PELITABANGSAPELITABANGSA

Prosiding Sains dan TeknologiProsiding Sains dan Teknologi

Kenyamanan termal merupakan aspek penting dalam perancangan rumah tinggal di wilayah beriklim tropis, di mana suhu lingkungan yang tinggi sering menurunkan kualitas kenyamanan ruang dalam dan meningkatkan ketergantungan terhadap pendingin mekanis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi termal ruang dalam bangunan rumah tinggal serta merumuskan rekomendasi desain adaptif berbasis strategi pasif. Studi dilakukan pada dua rumah tinggal dengan konfigurasi denah yang berbeda untuk mengidentifikasi pengaruh tata ruang terhadap distribusi suhu udara dalam ruang. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif melalui pengukuran langsung suhu udara ruang, yang selanjutnya dianalisis secara spasial berdasarkan orientasi ruang, susunan denah, serta pola ventilasi alami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rumah 1 memiliki kinerja termal yang lebih baik dengan rentang suhu antara 28,3°C hingga 30,0°C, sedangkan Rumah 2 mencatat suhu yang lebih tinggi, yaitu antara 29,1°C hingga 32,0°C. Perbedaan ini dipengaruhi oleh efektivitas ventilasi silang, konfigurasi ruang, dan posisi ketinggian bukaan. Berdasarkan hasil tersebut, disusun rekomendasi desain fasad adaptif melalui pemilihan material yang sesuai iklim tropis serta peningkatan ketinggian ventilasi untuk mempercepat pelepasan udara panas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan desain pasif yang responsif terhadap iklim mampu meningkatkan kenyamanan termal rumah tinggal secara terukur tanpa ketergantungan pada sistem pendingin buatan.

Berdasarkan seluruh rangkaian analisis yang telah dilakukan, penelitian ini menunjukkan bahwa perbedaan konfigurasi denah, orientasi bangunan, serta strategi ventilasi memiliki pengaruh nyata terhadap kinerja termal hunian.Hasil pengukuran suhu ruang memperlihatkan bahwa Rumah 1 memiliki rentang suhu yang lebih rendah dan stabil dibandingkan Rumah 2, dengan suhu tertinggi mencapai 30,0°C dan suhu terendah 28,3°C, sedangkan Rumah 2 mencatat suhu tertinggi 32,0°C dan suhu terendah 29,1°C.Kondisi tersebut menegaskan bahwa denah Rumah 1 lebih efektif dalam mereduksi akumulasi panas, terutama melalui pengaturan ruang, bukaan, dan potensi aliran udara.Temuan ini kemudian menjadi dasar dalam perumusan rekomendasi desain adaptif, khususnya pada fasad dan sistem ventilasi, termasuk penyesuaian ketinggian ventilasi untuk mempercepat pembuangan udara panas.Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan strategi desain pasif yang responsif terhadap iklim lokal mampu meningkatkan kenyamanan termal ruang hunian secara terukur tanpa ketergantungan pada sistem pendingin mekanis.

Berdasarkan hasil penelitian, terdapat beberapa arah studi lanjutan yang dapat dilakukan untuk memperdalam pemahaman mengenai desain adaptif rumah tinggal di iklim tropis. Pertama, penelitian dapat difokuskan pada pengujian efektivitas berbagai material atap dengan karakteristik termal yang berbeda terhadap penurunan suhu ruang, dengan mempertimbangkan biaya dan ketersediaan material di wilayah studi. Kedua, perlu dilakukan studi komparatif antara strategi ventilasi alami dengan sistem pendingin pasif lainnya, seperti penggunaan vegetasi atau dinding hijau, untuk mengidentifikasi kombinasi yang paling efektif dalam meningkatkan kenyamanan termal dan mengurangi konsumsi energi. Ketiga, penelitian dapat mengkaji pengaruh perilaku penghuni terhadap kinerja termal bangunan, termasuk kebiasaan membuka dan menutup bukaan, serta penggunaan peralatan elektronik, untuk mengembangkan rekomendasi desain yang lebih personal dan adaptif terhadap kebutuhan penghuni.

Read online
File size848.78 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test