UIN SUSKAUIN SUSKA

Jurnal AgroteknologiJurnal Agroteknologi

Padi merupakan komoditas pangan yang menjadi sumber terbesar penyedia kalori dan gizi, serta menjadi komoditas yang diprioritaskan dan berperan penting dalam pembangunan pertanian di Indonesia. Hama wereng coklat (Nilaparvata lugens Stall.) menjadi kendala utama dalam budidaya tanamanan padi, hama ini dapat menyebabkan kerusakan secara langsung dan tidak langsung. Kerusakan secara langsung yang ditimbulkan berupa gejala mati kering (hopperburn) dan dapat menyebabkan puso pada populasi tinggi. Kerusakan secara tidak langsung yang ditimbulkan wereng coklat adalah timbulnya serangan penyakit pada pertanaman padi. Pengendalian hama wereng coklat yang umum dilakukan petani adalah menggunakan insektisida sintetik, namun menimbulkan dampak negatif seperti resurjensi, resistensi, terbunuhnya organisme non-target, serta menimbulkan residu. Penggunaan insektisida nabati dapat menjadi alternatif pengendalian yang perlu dikembangkan untuk mengurangi ketergantungan insektisida sintetik. Sirih hutan (Piper aduncum L.) merupakan tanaman yang berpotensi digunakan sebagai insektisida nabati. Mengandung senyawa aktif golongan piperamida seperti piperlongumin, piperin, piperisida, dan guininsin, senyawa ini masuk ke dalam tubuh serangga sebagai racun kontak dan bekerja sebagai racun saraf sehingga mengganggu aliran impuls saraf, selain itu senyawa ini juga dapat bekerja sebagai racun perut dan mengganggu sistem pencernaan serangga. Selain itu ekstrak metanol daun sirih hutan mengandung senyawa aktif tambahan lain seperti dilapiol yang merupakan senyawa utama pada ekstrak n-heksana daun sirih hutan. Berdasarkan hasil penelitian Durofil et al. (2021) membuktikan bahwa sekitar 75% senyawa yang terkandung pada ekstrak minyak esensial sirih hutan merupakan dilapiol, senyawa ini bekerja secara sinergis bersama zat kimia lain yang berfungsi sebagai insektisida, di dalam tubuh serangga bekerja sebagai racun metabolisme dengan menghambat aktivitas enzim PSMO sehingga terganggunya proses metabolisme xenobiotik fase I yang berfungsi sebagai penawar senyawa insektisida pada serangga.

Berdasarkan pada hasil uji beberapa konsentrasi ekstrak daun sirih hutan (Piper aduncum L.) terhadap hama wereng coklat (Nilaparvata lugens Stall.) diperoleh kesimpulan bahwa, ekstrak daun sirih hutan berpelarut organik mulai dari konsentrasi 0.20% sudah memiliki kinerja yang baik dalam mengendalikan hama Nilaparvata lugens, namun konsentrasi yang efektif untuk mematikan hama Nilaparvata lugens yakni pada konsentrasi 0.60% karena telah mampu menyebabkan mortalitas total sebesar 82.25 jam setelah aplikasi dan lethal time 50 pada 10 jam setelah aplikasi.Konsentrasi ekstrak daun sirih hutan sebesar 0.14% adalah konsentrasi yang tepat dalam mematikan 50% populasi N.08% merupakan konsentrasi yang tepat dalam mematikan 95% N.

Berdasarkan hasil penelitian ini, saran penelitian lanjutan yang dapat dilakukan adalah: (1) Mengembangkan formulasi insektisida nabati yang lebih stabil dan tahan lama, sehingga dapat meningkatkan efektivitas pengendalian hama. (2) Melakukan studi lebih lanjut tentang mekanisme kerja senyawa aktif dalam ekstrak daun sirih hutan terhadap hama wereng coklat, khususnya mengenai interaksi antara senyawa aktif dengan enzim-enzim dalam tubuh serangga. (3) Meneliti potensi penggunaan ekstrak daun sirih hutan sebagai insektisida nabati untuk mengendalikan hama lain yang menyerang tanaman padi atau tanaman pertanian lainnya, dengan mempertimbangkan konsentrasi dan metode aplikasi yang optimal.

Read online
File size329.32 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test