BBCBBC

Proceedings International Conference of Bunga BangsaProceedings International Conference of Bunga Bangsa

Pertumbuhan eksponensial ekosistem media digital telah membuka arena baru untuk representasi identitas Muslim yang belum pernah ada sebelumnya. Berbeda dengan media massa konvensional yang sering kali merepresentasikan Islam dari perspektif eksternal melalui berbagai stereotip dan penyederhanaan, media digital memungkinkan Muslim untuk secara aktif merepresentasikan diri mereka sendiri di berbagai platform, mulai dari blog, saluran YouTube, akun Instagram, podcast, hingga konten TikTok dengan dimensi keagamaan. Dinamika ini menghasilkan negosiasi identitas yang kompleks antara nilai-nilai Islam normatif, tuntutan struktural platform digital, ekspektasi penonton, dan pengaruh budaya populer global. Penelitian ini bertujuan untuk memeriksa secara sistematis bagaimana identitas Muslim direpresentasikan di media digital melalui komunikasi penyiaran Islam. Metode yang digunakan adalah tinjauan literatur sistematis dari berbagai sumber ilmiah, termasuk buku dan artikel jurnal terpercaya yang diterbitkan dalam lima tahun terakhir. Temuan penelitian mengidentifikasi tiga pola representasi dominan: pertama, representasi identitas Muslim melalui performativitas kebajikan digital; kedua, negosiasi identitas antara nilai-nilai Islam dan budaya populer dalam kreator konten Muslim; dan ketiga, konstruksi identitas Muslim hibrida dan diasporik dalam ruang digital global. Temuan ini menegaskan bahwa representasi identitas Muslim di media digital bukanlah proses statis, tetapi negosiasi dinamis antara autentisitas Islam dan tuntutan ekosistem media digital yang terus berkembang.

Penelitian tinjauan literatur ini menghasilkan peta pengetahuan komprehensif tentang bagaimana identitas Muslim direpresentasikan di media digital, dianalisis melalui kerangka studi budaya dan komunikasi penyiaran Islam.Dari keseluruhan proses sintesis literatur yang mencakup 47 sumber ilmiah terpercaya, dapat ditarik tiga kesimpulan utama dengan dasar argumentatif yang kuat.Pertama, performativitas kebajikan digital telah menjadi strategi dominan untuk merepresentasikan identitas Muslim di era media sosial, di mana ekspresi Islam berfungsi tidak hanya sebagai komunikasi keagamaan murni tetapi juga sebagai konstruksi citra diri yang beroperasi dalam logika visibilitas, estetika, dan keterlibatan penonton yang melekat dalam platform digital.Memahami fungsi ganda ini sangat penting bagi praktisi komunikasi Islam agar dapat merancang konten yang tidak hanya menarik dalam dinamika platform tetapi juga substansial secara spiritual.Kedua, negosiasi identitas antara nilai-nilai Islam normatif dan tuntutan budaya populer digital menghasilkan berbagai bentuk kreolisasi dan inovasi dalam ekspresi Islam yang dinamis dan tidak dapat dinilai sempit hanya berdasarkan standar ortodoksi konvensional.Kerangka komunikasi penyiaran Islam yang berbasis maqasid al-shariah menawarkan kriteria evaluatif yang lebih relevan dan konstruktif untuk menilai berbagai bentuk ekspresi Islam digital ini.Ketiga, konstruksi identitas Muslim hibrida dan diasporik dalam ruang digital global menghasilkan bentuk Islam yang lebih kosmopolitan, kritis, dan adaptif, sekaligus menyajikan peluang dan tantangan bagi kohesi komunitas Muslim.Secara keseluruhan, temuan ini menegaskan bahwa representasi identitas Muslim di media digital adalah proses yang sangat dinamis dan kontekstual yang tidak dapat dipahami secara memadai tanpa mengintegrasikan perspektif studi budaya dengan perspektif normatif komunikasi penyiaran Islam.Pengembangan kerangka analisis integratif ini merupakan kontribusi teoretis utama dari penelitian ini dan merupakan bidang yang harus terus dikembangkan oleh para sarjana komunikasi Islam di masa depan.

Untuk penelitian lanjutan, disarankan untuk melakukan studi komparatif tentang representasi identitas Muslim di negara-negara mayoritas Muslim seperti Indonesia, Malaysia, dan negara-negara Arab, serta di negara-negara minoritas Muslim seperti Eropa dan Amerika Utara. Studi komparatif ini dapat membantu memahami keragaman strategi representasi identitas Muslim dalam konteks yang berbeda. Selain itu, penelitian dapat fokus pada analisis lebih mendalam tentang bagaimana platform media digital mempengaruhi performativitas kebajikan digital dan bagaimana hal ini berdampak pada komodifikasi atau demokratisasi ekspresi keagamaan. Terakhir, penelitian dapat mengeksplorasi lebih lanjut tentang konstruksi identitas Muslim hibrida dan diasporik dalam ruang digital global, termasuk tantangan dan peluang yang dihadapi komunitas Muslim dalam mempertahankan kohesi dan autentisitas identitas mereka dalam konteks budaya yang beragam.

  1. Stigma Sosial Pengangguran di Media Daring Amerika Serikat pada Masa Pandemi COVID-19 | Jurnal Komunikasi.... doi.org/10.20885/komunikasi.vol16.iss2.art5Stigma Sosial Pengangguran di Media Daring Amerika Serikat pada Masa Pandemi COVID 19 Jurnal Komunikasi doi 10 20885 komunikasi vol16 iss2 art5
Read online
File size188.03 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test