDIANHUSADA

Jurnal Keperawatan dan KebidananJurnal Keperawatan dan Kebidanan

Permasalahan hipolaktasi atau produksi ASI yang kurang merupakan tantangan klinis yang sering dihadapi ibu nifas dan berpotensi menjadi faktor risiko kegagalan pemberian ASI eksklusif. Sebagai respons terhadap hal ini, pijat oksitosin muncul sebagai intervensi non-farmakologis yang menjanjikan, dengan mekanisme kerja berdasarkan prinsip fisiologis untuk merangsang milk ejection reflex melalui stimulasi pelepasan hormon oksitosin endogen. Penelitian ini dirancang secara kuantitatif dengan desain pre-eksperimental one group pretest-posttest untuk menguji pengaruh spesifik intervensi tersebut. Sebanyak 30 ibu nifas di TPMB Wilda Sitindaon dipilih sebagai sampel melalui purposive sampling dan menerima intervensi pijat oksitosin standar selama tiga hari berturut-turut. Pengukuran objektif menggunakan kuesioner produksi ASI yang divalidasi menunjukkan peningkatan skor mean yang signifikan dari 9,17 pada pretest menjadi 13,37 pada posttest. Analisis statistik non-parametrik menggunakan Uji Wilcoxon Signed Rank Test menghasilkan nilai p = 0,012, yang secara tegas menolak hipotesis nol (H0) pada tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil ini memberikan bukti statistik yang kuat bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara produksi ASI sebelum dan sesudah intervensi, sehingga hipotesis penelitian (H1) yang menyatakan adanya pengaruh pijat oksitosin dapat diterima. Temuan statistik yang signifikan tersebut mengindikasikan bahwa pijat oksitosin bukan hanya sekadar terapi pelengkap, tetapi merupakan intervensi yang efektif dalam konteks asuhan kebidanan di komunitas. Peningkatan skor produksi ASI yang melampaui titik tengah skala menuju kategori baik menggambarkan dampak klinis yang relevan. Konsistensi hasil ini didukung oleh literatur sebelumnya yang juga menunjukkan efektivitas stimulasi taktil dalam meningkatkan volume dan kemudahan aliran ASI. Oleh karena itu, hasil penelitian ini memiliki implikasi praktis yang penting bagi praktik klinis bidan. Pijat oksitosin direkomendasikan untuk diintegrasikan ke dalam protokol standar asuhan nifas, khususnya bagi ibu yang menunjukkan tanda-tanda awal hipolaktasi. Implementasinya memerlukan pelatihan teknis yang memadai bagi tenaga kesehatan untuk memastikan teknik pijat yang benar, serta edukasi yang komprehensif bagi ibu dan keluarga untuk mendukung pelaksanaan mandiri yang rutin. Dengan demikian, intervensi sederhana ini dapat dioptimalkan sebagai salah satu strategi berbasis bukti untuk mengatasi hambatan laktasi dini, memperkuat kepercayaan diri ibu, dan pada akhirnya berkontribusi terhadap peningkatan capaian program ASI eksklusif di tingkat komunitas.

Berdasarkan analisis data, pijat oksitosin memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap peningkatan produksi ASI pada ibu nifas di TPMB Wilda Sitindaon, Jambi, dibuktikan dengan peningkatan skor rata-rata dari 9,17 menjadi 13,37 dan nilai p=0,012.Efektivitas intervensi ini optimal saat dilakukan secara rutin minimal tiga kali sehari, menghasilkan perbaikan kuantitatif dan pergeseran skor ke kategori baik.Oleh karena itu, pijat oksitosin terbukti sebagai intervensi non-farmakologis yang efektif, aman, dan mudah diaplikasikan, sangat direkomendasikan untuk diintegrasikan sebagai standar asuhan kebidanan postnatal guna mendukung keberhasilan program menyusui eksklusif.

Untuk memperkuat bukti ilmiah terkait pijat oksitosin, penelitian lanjutan perlu didesain dengan metodologi yang lebih kuat. Salah satu arah studi yang krusial adalah pelaksanaan uji klinis acak terkontrol (Randomized Controlled Trial/RCT) yang melibatkan kelompok pembanding yang memadai, misalnya kelompok yang menerima perawatan standar tanpa pijat oksitosin. Desain ini akan membantu memastikan bahwa peningkatan produksi ASI yang diamati benar-benar disebabkan oleh intervensi pijat oksitosin, bukan faktor lain yang tidak terkontrol. Selain itu, penting sekali untuk melampaui pengukuran subjektif melalui kuesioner dengan mengintegrasikan metode pengukuran yang lebih objektif. Studi mendatang dapat menyertakan pengukuran volume ASI yang dikeluarkan secara akurat, misalnya melalui penimbangan bayi sebelum dan sesudah menyusu (test weighing) atau pengukuran volume ASI perah. Lebih jauh lagi, penelitian dapat mengeksplorasi perubahan fisiologis pada ibu, seperti kadar hormon oksitosin dan prolaktin dalam serum, untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang mekanisme kerja pijat oksitosin secara biokimiawi. Studi juga sebaiknya berfokus pada pengidentifikasian protokol pijat oksitosin yang paling optimal, termasuk durasi, frekuensi, dan lokasi pijatan yang paling efektif, serta menelaah dampaknya terhadap tingkat keberhasilan ASI eksklusif jangka panjang dan status gizi bayi. Dengan demikian, kita dapat membangun rekomendasi berbasis bukti yang lebih kokoh, memastikan intervensi ini dapat diimplementasikan secara maksimal untuk kesehatan ibu dan anak.

  1. Efektifitas Pijat Oksitosin dalam Pengeluaran ASI | Jurnal Ilmu Keperawatan Maternitas. efektifitas pijat... Doi.Org/10.32584/Jikm.V5i1.1437Efektifitas Pijat Oksitosin dalam Pengeluaran ASI Jurnal Ilmu Keperawatan Maternitas efektifitas pijat Doi Org 10 32584 Jikm V5i1 1437
  2. Enhancing oxytocin and prolactin levels to address oligogalactia through emotional management and massage... narraj.org/main/article/view/963Enhancing oxytocin and prolactin levels to address oligogalactia through emotional management and massage narraj main article view 963
  3. Pijat Oksitosin dan Murrotal, Sebuah Kombinasi Relaksasi Fisik dan Spiritual untuk Meningkatkan Produksi... Doi.Org/10.33846/Sf16324Pijat Oksitosin dan Murrotal Sebuah Kombinasi Relaksasi Fisik dan Spiritual untuk Meningkatkan Produksi Doi Org 10 33846 Sf16324
Read online
File size685.76 KB
Pages15
DMCAReport

Related /

ads-block-test