UBUB

Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu KomputerJurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer

Perkembangan teknologi saat ini mempercepat penyebaran informasi, hal ini meningkatkan traffic dan tekanan pada infrastruktur. Menghadapi ini, sistem yang reliable, availability, dan maintainability diperlukan. Dengan container dan Raspberry Pi sebagai server. Memberikan keunggulan selain 3 karakteristik sistem tersebut juga dari sumberdaya yang diperlukan. Raspberry Pi dapat terhubung ke jaringan LAN maupun nirkabel. Fokus penelitian ini pada perancangan dan implementasi sistem berbasis empat Raspberry Pi, tiga sebagai webserver Nginx, dan satu sebagai kontroler. Sistem ini menggunakan teknologi containerization di lingkungan DockerSwarm dan diintegrasikan Ansible untuk otomatisasi tugas. Tujuan penelitian ini adalah menciptakan sistem yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan, memanfaatkan Raspberry Pi untuk efisiensi daya, dan memberikan manfaat dalam hal skalabilitas dan otomatisasi. Sistem ini menggunakan empat Raspberry Pi dengan algoritma IP HASH untuk pembagian beban kerja. Komponen utama mencakup input dari pengguna, pemrosesan beban kerja oleh load balancer, dan output melalui antarmuka web browser. Load balancer bertanggung jawab atas distribusi lalu lintas dan pemantauan status server untuk mengalihkan lalu lintas jika diperlukan. Pengujian menunjukkan system dengan load balancer lebih efisien dalam penggunaan CPU dengan perbandingan CPU 39.1% pada ws1 dengan loadbalancer dan 51.2% tanpa, 38.9% pada ws2 dengan loadbalancer dan 51.7% tanpa, serta 6.3% pada ws3 ketika mengalihkan request saat server 1 atau 2 mati dan efektif dalam mengalihkan request saat server bermasalah dengan persentase kegagalan melayani request sebesar 18% atau 18 request dari 1000 request sedangkan tanpa loadbalancer request tidak dapat dilayani ketika server yang dituju mati. Ini membuktikan reliable, availability, dan maintainability pada sistem ini terpenuhi.

Setelah melalui berbagai tahapan penelitian, termasuk perancangan, implementasi, dan pengujian, diperoleh beberapa kesimpulan.Pertama, load balancer berhasil membagi beban sesuai konfigurasi Nginx, dengan persentase pembagian beban yang persisten sebesar 100% pada satu server.Kedua, pengujian kinerja menggunakan Apache Benchmark menunjukkan bahwa request melalui node load balancer memiliki penggunaan CPU yang lebih rendah dibandingkan dengan sistem tanpa load balancer.Ketiga, saat server tujuan mengalami down, sistem melakukan pengecekan status server dan mengarahkan request ke server lain jika statusnya tidak siap.Namun, sistem mengalami penurunan performa saat server down, dengan kegagalan melayani 1,8% dari 1000 request atau 18 request.Penelitian ini menunjukkan hasil yang baik meskipun ada beberapa kekurangan.

Untuk penelitian selanjutnya, beberapa saran dapat dipertimbangkan. Pertama, peningkatan perangkat keras untuk memastikan kenyamanan pengguna dan kehandalan sistem yang lebih baik. Kedua, menambahkan proses pengiriman data atau backend untuk menguji kelayakan Raspberry Pi untuk layanan yang lebih berat dan mengintegrasikannya dengan CI/CD seperti GitLab-CI atau penjadwalan seperti cronjob. Ketiga, menambah cluster agar dapat menjalankan beberapa layanan secara bersamaan di berbagai cluster. Terakhir, memperbaiki algoritma agar lebih efisien dan dapat melayani semua request ketika salah satu server down.

Read online
File size1.09 MB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test