POLTEKATIPDGPOLTEKATIPDG

SAINTI: Majalah Ilmiah Teknologi IndustriSAINTI: Majalah Ilmiah Teknologi Industri

Setiap tempat kerja memiliki risiko akan terjadinya kecelakaan kerja. Kecelakaan kerja merupakan suatu kejadian yang tidak direncanakan dan tidak terkontrol atau terkendali yang disebabkan oleh faktor manusia, lingkungan, mesin atau gabungan dari ketiganya yang terjadi pada saat proses kerja yang sangat mungkin akan menimbulkan luka, kerusakan properti dan kematian atau kejadian yang tidak diinginkan lainnya. Kecelakaan kerja yang terjadi selalu menimbulkan kerugian, seperti menurunnya produktivitas perusahaan karena pekerja tidak mampu bekerja secara optimal, hilangnya jumlah tenaga kerja dan tentu akan menurunkan keuntungan perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis urutan prioritas penanganan potensi bahaya berisiko yang mengakibatkan kecelakaan kerja, menganalisis proses/kegiatan yang berisiko tinggi yang mengakibatkan kecelakaan kerja, dan menganalisis usulan pengendalian terhadap potensi bahaya yang berisiko mengakibatkan kecelakaan kerja. Metode analisis yang akan digunakan adalah metode failure modes effect analysis (FMEA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi bahaya terpapar suhu panas (proses peleburan) memiliki nilai RPN 297,7 sehingga proses produksi yang paling berisiko, yaitu proses pembentukan atau pencetakan bahan baku. Urutan prioritas penanganan potensi bahaya dari proses produksi botol kaca, yaitu paparan suhu panas, kebisingan, terkena pecahan botol kaca, sesak napas dan terjepit mesin/conveyor. Adapun pengendalian yang harus dilakukan adalah menyediakan kipas angin, menyediakan penyekat dan perisai, serta menyediakan spot-spot air minum agar para operator tidak dehidrasi.

Dari hasil perhitungan Risk Priority Number (RPN) diketahui bahwa failure mode yang paling berpengaruh dan menjadi prioritas penanganan pada proses produksi yaitu.(a) paparan suhu panas pada proses peleburan, pengondisian suhu dan proses pembentukan atau pencetakan bahan baku, (b) kebisingan pada proses pembentukan atau pencetakan bahan baku, (c) terkena pecahan botol kaca pada proses bongkar muat dan pemilahan serta proses pencetakan, (d) sesak napas pada proses pencetakan bahan baku, dan (e) terjepit mesin/conveyor pada proses pencetakan bahan baku.Bentuk pengendalian yang direkomendasikan terhadap failure mode adalah (a) terpapar suhu panas yang diakibatkan oleh iklim kerja panas pada proses produksi, (b) kebisingan yang disebabkan oleh suara bising dari pengoperasian mesin-mesin produksi, (c) terkena pecahan botol kaca pada proses produksi, (d) sesak napas yang disebabkan akibat terkena paparan asap dari reaksi oli dengan benda panas pada proses produksi, dan (e) terjepit mesin/conveyor pada proses produksi.

Penelitian lanjutan dapat fokus pada pengembangan sistem pemantauan real-time untuk mendeteksi risiko kecelakaan secara otomatis menggunakan sensor dan teknologi AI, sehingga meminimalkan ketergantungan pada evaluasi manual. Selain itu, perlu dilakukan studi komparatif antara metode FMEA dengan pendekatan lain seperti HAZOP untuk mengevaluasi efektivitas berbagai teknik analisis risiko dalam konteks industri manufaktur. Terakhir, penelitian juga dapat mengeksplorasi dampak implementasi pelatihan berbasis simulasi virtual untuk meningkatkan kesadaran dan keterampilan pekerja dalam mengidentifikasi serta mengatasi bahaya kerja secara proaktif.

Read online
File size207.84 KB
Pages15
DMCAReport

Related /

ads-block-test