169169

PANTUN: Jurnal Ilmiah Seni BudayaPANTUN: Jurnal Ilmiah Seni Budaya

Tenun Gedogan Indramayu telah dimitoskan oleh masyarakat Juntikebon sebagai kain yang ditujukan untuk tujuan luhur dalam strata sosial yang lebih tinggi. Mitos ini berfungsi sebagai panduan tidak hanya untuk nilai-nilai agama, tetapi juga untuk etika masyarakat, menjadi bagian dari budaya mereka. Mitos ini terwujud dalam tradisi masyarakat seperti ritual setelah melahirkan, upacara ruwatan anak, tradisi kirab kuwu, dan ritual nurubi-mayat, yang dipresentasikan sebagai peristiwa transenden. Mitos tenun Gedogan Indramayu telah menjadi bagian dari sistem budaya Junti Kebon, dengan nilai-nilai yang diterapkan sebagai pola perilaku masyarakat, baik secara individu maupun sosial.

Melalui empat motif tenun Gedogan Indramayu, mitos diwujudkan dalam sebuah kain tenun yang kemudian diberi narasi cerita sebagai pedoman yang mengarahkan masyarakat Juntikebon tentang bagaimana seharusnya mereka berperilaku dalam kehidupan dan berkebudayaan.Mitos tenun Gedogan Indramayu dipersepsi sebagai suatu pandangan masyarakat yang menyatakan nilai-nilai tertentu untuk membela dan memajukan kepentingan mereka dalam kehidupan.Meskipun secara negatif, beberapa nilainya dilihat sebagai suatu kesadaran palsu, yaitu kebutuhan untuk melakukan suatu manipulasi dengan cara memutar-balikkan pemahaman mengenai realitas sosial dan budaya.

Berdasarkan penelitian ini, terdapat beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat dikembangkan. Pertama, penelitian lebih lanjut dapat dilakukan untuk mengeksplorasi bagaimana mitos tenun Gedogan Indramayu berinteraksi dengan sistem kepercayaan agama masyarakat Juntikebon, khususnya dalam konteks ritual-ritual yang melibatkan kain tenun tersebut. Hal ini dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang peran mitos dalam membentuk identitas keagamaan dan spiritual masyarakat. Kedua, penelitian dapat difokuskan pada bagaimana mitos tenun Gedogan Indramayu berperan dalam melestarikan keterampilan tenun tradisional di Juntikebon. Dengan memahami bagaimana mitos memotivasi dan memvalidasi praktik tenun, strategi pelestarian yang lebih efektif dapat dirumuskan. Ketiga, penelitian kualitatif mendalam dapat dilakukan untuk mengidentifikasi bagaimana generasi muda Juntikebon memaknai dan menginternalisasi mitos tenun Gedogan Indramayu. Hal ini penting untuk memastikan bahwa nilai-nilai budaya yang terkandung dalam mitos tersebut tetap relevan dan dipertahankan di masa depan. Dengan menggabungkan ketiga saran ini, penelitian lanjutan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam memahami kompleksitas hubungan antara mitos, budaya, dan masyarakat di Juntikebon, serta memberikan dasar untuk strategi pelestarian budaya yang berkelanjutan.

  1. RELASI KUASA DALAM PRAKTIK SUKUR BUMI | Heriyawati | Jurnal Kawistara. relasi kuasa praktik sukur bumi... journal.ugm.ac.id/kawistara/article/view/3973RELASI KUASA DALAM PRAKTIK SUKUR BUMI Heriyawati Jurnal Kawistara relasi kuasa praktik sukur bumi journal ugm ac kawistara article view 3973
Read online
File size1.64 MB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test