ASIAASIA

RISTANSI: Riset AkuntansiRISTANSI: Riset Akuntansi

Penelitian bertujuan mengkaji dampak kepemilikan dan perusahaan, keberadaan dewan komisaris, independensi, komite audit, serta pengungkapan pengendalian internal pada sektor perbankan. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif melalui literature review, dengan menganalisis sepuluh artikel terpilih dari Google Scholar. Hasil studi menunjukkan bahwa kepemilikan institusional, independensi dewan komisaris, dan efektivitas komite audit berkontribusi secara signifikan terhadap pengungkapan sistem pengendalian internal. Tingginya kepemilikan institusional mendorong akuntabilitas dan keterbukaan, sedangkan kepemilikan yang terpusat cenderung membatasi pengungkapan karena orientasi pada kepentingan jangka pendek. Dewan komisaris yang independen mendukung pengawasan yang lebih objektif dan mendorong keterbukaan informasi, sedangkan rendahnya independensi dapat menimbulkan konflik kepentingan. Komite audit yang menjalankan fungsinya secara optimal mampu meningkatkan pengawasan sistem pengendalian internal, sedangkan komite yang tidak efektif cenderung melemahkan transparansi karena lemahnya pengawasan.

Analisis terhadap sepuluh karya ilmiah kuantitatif yang memanfaatkan metode regresi linier berganda, regresi data panel, serta pendekatan studi komparatif mengungkapkan bahwa keterkaitan antara praktik tata kelola perusahaan dan pengungkapan pengendalian internal menunjukkan hasil yang bervariasi.Temuan baru dari kajian literatur ini menunjukkan bahwa tidak semua mekanisme Good Corporate Governance (GCG) memiliki pengaruh yang konsisten terhadap pengungkapan internal control disclosure (ICD).Kepemilikan institusional dalam sejumlah studi berperan dalam mendorong peningkatan efisiensi dan transparansi, karena investor institusi umumnya memiliki kepentingan terhadap kesinambungan dan akuntabilitas operasional perusahaan.Beberapa studi mendukung perannya dalam mendorong efisiensi dan keterbukaan, terutama ketika investor institusional memiliki orientasi jangka panjang.Namun dalam konteks konsentrasi kepemilikan dalam tingkat yang tinggi atau orientasi investor lebih fokus pada jangka pendek pengaruhnya justru berpotensi menurunkan efektivitas fungsi pengawasan akibat dominasi kekuasaan oleh satu pihak tertentu.Hal ini menyoroti pentingnya memperhatikan motif dan karakteristik investor institusional, bukan hanya tingkat kepemilikannya.Peran dewan komisaris yang bersifat independen berkontribusi pada peningkatan kualitas pengungkapan melalui pengawasan yang bersifat objektif serta tidak terpengaruh oleh kepentingan internal.Tetapi efektivitasnya sangat ditentukan oleh kapabilitas dan keterlibatan aktif dewan, bukan semata status independensinya.Ketidaksepakatan yang timbul di antara anggota dewan dalam situasi tertentu dapat menjadi hambatan dalam proses pengambilan keputusan.Temuan ini menguatkan bahwa simbolisme independensi tanpa fungsi pengawasan aktif hanya memberikan nilai formalistik, bukan substantif.Keberadaan komite audit pada sebagian kasus mampu meningkatkan keandalan sistem pengendalian internal dan mutu laporan keuangan, namun efektivitas fungsi tersebut cenderung menurun apabila komite tidak didukung oleh kompetensi profesional maupun kewenangan yang jelas.Hal ini menjadi temuan penting yang menunjukkan bahwa struktur formal dalam GCG belum tentu efektif jika tidak ditunjang oleh pelaksanaan fungsional yang berkualitas.Dengan demikian, temuan penting dari penelitian ini bukan hanya pada konfirmasi terhadap hubungan antara GCG dan ICD, melainkan pada kondisionalitas efektivitas masing-masing mekanisme GCG, yang sangat dipengaruhi oleh implementasi teknis dan karakteristik internal perusahaan.Studi ini menyarankan perlunya evaluasi tidak hanya pada struktur GCG yang dimiliki perusahaan, tetapi juga pada cara kerja aktual, kompetensi, dan independensi substansial dari setiap elemen pengawasan.Kontribusi literatur ini memperkaya pemahaman bahwa kualitas pengungkapan pengendalian internal sangat bergantung pada praktik nyata tata kelola perusahaan yang dijalankan, bukan hanya keberadaan formal mekanisme GCG dalam struktur organisasi.

Berdasarkan temuan penelitian ini, ada beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat dipertimbangkan. Pertama, perlu dilakukan studi empiris yang lebih mendalam untuk menguji pengaruh kepemilikan institusional terhadap pengungkapan pengendalian internal, terutama dalam konteks konsentrasi kepemilikan yang tinggi. Studi ini dapat mengeksplorasi bagaimana kepemilikan institusional yang tersebar luas dapat menciptakan tekanan untuk keterbukaan informasi, dan bagaimana hal ini dapat dioptimalkan untuk meningkatkan transparansi. Kedua, penelitian selanjutnya dapat fokus pada peran dewan komisaris yang independen dalam meningkatkan kualitas pengungkapan. Studi ini dapat menyelidiki bagaimana independensi dewan komisaris dapat dioptimalkan untuk memastikan pengawasan yang objektif dan efektif, serta bagaimana hal ini dapat diintegrasikan dengan praktik nyata tata kelola perusahaan. Ketiga, penelitian lanjutan dapat mengkaji lebih lanjut efektivitas komite audit dalam meningkatkan transparansi pengendalian internal. Studi ini dapat mengeksplorasi bagaimana kompetensi profesional dan kewenangan yang jelas dapat meningkatkan efektivitas komite audit, serta bagaimana hal ini dapat diintegrasikan dengan struktur formal GCG dalam organisasi.

  1. PENGARUH ASIMETRI INFORMASI, KUALITAS AUDIT, KOMITE AUDIT DAN UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP MANAJEMEN LABA... jurnal.stie.asia.ac.id/index.php/ristansi/article/view/1844PENGARUH ASIMETRI INFORMASI KUALITAS AUDIT KOMITE AUDIT DAN UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP MANAJEMEN LABA jurnal stie asia ac index php ristansi article view 1844
  2. DAMPAK MEKANISME GOOD CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP KETERBUKAAN SISTEM PENGENDALIAN INTERNAL PADA PERUSAHAAN... doi.org/10.32815/ristansi.v6i2.2676DAMPAK MEKANISME GOOD CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP KETERBUKAAN SISTEM PENGENDALIAN INTERNAL PADA PERUSAHAAN doi 10 32815 ristansi v6i2 2676
Read online
File size800.91 KB
Pages15
DMCAReport

Related /

ads-block-test