UNPADUNPAD

Pharmacology and Clinical Pharmacy ResearchPharmacology and Clinical Pharmacy Research

Reaksi Obat yang Tidak Diinginkan (ADR) merupakan respons obat yang tidak diinginkan dan tidak terduga. Penyakit infeksi menjadi perhatian utama dalam bidang kesehatan, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Anak-anak rentan terhadap infeksi karena sistem imun mereka belum berkembang sempurna. Pengelolaan yang tepat diperlukan untuk pencegahan dan pengobatan penyakit infeksi pada pasien anak. Antibiotik menjadi pilihan utama untuk mengatasi infeksi bakteri. Namun, peningkatan penggunaan antibiotik dapat menyebabkan tingkat resistensi antimikroba (AMR) yang tinggi, sehingga pengobatan infeksi menjadi tidak efektif. Evaluasi penggunaan antibiotik dapat dilakukan melalui sistem klasifikasi Anatomical Therapeutic Chemical (ATC) dan unit pengukuran Defined Daily Dose (DDD) (ATC/DDD), yang berfokus pada jumlah dan jenis antibiotik yang digunakan. Meskipun metode ini memberikan gambaran kuantitatif, pendekatan kualitatif menggunakan metode Gyssens dan wawancara dengan pihak terkait diperlukan untuk memahami secara lebih mendalam rasionalitas penggunaan antibiotik. Studi ini bertujuan untuk memahami pola penggunaan antibiotik pada pasien anak rawat inap di salah satu rumah sakit regional Bandung selama Agustus 2023. Menggunakan pendekatan observasional retrospektif, data dikumpulkan dan diproses menggunakan metode ATC/DDD. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa golongan antibiotik sefalosporin adalah yang paling sering digunakan, dengan cefotaxime sebagai antibiotik dominan yang diberikan secara intravena. Evaluasi kuantitatif menunjukkan variasi nilai DDD/100 hari pasien di antara berbagai antibiotik, dengan ciprofloxacin memiliki nilai tertinggi dan amikasin nilai terendah. Untuk pemahaman yang lebih menyeluruh, penelitian kualitatif menggunakan metode Gyssens dan wawancara diperlukan untuk memperkuat hasil evaluasi penggunaan antibiotik. Akhirnya, studi ini memberikan perspektif menyeluruh tentang penggunaan antibiotik pada pasien anak rawat inap, mendukung upaya mengendalikan resistensi antimikroba dan mempromosikan pemilihan antibiotik yang lebih bijak.

Profil penggunaan antibiotik menunjukkan bahwa sefalosporin (57,41%) dan cefotaxime (25,48%) adalah kelompok antibiotik yang paling banyak digunakan, dengan rute administrasi utama adalah intravena (82,82%).Evaluasi kuantitatif penggunaan antibiotik menggunakan metode ATC/DDD menunjukkan bahwa ciprofloxacin memiliki nilai DDD/100 hari pasien tertinggi sebesar 76,92, sedangkan amikasin memiliki nilai terendah sebesar 3,21.Wawancara dengan pihak terkait dan penelitian kualitatif menggunakan pendekatan Gyssens diperlukan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif tentang rasionalitas penggunaan antibiotik.Hal ini dilakukan untuk memperkuat hasil evaluasi penggunaan antibiotik pada pasien anak rawat inap di salah satu rumah sakit umum regional Bandung selama Agustus 2023.

Penelitian lanjutan dapat fokus pada evaluasi penggunaan antibiotik di fasilitas kesehatan lain di Indonesia untuk membandingkan pola penggunaan dan mengidentifikasi faktor lokal yang memengaruhi keputusan pengobatan. Selain itu, studi tentang dampak pendidikan kesehatan terhadap peningkatan kesadaran petugas medis mengenai resistensi antimikroba dan penggunaan antibiotik yang rasional juga penting dilakukan. Terakhir, penelitian dapat mengeksplorasi efektivitas sistem formularium antibiotik dalam mengurangi penggunaan antibiotik yang tidak perlu dan meningkatkan kepatuhan terhadap pedoman penggunaan antibiotik.

Read online
File size377.29 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test