LAAROIBALAAROIBA

Reslaj : Religion Education Social Laa Roiba JournalReslaj : Religion Education Social Laa Roiba Journal

Konsep collaborative governance menjelaskan bahwa pada dasarnya kebutuhan untuk berkolaborasi muncul dari adanya hubungan saling ketergantungan antar pihak. Keberhasilan proses pengembangan wisata tidak lepas dari adanya keterikatan antara stakeholders. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mendeskripsikan bagaimana collaborative governance dalam proses pengembangan wisata waduk Bendo. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif danteknik pengumpulan data menggunakan studi lapangan yang dilakukan secara langsung terjun ke lokasi penelitian melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan teori yang dikemukakan (Ratner,2012) yaitu : Identifying Obstacles and Opportunities, Debating Strategies For Influence, Planning Collaborative Action dan disempurnakan dengan kriteria keberhasilan(Goldsmith dan Kelttl, 2009:135-136).

Kolaborasi tata kelola dalam pengembangan wisata Waduk Bendo belum optimal karena belum adanya regulasi tertulis yang mengikat, kurangnya komitmen stakeholder, keterbatasan sumber daya manusia, dan minimnya anggaran untuk infrastruktur.Analisis terhadap delapan faktor keberhasilan kolaborasi menunjukkan bahwa kekurangan tersebut menghambat pencapaian tujuan bersama.Oleh karena itu, diperlukan peningkatan sosialisasi kesadaran wisata, pembinaan POKDARWIS, restrukturisasi pengelolaan wisata, peningkatan sumber daya manusia, serta alokasi anggaran khusus untuk mendukung pengembangan berkelanjutan.

Penelitian lanjutan dapat mengeksplorasi bagaimana pembuatan perjanjian kolaboratif formal antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta dapat meningkatkan komitmen stakeholder dalam pengembangan wisata Waduk Bendo; selanjutnya, studi empiris tentang efektivitas program peningkatan kapasitas bagi pelaku pariwisata lokal, khususnya POKDARWIS, dapat menilai dampaknya terhadap kualitas layanan dan kepuasan wisatawan; terakhir, pengembangan model pembiayaan berkelanjutan berbasis kemitraan publik‑swasta untuk infrastruktur wisata perlu dirancang dan diuji coba guna menjawab keterbatasan dana serta memastikan pemeliharaan fasilitas jangka panjang.

  1. COLLABORATIVE GOVERNANCE DALAM PENGEMBANGAN OBYEK WISATA HUTAN BAMBU KEPUTIH DI KOTA SURABAYA | Hariyoko... jurnal.unitri.ac.id/index.php/reformasi/article/view/3876COLLABORATIVE GOVERNANCE DALAM PENGEMBANGAN OBYEK WISATA HUTAN BAMBU KEPUTIH DI KOTA SURABAYA Hariyoko jurnal unitri ac index php reformasi article view 3876
Read online
File size383.52 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test