ADMIADMI

Jurnal Kesehatan dan KedokteranJurnal Kesehatan dan Kedokteran

Tuberkulosis (TBC) sampai sekarang masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Krisis TB dikarenakan penderita TBC mengalami resistensi obat anti tuberkulosis (OAT). Diagnosa TB terdapat 3 cara yakni pemeriksaan mikroskopis, biakan dan uji kepekaan Mycobacterium tuberculosis. Menurut Permenkes nomor 13 tahun 2013, uji resistensi OAT termasuk dalam program pengendalian dan pengobatan TB. Balai laboratorium kesehatan (Balabkes) Jawa Tengah ditunjuk sebagai salah satu laboratorium uji kepekaan OAT. Pengobatan TB yang adekuat dapat mengurangi angka kematian di Indonesia. Tujuan penelitian adalah mengetahui pola kepekaan OAT pada pasien TB. Metode penelitian adalah observasional. Hasil penelitian adalah tingkat sensitivitas OAT lini pertama INH 0,1 (31%), INH 0.4 (45%) dan Pirazinamid (65%).

Penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan media BACTEC MGIT menawarkan keunggulan kecepatan dan akurasi untuk uji kepekaan OAT dibandingkan Lowenstein Jensen, meskipun dengan biaya lebih tinggi dan risiko kontaminasi.Selain itu, prinsip penatalaksanaan TB resisten obat (TBRO) harus senantiasa mengacu pada pedoman Kemenkes 2020.Oleh karena itu, monitoring dan evaluasi pengobatan yang berkesinambungan serta peningkatan pengawasan kepatuhan minum obat sangat krusial untuk mencegah resistensi OAT dan mengurangi angka penularan, morbiditas, serta mortalitas.

Mengingat temuan resistensi obat antituberkulosis (OAT) lini pertama yang signifikan terhadap INH dan Pirazinamid, penelitian lanjutan dapat memfokuskan pada identifikasi mendalam mengenai mekanisme genetik di balik resistensi tersebut. Sebagai contoh, sebuah studi komprehensif dapat menyelidiki prevalensi mutasi genetik spesifik, seperti pada gen katG atau daerah promotor inhA, pada pasien TB di Jawa Tengah yang menunjukkan resistensi terhadap INH, serta bagaimana korelasi mutasi ini dengan tingkat resistensi fenotipik yang teramati. Pemahaman yang lebih mendalam tentang profil genetik resistensi ini akan sangat krusial untuk mengembangkan strategi pengobatan yang lebih tepat sasaran dan memitigasi penyebaran TB resisten obat. Selain itu, mengingat peran faktor sosial dan kepatuhan pasien dalam penanganan TBC, penelitian selanjutnya bisa mengeksplorasi hubungan antara faktor sosio-ekonomi dan perilaku pasien, seperti tingkat pendidikan, status ekonomi, dan kebiasaan merokok atau konsumsi alkohol, terhadap tingkat kepatuhan minum OAT dan potensi pengembangan resistensi. Studi ini akan memberikan wawasan berharga untuk merancang intervensi yang lebih efektif dalam meningkatkan kepatuhan pasien dan mengurangi angka resistensi. Terakhir, dengan mempertimbangkan sensitivitas fluoroquinolon yang masih tinggi namun risiko resistensi akibat penggunaan irasional, penelitian bisa diarahkan untuk menganalisis pola peresepan dan kepatuhan penggunaan fluoroquinolon untuk infeksi non-TB di wilayah tersebut. Temuan ini dapat menjadi dasar untuk merumuskan kebijakan penggunaan antibiotik yang lebih bijaksana, memastikan keberlanjutan efikasi fluoroquinolon sebagai cadangan penting dalam terapi TB, dan mencegah munculnya resistensi lebih lanjut.

Read online
File size519.15 KB
Pages5
DMCAReport

Related /

ads-block-test