FISIP UNMULFISIP UNMUL

Progress in Social DevelopmentProgress in Social Development

Program Asa Bergending merupakan inovasi sosial yang dirancang untuk memberdayakan perempuan penyintas kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Kelurahan Gending, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik. Mengadopsi kerangka kerja enam tahap inovasi sosial, program ini dimulai dengan pemetaan sosial yang mengidentifikasi 30 perempuan penyintas KDRT yang mengalami penurunan rasa percaya diri dan isolasi sosial. Program ini kemudian mengembangkan berbagai inisiatif pemberdayaan yang terintegrasi, seperti pelatihan keterampilan, pengelolaan bank sampah, dan pendirian UMKM, yang difokuskan pada peningkatan kesejahteraan ekonomi dan ketahanan keluarga. Pada tahap implementasi, program ini berhasil mendirikan 1 Bank Sampah Induk dan 12 Bank Sampah Unit, mendukung legalitas 64 UMKM, serta melakukan revitalisasi lahan-lahan non-produktif menjadi kebun pangan lokal (Bungalo). Dengan pendekatan partisipatif, Program Asa Bergending menciptakan dampak signifikan, termasuk peningkatan partisipasi sosial dan ekonomi penyintas KDRT, peningkatan kesadaran masyarakat terhadap isu KDRT, dan pengelolaan lingkungan yang lebih baik. Program ini tidak hanya menciptakan perubahan sistemik di Kelurahan Gending, tetapi juga menjadi model pemberdayaan perempuan dan pelestarian lingkungan yang berkelanjutan.

Program Asa Bergending telah membuktikan bahwa inovasi sosial dapat menjadi katalis perubahan signifikan bagi perempuan penyintas KDRT melalui pendekatan komprehensif dan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan.Program ini berhasil meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosial, memperkuat kohesi sosial, serta menciptakan kawasan ramah perempuan, anak, dan lingkungan.Keberhasilan program ini berpotensi menjadi model percontohan di wilayah lain dengan pengembangan menjadi Pusat Pembelajaran Komunitas Gending.

Pertama, perlu dilakukan penelitian untuk mengevaluasi dampak jangka panjang Program Asa Bergending terhadap penurunan angka kekerasan dalam rumah tangga di Kelurahan Gending, dengan fokus pada perubahan perilaku laki-laki dalam keluarga dan peningkatan rasa aman perempuan. Kedua, perlu dikaji efektivitas model koperasi ASA BERGENDING dalam menjamin keberlanjutan ekonomi penyintas KDRT, termasuk tantangan internal seperti manajemen usaha dan distribusi keuntungan, agar dapat direplikasi dengan penyesuaian lokal. Ketiga, perlu dikembangkan studi tentang integrasi program lingkungan berbasis masyarakat, seperti Bungalo dan bank sampah, dengan program kesehatan mental dan pemulihan trauma, untuk melihat apakah aktivitas ekologis berkontribusi langsung pada pemulihan psikologis penyintas KDRT. Penelitian-penelitian ini dapat membuka jalan bagi desain intervensi yang lebih holistik, menghubungkan pemberdayaan ekonomi, kelestarian lingkungan, dan kesehatan psikosial dalam konteks pengentasan KDRT. Selain itu, penting untuk mengeksplorasi bagaimana peran teknologi, seperti IoT dalam kumbung jamur, dapat ditingkatkan untuk memperkuat ketahanan usaha mikro penyintas di tengah perubahan iklim. Studi juga bisa menguji replikasi program di komunitas dengan karakteristik berbeda, seperti daerah pesisir atau perkotaan padat, untuk memahami faktor adaptasi yang diperlukan. Dengan demikian, penelitian lanjutan dapat memperkuat bukti dampak dan memperluas relevansi model ini secara nasional. Penelitian tentang motivasi partisipasi laki-laki dalam program ini juga penting untuk mengetahui cara mendorong keterlibatan laki-laki sebagai agen perubahan. Eksplorasi terhadap pendanaan berkelanjutan melalui skema sosial enterprise dari hasil bank sampah atau produk UMKM perlu dikaji agar program tidak bergantung pada CSR perusahaan. Terakhir, studi tentang dinamika kelompok dalam proses transformasi dari komunitas penyintas menjadi koperasi dapat memberikan insight penting dalam penguatan modal sosial. Semua arah penelitian ini bertujuan untuk memperdalam dan memperluas dampak model inovasi sosial ASA BERGENDING.

Read online
File size230.42 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test