UINSAUINSA

The Sunan Ampel Review of Political and Social SciencesThe Sunan Ampel Review of Political and Social Sciences

Studi ini membahas strategi negosiasi yang digunakan oleh Pemerintah Indonesia terhadap Pemerintah Singapura dalam pembentukan perjanjian ekstradisi. Perjanjian ekstradisi sangat krusial bagi Indonesia untuk dapat mengadili buronan yang melarikan diri ke Singapura karena kasus korupsi. Setelah puluhan tahun berdiskusi, perjanjian ekstradisi Indonesia dan Singapura akhirnya mencapai kesepakatan pada tahun 2022 di bawah kepemimpinan Joko Widodo dan Lee Hsien Loong, berkat prasyarat yang diberikan oleh kedua belah pihak. Studi kualitatif deskriptif ini menggunakan konsep strategi negosiasi kolaboratif (win-win) yang dikembangkan oleh Lewicki, Barry & Saunders. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa strategi negosiasi Indonesia yang digunakan selama kepemimpinan Presiden Joko Widodo adalah strategi negosiasi kolaboratif (win-win), ditunjukkan oleh fakta bahwa kedua belah pihak dapat mencapai kepentingan nasional yang diinginkan. Di satu sisi, Indonesia telah membentuk perjanjian ekstradisi, di samping Wilayah Informasi Penerbangan (FIR). Di sisi lain, Singapura juga telah membentuk Perjanjian Kerja Sama Pertahanan (DCA) sebagai prasyarat perjanjian ekstradisi, untuk dapat melakukan latihan militer di wilayah Indonesia. Sebagai kesimpulan, strategi negosiasi berhasil dilaksanakan oleh Indonesia, dibuktikan dengan penandatanganan perjanjian ekstradisi, yang kemudian diratifikasi oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa Indonesia berhasil menerapkan strategi negosiasi kolaboratif dalam pembentukan perjanjian ekstradisi dengan Singapura, menghasilkan solusi win-win bagi kedua belah pihak.Strategi ini dimulai dengan pemahaman Indonesia terhadap kebutuhan Singapura akan Perjanjian Kerja Sama Pertahanan (DCA) sebagai prasyarat, sekaligus menyampaikan kepentingannya terkait Wilayah Informasi Penerbangan (FIR) dan kekhawatiran dampak latihan militer pada masyarakat lokal.Oleh karena itu, solusi terbaik ditemukan melalui penandatanganan perjanjian ekstradisi secara bersamaan dengan DCA sebagai kepentingan Singapura dan FIR sebagai kepentingan Indonesia, yang memungkinkan pengawasan aktivitas penerbangan di wilayah latihan militer.

Penelitian ini telah memberikan wawasan berharga mengenai strategi negosiasi kolaboratif Indonesia dalam mencapai Perjanjian Ekstradisi dengan Singapura. Namun, untuk memperkaya pemahaman, ada beberapa arah penelitian lanjutan yang dapat dieksplorasi. Pertama, sangat penting untuk melakukan studi empiris mengenai *implementasi dan efektivitas riil* dari ketiga perjanjian yang telah ditandatangani—Perjanjian Ekstradisi, Perjanjian Kerja Sama Pertahanan (DCA), dan Pengaturan Wilayah Informasi Penerbangan (FIR). Penelitian lanjutan dapat menginvestigasi secara mendalam bagaimana perjanjian ekstradisi telah memengaruhi repatriasi buronan, mengukur dampak langsung latihan militer Singapura terhadap lingkungan dan mata pencarian masyarakat lokal di sekitar Kepulauan Riau dan Natuna, serta mengevaluasi sejauh mana penyesuaian FIR telah meningkatkan kedaulatan dan efisiensi kontrol lalu lintas udara Indonesia. Pertanyaan krusialnya adalah, apakah manfaat yang diharapkan telah terpenuhi, dan apakah ada konsekuensi yang tidak diantisipasi? Kedua, akan bermanfaat untuk melakukan *analisis komparatif* terhadap strategi negosiasi Indonesia dalam konteks perjanjian ekstradisi dengan negara-negara lain, untuk mengidentifikasi variabel-variabel kunci yang menentukan keberhasilan atau kegagalan. Studi ini dapat membandingkan apakah strategi win-win Lewicki, Barry & Saunders selalu menjadi pendekatan yang paling efektif, atau apakah faktor-faktor seperti kekuatan relatif, diplomasi pribadi, atau tekanan geopolitik memainkan peran yang lebih dominan dalam kasus lain. Ketiga, penelitian selanjutnya dapat menggali lebih dalam *perspektif internal Singapura* dalam negosiasi tripartit ini, dengan meneliti motivasi, prioritas, dan proses pengambilan keputusan mereka secara lebih rinci. Pemahaman yang lebih komprehensif dari sudut pandang mitra negosiasi akan memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai dinamika kompleks yang terlibat.

Read online
File size284.19 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test