POLIMEDIAPOLIMEDIA

Jurnal Ilmiah PublipreneurJurnal Ilmiah Publipreneur

Peningkatan mobilitas masyarakat berimbas pada meningkatnya kebutuhan produk minuman dalam kemasan. Dari data Aspadin (asosiasi perusahaan air minum dalam kemasan) ada lebih dari 1500 merk air minum dalam kemasan (AMDK) yang ada di Indonesia dan diperkirakan perdagangannya akan terus meningkat setiap tahunnya. Namun demikian margin keuntungan produk AMDK tidak tergolong tinggi, sehingga produsen harus melakukan efisiensi. Salah satu bentuk efisiensi yang dapat dilakukan adalah dengan mengurangi waste produksi kemasan, dimana sebagian besar kemasan AMDK berbahan dasar plastik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi beberapa cacat produk yang sering terjadi selama proses produksi kemasan air minum yang berbahan dasar PET. Proses pembuatan kemasan air minum berbahan dasar plastic terbagi menjadi 3 tahapan. Pertama membuat perform botol, kedua proses blow molding yakni proses pembuatan kemasan utuh dari preform, dan ketiga adalah proses pembuatan tutup. Mesin yang digunakan dalam tahapan-tahapan tersebut berbeda dan dalam setiap tahapannya berhasil di klasifikasikan jenis cacat produknya. Pada tahap pembuatan perform ditemukan jenis cacat black specks atau contaminant, short shot, bubble dan flash. Pada tahap pembuatan botol utuh meliputi, off center base, gagal blowing, timbul gelang, rough parting line. Terakhir adalah cacat pada proses pembuatan tutup meliputi kelebihan material (flash) & Short shot, ring putus, centergate berlubang.

Dari uraian hasil dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa cacat produk kemasan botol AMDK berbahan dasar PET dapat di klasifikasikan kedalam tiga kategori, yakni, pertama adalah pada preform yang meliputi black specks/contaminant, short shot, bubble dan flash.Kedua, cacat pada saat proses pembuatan botol yang meliputi, off center base, gagal blowing, timbul gelang dan rough parting line.Terakhir merupakan cacat pada tutup botol yang meliputi flash dan short shot yang berup aring putus dan centergate berlubang.

Penelitian ini telah berhasil mengidentifikasi berbagai jenis cacat pada kemasan air minum berbahan dasar PET dan HDPE, yang menjadi langkah awal penting dalam upaya efisiensi produksi. Untuk pengembangan selanjutnya, ada beberapa arah penelitian lanjutan yang menarik dan relevan. Pertama, sebuah studi di masa depan dapat berfokus pada kuantifikasi secara sistematis frekuensi kemunculan setiap jenis cacat produk yang telah teridentifikasi, seperti bintik hitam, botol gagal tiup, atau tutup ring putus, di lini produksi nyata. Dengan data kuantitatif ini, kita dapat melakukan analisis biaya secara mendalam untuk memahami dampak ekonomi riil dari setiap jenis cacat, memberikan gambaran komprehensif tentang seberapa besar kerugian akibat produk cacat dan potensi penghematan yang bisa dicapai melalui perbaikan. Kedua, sangat penting untuk melanjutkan penelitian dengan melakukan eksplorasi akar penyebab timbulnya cacat-cacat dominan secara lebih mendalam. Ini bukan hanya sekadar mengidentifikasi penyebab umum seperti overheating atau kurangnya tekanan, tetapi juga merancang dan menguji penyesuaian parameter mesin yang spesifik, misalnya suhu injeksi, tekanan, atau waktu siklus, melalui eksperimen terkontrol untuk menemukan solusi pencegahan yang paling efektif. Terakhir, mengingat pentingnya keberlanjutan, penelitian dapat menyelidiki dampak penggunaan proporsi material daur ulang (RPET) yang bervariasi pada tingkat kecacatan produk, atau bahkan mengeksplorasi material alternatif yang lebih ramah lingkungan. Hal ini akan mencakup analisis bagaimana perubahan formulasi material memengaruhi sifat mekanik botol dan tutup, serta bagaimana hal tersebut memengaruhi jumlah cacat yang muncul selama proses produksi. Dengan demikian, kita dapat menghasilkan kemasan yang tidak hanya berkualitas tinggi tetapi juga lebih berkelanjutan.

Read online
File size604.89 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test