<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="https://juris.id/atom10full.xsl?ver=2.5.375-21sep2026"?>
<?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="https://juris.id/dkrss.css?ver=2.5.375-21sep2026"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:dcterms="http://purl.org/dc/terms/"
	xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:gml="http://www.opengis.net/gml"
	xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:opensearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:creativeCommons="http://backend.userland.com/creativeCommonsRssModule"
	xml:lang="en-US"
>
		
	<id>https://juris.id/random.atom</id>
	<updated>2026-09-23T18:26:20+07:00</updated>
	
	<title type="text"><![CDATA[Random - JURIS - Juru Riset - Kompilasi Jurnal Akademik Indonesia]]></title>
	<subtitle type="html"><![CDATA[Random - JURIS Direktori PDF Jurnal Akademik. Feeds]]></subtitle>
	
	<link rel="alternate" type="application/xml" href="https://juris.id/last-updates.rss" />
	<link rel="search" type="text/html" href="https://juris.id/" />

	<link rel="next" type="application/atom+xml" href="https://juris.id/random.atom" />
	<link rel="self" type="application/atom+xml" href="https://juris.id/random.atom" />
	
	<author>
		<name>juris.id Atom Feed Generator</name>
		<uri>https://juris.id/random.atom</uri>
		<email>info@juris.id</email>
	</author>
	
	<generator uri="https://juris.id">juris.id</generator>
	
	<opensearch:totalResults>12</opensearch:totalResults>
	<opensearch:startIndex>1</opensearch:startIndex>
	<opensearch:itemsPerPage>12</opensearch:itemsPerPage>
		
 <entry>
	<title><![CDATA[ Religious Time and Symbolic Hegemony An Analysis of National Holiday Policy in Indonesia ]]></title>
	<dc:title><![CDATA[ Religious Time and Symbolic Hegemony An Analysis of National Holiday Policy in Indonesia ]]></dc:title>
	<itunes:subtitle><![CDATA[ Religious Time and Symbolic Hegemony An Analysis of National Holiday Policy in Indonesia ]]></itunes:subtitle>
	<link rel="via" type="text/html" href="https://juris.id/pdf-68681-relasi-negara-warga-analisis-histori-agama" />
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://juris.id/pdf-68681-relasi-negara-warga-analisis-histori-agama" />
	<link rel="alternate" type="application/xml" href="https://juris.id/last-updates.rss" />
	<id>tag:juris.id,2026-09-23:d19be0611fe56de824d551f911606ea5</id>
	<published>2026-09-23T16:32:13+07:00</published>
	<updated>2026-09-23T16:32:13+07:00</updated>
	<dc:publisher><![CDATA[ juris JURIS.id ]]></dc:publisher>
	<category term="rumah jurnal" label="rumah jurnal" />
	<category term="fethullah g" label="fethullah g" />
	<category term="living qur" label="living qur" />
	<itunes:keywords><![CDATA[fethullah,g,jurnal,living,qur,rumah]]></itunes:keywords>
	<itunes:summary><![CDATA[ Untuk penelitian lanjutan, disarankan untuk melakukan analisis komparatif terhadap kebijakan hari libur nasional di negara-negara lain dengan keragaman agama yang serupa dengan Indonesia. Studi ini dapat mengeksplorasi bagaimana negara-negara tersebut ]]></itunes:summary>
  <summary><![CDATA[ Untuk penelitian lanjutan, disarankan untuk melakukan analisis komparatif terhadap kebijakan hari libur nasional di negara-negara lain dengan keragaman agama yang serupa dengan Indonesia. Studi ini dapat mengeksplorasi bagaimana negara-negara tersebut ]]></summary>
  <content type="html"><![CDATA[ <p>
<a href="https://cdn.juris.id/7/f/relasi-negara-warga-analisis-histori-agama-mem-mem-thumb-28ea4.webp" title="JURIS - Religious Time and Symbolic Hegemony: An Analysis of National Holiday Policy in Indonesia" class="imga">
<img width="100%" src="https://cdn.juris.id/7/f/relasi-negara-warga-analisis-histori-agama-mem-mem-thumb-28ea4.webp" data-src="https://cdn.juris.id/7/f/relasi-negara-warga-analisis-histori-agama-mem-mem-thumb-28ea4.webp" srcset="https://cdn.juris.id/7/f/relasi-negara-warga-analisis-histori-agama-mem-mem-thumb-28ea4.webp 1x" title="JURIS - Religious Time and Symbolic Hegemony: An Analysis of National Holiday Policy in Indonesia" alt="JURIS - Religious Time and Symbolic Hegemony: An Analysis of National Holiday Policy in Indonesia" >
</a>
<a href="https://cdn.juris.id/7/f/relasi-negara-warga-analisis-histori-agama-mem-mem-thumb-5b82a.webp" title="JURIS - Religious Time and Symbolic Hegemony: An Analysis of National Holiday Policy in Indonesia" class="imga">
<img width="100%" src="https://cdn.juris.id/7/f/relasi-negara-warga-analisis-histori-agama-mem-mem-thumb-5b82a.webp" data-src="https://cdn.juris.id/7/f/relasi-negara-warga-analisis-histori-agama-mem-mem-thumb-5b82a.webp" srcset="https://cdn.juris.id/7/f/relasi-negara-warga-analisis-histori-agama-mem-mem-thumb-5b82a.webp 1x" title="JURIS - Religious Time and Symbolic Hegemony: An Analysis of National Holiday Policy in Indonesia" alt="JURIS - Religious Time and Symbolic Hegemony: An Analysis of National Holiday Policy in Indonesia" >
</a>
<a href="https://cdn.juris.id/7/f/relasi-negara-warga-analisis-histori-agama-mem-mem-thumb-3581d.webp" title="JURIS - Religious Time and Symbolic Hegemony: An Analysis of National Holiday Policy in Indonesia" class="imga">
<img width="100%" src="https://cdn.juris.id/7/f/relasi-negara-warga-analisis-histori-agama-mem-mem-thumb-3581d.webp" data-src="https://cdn.juris.id/7/f/relasi-negara-warga-analisis-histori-agama-mem-mem-thumb-3581d.webp" srcset="https://cdn.juris.id/7/f/relasi-negara-warga-analisis-histori-agama-mem-mem-thumb-3581d.webp 1x" title="JURIS - Religious Time and Symbolic Hegemony: An Analysis of National Holiday Policy in Indonesia" alt="JURIS - Religious Time and Symbolic Hegemony: An Analysis of National Holiday Policy in Indonesia" >
</a>
<a href="https://juris.id/calendar" target="_blank">#calendar</a> - <a href="https://juris.id/pdf-68681-relasi-negara-warga-analisis-histori-agama" title="JURIS - Religious Time and Symbolic Hegemony: An Analysis of National Holiday Policy in Indonesia" target="_blank">Religious Time and Symbolic Hegemony: An Analysis of National Holiday Policy in Indonesia</a>: Untuk penelitian lanjutan, disarankan untuk melakukan analisis komparatif terhadap kebijakan hari libur nasional di negara-negara lain dengan keragaman agama yang serupa dengan Indonesia. Studi ini dapat mengeksplorasi bagaimana negara-negara tersebut mengelola waktu publik dan memfasilitasi inklusi dan pengakuan terhadap berbagai tradisi keagamaan. Selain itu, penelitian dapat dilakukan untuk menyelidiki dampak sosial dan ekonomi dari kebijakan hari libur nasional dan cuti bersama, terutama dalam hal mobilitas sosial, konsumsi, dan distribusi manfaat ekonomi di berbagai wilayah. Dengan demikian, penelitian ini dapat memberikan kontribusi lebih lanjut terhadap pemahaman tentang bagaimana negara dapat mengembangkan kebijakan yang lebih inklusif dan adil dalam mengatur waktu publik di masyarakat yang plural..
<br>Penelitian ini menunjukkan bahwa kebijakan hari libur nasional dan cuti bersama di Indonesia berfungsi sebagai mekanisme untuk membangun memori kolektif dan mengatur waktu publik.Temuan utama menunjukkan pola dominasi waktu religius, khususnya terkait dengan Islam, di mana kalender negara mereproduksi hierarki simbolik tertentu.Meskipun revisi tahun 2025 memperkenalkan pengakuan tambahan terhadap hari-hari keagamaan dan nasional lainnya, struktur dominasi yang mendasarinya tetap tidak berubah secara signifikan.Secara teoritis, penelitian ini memperluas studi tentang hegemoni melalui konsep hegemoni temporal, menunjukkan bagaimana negara menggunakan regulasi waktu untuk membangun identitas, legitimasi, dan konsensus sosial.Dengan menggabungkan teori memori kolektif, politik simbolik, dan netralitas negara, studi ini menunjukkan bahwa kalender nasional adalah arena politik yang dibentuk oleh hubungan kekuasaan dan inklusi simbolik.Namun, penelitian ini terbatas pada dokumen resmi dan data media sosial yang terbatas, tanpa wawasan empiris yang lebih luas tentang proses pembuatan kebijakan atau pengalaman minoritas.Penelitian masa depan harus mengadopsi pendekatan multi-metode, termasuk wawancara, analisis historis, survei publik, dan studi dampak sosial-ekonomi, untuk memahami lebih baik bagaimana waktu publik dinegosiasikan dalam masyarakat plural dan bagaimana kebijakan yang lebih inklusif dapat dikembangkan
<br>Artikel ini mengkaji kebijakan hari libur nasional dan cuti bersama di Indonesia sebagai praktik politik waktu yang merefleksikan hubungan antara negara, agama, dan pembentukan memori kolektif. Melalui analisis isi tematik terhadap Keputusan Bersama Tiga Menteri tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama periode 2020Ae2025, artikel ini menunjukkan bahwa pengaturan waktu publik tidak semata-mata merupakan instrumen administratif, tetapi juga menjadi arena hegemonisasi simbolik yang merepresentasikan dominasi agama mayoritas. Penelitian...
<br>Kunjungi <a href="https://juris.id/calendar" target="_blank">calendar</a> untuk informasi lainnya.
</p>
 ]]></content>
	<enclosure url="https://cdn.juris.id/7/f/relasi-negara-warga-analisis-histori-agama-mem-mem-thumb-5b82a.webp" type="image/webp" length="103572" />
	<media:content url="https://cdn.juris.id/7/f/relasi-negara-warga-analisis-histori-agama-mem-mem-thumb-28ea4.webp" type="image/webp" medium="image" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
	<media:content url="https://cdn.juris.id/7/f/relasi-negara-warga-analisis-histori-agama-mem-mem-thumb-5b82a.webp" type="image/webp" medium="image" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
	<media:content url="https://cdn.juris.id/7/f/relasi-negara-warga-analisis-histori-agama-mem-mem-thumb-3581d.webp" type="image/webp" medium="image" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
	<media:content url="https://juris.id/univ-1188-uin-bukittinggi.rss" type="application/rss+xml" medium="document" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
	<media:content url="https://juris.id/jur-19662-jurnal-fuaduna-jurnal-kajian-keagamaan-kemasyarakatan.rss" type="application/rss+xml" medium="document" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
 </entry>
 <entry>
	<title><![CDATA[ The Conflict Dynamics of Ahmadiyya Lombok Public Services and Negative Stigma ]]></title>
	<dc:title><![CDATA[ The Conflict Dynamics of Ahmadiyya Lombok Public Services and Negative Stigma ]]></dc:title>
	<itunes:subtitle><![CDATA[ The Conflict Dynamics of Ahmadiyya Lombok Public Services and Negative Stigma ]]></itunes:subtitle>
	<link rel="via" type="text/html" href="https://juris.id/pdf-68671-ahmadiyah-stigma-public-services-transito-jemaah" />
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://juris.id/pdf-68671-ahmadiyah-stigma-public-services-transito-jemaah" />
	<link rel="alternate" type="application/xml" href="https://juris.id/last-updates.rss" />
	<id>tag:juris.id,2026-09-23:032263dfba18430aef9c1c3b48bf0a04</id>
	<published>2026-09-23T16:32:13+07:00</published>
	<updated>2026-09-23T16:32:13+07:00</updated>
	<dc:publisher><![CDATA[ juris JURIS.id ]]></dc:publisher>
	<category term="ahmad sanusi" label="ahmad sanusi" />
	<category term="rumah jurnal" label="rumah jurnal" />
	<category term="rifatil qur" label="rifatil qur" />
	<itunes:keywords><![CDATA[ahmad,jurnal,qur,rifatil,rumah,sanusi]]></itunes:keywords>
	<itunes:summary><![CDATA[ Penelitian lanjutan dapat fokus pada analisis dampak kebijakan pemerintah terhadap kelompok minoritas agama, seperti Ahmadiyah, dengan membandingkan kasus di berbagai wilayah Indonesia. Selain itu, perlu dikaji lebih lanjut tentang potensi program penyelesaian ]]></itunes:summary>
  <summary><![CDATA[ Penelitian lanjutan dapat fokus pada analisis dampak kebijakan pemerintah terhadap kelompok minoritas agama, seperti Ahmadiyah, dengan membandingkan kasus di berbagai wilayah Indonesia. Selain itu, perlu dikaji lebih lanjut tentang potensi program penyelesaian ]]></summary>
  <content type="html"><![CDATA[ <p>
<a href="https://cdn.juris.id/7/5/ahmadiyah-stigma-public-services-transito-jemaah-k-thumb-e2694.webp" title="JURIS - The Conflict Dynamics of Ahmadiyya Lombok: Public Services and Negative Stigma" class="imga">
<img width="100%" src="https://cdn.juris.id/7/5/ahmadiyah-stigma-public-services-transito-jemaah-k-thumb-e2694.webp" data-src="https://cdn.juris.id/7/5/ahmadiyah-stigma-public-services-transito-jemaah-k-thumb-e2694.webp" srcset="https://cdn.juris.id/7/5/ahmadiyah-stigma-public-services-transito-jemaah-k-thumb-e2694.webp 1x" title="JURIS - The Conflict Dynamics of Ahmadiyya Lombok: Public Services and Negative Stigma" alt="JURIS - The Conflict Dynamics of Ahmadiyya Lombok: Public Services and Negative Stigma" >
</a>
<a href="https://cdn.juris.id/7/5/ahmadiyah-stigma-public-services-transito-jemaah-k-thumb-1b702.webp" title="JURIS - The Conflict Dynamics of Ahmadiyya Lombok: Public Services and Negative Stigma" class="imga">
<img width="100%" src="https://cdn.juris.id/7/5/ahmadiyah-stigma-public-services-transito-jemaah-k-thumb-1b702.webp" data-src="https://cdn.juris.id/7/5/ahmadiyah-stigma-public-services-transito-jemaah-k-thumb-1b702.webp" srcset="https://cdn.juris.id/7/5/ahmadiyah-stigma-public-services-transito-jemaah-k-thumb-1b702.webp 1x" title="JURIS - The Conflict Dynamics of Ahmadiyya Lombok: Public Services and Negative Stigma" alt="JURIS - The Conflict Dynamics of Ahmadiyya Lombok: Public Services and Negative Stigma" >
</a>
<a href="https://cdn.juris.id/7/5/ahmadiyah-stigma-public-services-transito-jemaah-k-thumb-3e1c5.webp" title="JURIS - The Conflict Dynamics of Ahmadiyya Lombok: Public Services and Negative Stigma" class="imga">
<img width="100%" src="https://cdn.juris.id/7/5/ahmadiyah-stigma-public-services-transito-jemaah-k-thumb-3e1c5.webp" data-src="https://cdn.juris.id/7/5/ahmadiyah-stigma-public-services-transito-jemaah-k-thumb-3e1c5.webp" srcset="https://cdn.juris.id/7/5/ahmadiyah-stigma-public-services-transito-jemaah-k-thumb-3e1c5.webp 1x" title="JURIS - The Conflict Dynamics of Ahmadiyya Lombok: Public Services and Negative Stigma" alt="JURIS - The Conflict Dynamics of Ahmadiyya Lombok: Public Services and Negative Stigma" >
</a>
<a href="https://juris.id/calendar" target="_blank">#calendar</a> - <a href="https://juris.id/pdf-68671-ahmadiyah-stigma-public-services-transito-jemaah" title="JURIS - The Conflict Dynamics of Ahmadiyya Lombok: Public Services and Negative Stigma" target="_blank">The Conflict Dynamics of Ahmadiyya Lombok: Public Services and Negative Stigma</a>: Penelitian lanjutan dapat fokus pada analisis dampak kebijakan pemerintah terhadap kelompok minoritas agama, seperti Ahmadiyah, dengan membandingkan kasus di berbagai wilayah Indonesia. Selain itu, perlu dikaji lebih lanjut tentang potensi program penyelesaian konflik berbasis masyarakat yang melibatkan dialog antaragama untuk mengurangi prasangka. Terakhir, penelitian dapat mengeksplorasi peran media dalam membentuk persepsi publik terhadap kelompok minoritas, termasuk upaya mengurangi stereotip negatif melalui penyajian informasi yang lebih objektif..
<br>Penolakan dan pengusiran oleh masyarakat berdasarkan fatwa MUI melalui Tuan Guru membuat negara tidak mampu mengambil tindakan tegas terhadap pelaku kekerasan.Sebaliknya, negara menjadi bagian dari kekerasan tersebut.Negara telah membiarkan ini melalui polisi, dan kurangnya penegakan hukum membuat Ahmadiyah semakin putus asa dalam masyarakat karena kurangnya perlindungan.Akibat turunan seperti SKB tiga menteri, peraturan kepala daerah, dan lembaga terkait, Ahmadiyah juga tidak mampu melakukan banyak hal.Melalui aparatus ideologis dan repressif, aparatus negara menjadi bagian dari tindakan kekerasan terhadap Ahmadiyah, yang hak-haknya dijamin oleh Konstitusi Republik Indonesia
<br>Konflik Ahmadiyah Lombok telah menempuh jalan panjang dari tahun 1980an sejak dikeluarkannya Fatwa Majelis Ulama Indonesia. Pengungsi Jamaah Ahmadiyah Lombok yang mengungsi di Asrama Transito mengalami diskriminasi dan stigma negatif, serta sulit memperoleh hak-haknya sebagai warga negara, termasuk kebebasan beribadah sesuai keyakinannya, termasuk secara umum terbatasnya akses terhadap layanan publik. Penelitian ini berupaya menjawab beberapa pertanyaan krusial seperti bagaimana akses pelayanan publik...
<br>Kunjungi <a href="https://juris.id/calendar" target="_blank">calendar</a> untuk informasi lainnya.
</p>
 ]]></content>
	<enclosure url="https://cdn.juris.id/7/5/ahmadiyah-stigma-public-services-transito-jemaah-k-thumb-e2694.webp" type="image/webp" length="117876" />
	<media:content url="https://cdn.juris.id/7/5/ahmadiyah-stigma-public-services-transito-jemaah-k-thumb-e2694.webp" type="image/webp" medium="image" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
	<media:content url="https://cdn.juris.id/7/5/ahmadiyah-stigma-public-services-transito-jemaah-k-thumb-1b702.webp" type="image/webp" medium="image" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
	<media:content url="https://cdn.juris.id/7/5/ahmadiyah-stigma-public-services-transito-jemaah-k-thumb-3e1c5.webp" type="image/webp" medium="image" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
	<media:content url="https://juris.id/univ-1188-uin-bukittinggi.rss" type="application/rss+xml" medium="document" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
	<media:content url="https://juris.id/jur-19662-jurnal-fuaduna-jurnal-kajian-keagamaan-kemasyarakatan.rss" type="application/rss+xml" medium="document" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
 </entry>
 <entry>
	<title><![CDATA[ Reconfiguring Subjectivity in the Hard Problem of Consciousness VarelaAos Neurophenomenology and MullA adrAAos Knowledge by Presence ]]></title>
	<dc:title><![CDATA[ Reconfiguring Subjectivity in the Hard Problem of Consciousness VarelaAos Neurophenomenology and MullA adrAAos Knowledge by Presence ]]></dc:title>
	<itunes:subtitle><![CDATA[ Reconfiguring Subjectivity in the Hard Problem of Consciousness VarelaAos Neurophenomenology and MullA adrAAos Knowledge by Presence ]]></itunes:subtitle>
	<link rel="via" type="text/html" href="https://juris.id/pdf-68668-modern-studi-komparatif-nilai-stu" />
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://juris.id/pdf-68668-modern-studi-komparatif-nilai-stu" />
	<link rel="alternate" type="application/xml" href="https://juris.id/last-updates.rss" />
	<id>tag:juris.id,2026-09-23:b42a58cf8db9a71542fd6d9e9e80bcf3</id>
	<published>2026-09-23T16:32:13+07:00</published>
	<updated>2026-09-23T16:32:13+07:00</updated>
	<dc:publisher><![CDATA[ juris JURIS.id ]]></dc:publisher>
	<category term="rumah jurnal" label="rumah jurnal" />
	<category term="fethullah g" label="fethullah g" />
	<category term="living qur" label="living qur" />
	<itunes:keywords><![CDATA[fethullah,g,jurnal,living,qur,rumah]]></itunes:keywords>
	<itunes:summary><![CDATA[ Saran penelitian lanjutan yang baru berdasarkan latar belakang, metode, hasil, keterbatasan, dan bagian saran penelitian lanjutan (jika ada) adalah sebagai berikut: 1. Mengembangkan studi empiris yang menyelidiki hubungan antara neurofenomenologi dan ]]></itunes:summary>
  <summary><![CDATA[ Saran penelitian lanjutan yang baru berdasarkan latar belakang, metode, hasil, keterbatasan, dan bagian saran penelitian lanjutan (jika ada) adalah sebagai berikut: 1. Mengembangkan studi empiris yang menyelidiki hubungan antara neurofenomenologi dan ]]></summary>
  <content type="html"><![CDATA[ <p>
<a href="https://cdn.juris.id/0/d/modern-studi-komparatif-nilai-empiris-kepustakaan-thumb-bcd59.webp" title="JURIS - Reconfiguring Subjectivity in the Hard Problem of Consciousness: VarelaAos Neurophenomenology and MullA adrAAos Knowledge by Presence" class="imga">
<img width="100%" src="https://cdn.juris.id/0/d/modern-studi-komparatif-nilai-empiris-kepustakaan-thumb-bcd59.webp" data-src="https://cdn.juris.id/0/d/modern-studi-komparatif-nilai-empiris-kepustakaan-thumb-bcd59.webp" srcset="https://cdn.juris.id/0/d/modern-studi-komparatif-nilai-empiris-kepustakaan-thumb-bcd59.webp 1x" title="JURIS - Reconfiguring Subjectivity in the Hard Problem of Consciousness: VarelaAos Neurophenomenology and MullA adrAAos Knowledge by Presence" alt="JURIS - Reconfiguring Subjectivity in the Hard Problem of Consciousness: VarelaAos Neurophenomenology and MullA adrAAos Knowledge by Presence" >
</a>
<a href="https://cdn.juris.id/0/d/modern-studi-komparatif-nilai-empiris-kepustakaan-thumb-2ca6f.webp" title="JURIS - Reconfiguring Subjectivity in the Hard Problem of Consciousness: VarelaAos Neurophenomenology and MullA adrAAos Knowledge by Presence" class="imga">
<img width="100%" src="https://cdn.juris.id/0/d/modern-studi-komparatif-nilai-empiris-kepustakaan-thumb-2ca6f.webp" data-src="https://cdn.juris.id/0/d/modern-studi-komparatif-nilai-empiris-kepustakaan-thumb-2ca6f.webp" srcset="https://cdn.juris.id/0/d/modern-studi-komparatif-nilai-empiris-kepustakaan-thumb-2ca6f.webp 1x" title="JURIS - Reconfiguring Subjectivity in the Hard Problem of Consciousness: VarelaAos Neurophenomenology and MullA adrAAos Knowledge by Presence" alt="JURIS - Reconfiguring Subjectivity in the Hard Problem of Consciousness: VarelaAos Neurophenomenology and MullA adrAAos Knowledge by Presence" >
</a>
<a href="https://cdn.juris.id/0/d/modern-studi-komparatif-nilai-empiris-kepustakaan-thumb-0f396.webp" title="JURIS - Reconfiguring Subjectivity in the Hard Problem of Consciousness: VarelaAos Neurophenomenology and MullA adrAAos Knowledge by Presence" class="imga">
<img width="100%" src="https://cdn.juris.id/0/d/modern-studi-komparatif-nilai-empiris-kepustakaan-thumb-0f396.webp" data-src="https://cdn.juris.id/0/d/modern-studi-komparatif-nilai-empiris-kepustakaan-thumb-0f396.webp" srcset="https://cdn.juris.id/0/d/modern-studi-komparatif-nilai-empiris-kepustakaan-thumb-0f396.webp 1x" title="JURIS - Reconfiguring Subjectivity in the Hard Problem of Consciousness: VarelaAos Neurophenomenology and MullA adrAAos Knowledge by Presence" alt="JURIS - Reconfiguring Subjectivity in the Hard Problem of Consciousness: VarelaAos Neurophenomenology and MullA adrAAos Knowledge by Presence" >
</a>
<a href="https://juris.id/calendar" target="_blank">#calendar</a> - <a href="https://juris.id/pdf-68668-modern-studi-komparatif-nilai-stu" title="JURIS - Reconfiguring Subjectivity in the Hard Problem of Consciousness: VarelaAos Neurophenomenology and MullA adrAAos Knowledge by Presence" target="_blank">Reconfiguring Subjectivity in the Hard Problem of Consciousness: VarelaAos Neurophenomenology and MullA adrAAos Knowledge by Presence</a>: Saran penelitian lanjutan yang baru berdasarkan latar belakang, metode, hasil, keterbatasan, dan bagian saran penelitian lanjutan (jika ada) adalah sebagai berikut: 1. Mengembangkan studi empiris yang menyelidiki hubungan antara neurofenomenologi dan epistemologi adrA, dengan fokus pada bagaimana integrasi kedua pendekatan ini dapat memperkuat landasan metodologis dan epistemologis studi kesadaran. 2. Melakukan penelitian komparatif yang menyeluruh antara pemikiran Varela dan adrA, dengan tujuan untuk mengidentifikasi kesamaan dan perbedaan antara kedua pendekatan dan bagaimana mereka dapat saling melengkapi dalam memahami struktur pengalaman subjektif dan qualia. 3. Menganalisis lebih lanjut konsep 'pengetahuan melalui kehadiran' (al-ilm al-uusr) adrA dan bagaimana konsep ini dapat diterapkan pada studi empiris tentang kesadaran dan subjektivitas. Penelitian ini dapat membantu memahami bagaimana pengalaman subjektif dapat diakses dan dipahami dari dalam, serta memberikan kontribusi pada pemahaman yang lebih komprehensif tentang masalah kesadaran yang sulit..
<br>Beberapa refleksi reflektif dapat ditarik dari penjelasan tiga pandangan tentang subjektivitas dalam masalah kesadaran yang sulit di atas.Pertama, mengenai konsep kesadaran dari Chalmers, Varela, dan MullA adrA.Perbandingan tiga perspektif tentang kesadaran dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.Kesimpulan yang dapat ditarik dari deskripsi di atas adalah sebagai berikut.Awalnya, penelitian mengidentifikasi pengasingan subjektivitas dari narasi ilmiah sebagai akar masalah kesadaran yang sulit.Sementara qualia (aspek subjektif pengalaman) diakui sebagai masalah inti masalah kesadaran yang sulit, ilmu pengetahuan arus utama kekurangan kerangka kerja metodologis untuk memeriksa mereka.Hal ini menyebabkan ketidaktahuan epistemis tentang struktur pengalaman subjektif.Oleh karena itu, munculnya diskursus tentang masalah kesadaran yang sulit pada dasarnya telah mengembalikan narasi subjektif ke ranah ilmiah sebagai bagian integral dari konstruksi pengetahuan.Melawan latar belakang ini, penelitian ini melakukan studi komparatif pemikiran Francisco Varela dan MullA adrA untuk memperoleh perspektif alternatif tentang kesadaran dan subjektivitas dari dua tradisi yang berbeda.Persimpangan tiga sekolah pemikiran - Chalmers, Varela, dan Sadra - adalah pandangan fundamental yang bersama-sama tentang pengalaman sadar, yaitu keintiman, keintiman, non-reductiveness, kebenaran yang jelas, dan privasi kesadaran.Berdasarkan ini, penelitian mengidentifikasi perbedaan antara tiga untuk memperoleh perspektif baru
<br>Artikel ini mengkaji persoalan subjektivitas dalam formulasi hard problem of consciousness David Chalmers, khususnya terkait kesulitan menjelaskan pengalaman subjektif dan qualia dalam kerangka ilmiah yang didominasi perspektif orang ketiga. Penelitian ini berargumen bahwa pengabaian atau peminggiran subjek yang mengalami pengalaman menimbulkan keterbatasan metodologis dalam penelitian kesadaran sekaligus kesenjangan epistemologis dalam menjelaskan struktur dan pengetahuan atas pengalaman subjektif. Untuk menjawab persoalan tersebut, penelitian ini memperbandingkan neurofenomenologi Francisco Varela dan psikologi...
<br>Kunjungi <a href="https://juris.id/calendar" target="_blank">calendar</a> untuk informasi lainnya.
</p>
 ]]></content>
	<enclosure url="https://cdn.juris.id/0/d/modern-studi-komparatif-nilai-empiris-kepustakaan-thumb-2ca6f.webp" type="image/webp" length="96230" />
	<media:content url="https://cdn.juris.id/0/d/modern-studi-komparatif-nilai-empiris-kepustakaan-thumb-bcd59.webp" type="image/webp" medium="image" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
	<media:content url="https://cdn.juris.id/0/d/modern-studi-komparatif-nilai-empiris-kepustakaan-thumb-2ca6f.webp" type="image/webp" medium="image" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
	<media:content url="https://cdn.juris.id/0/d/modern-studi-komparatif-nilai-empiris-kepustakaan-thumb-0f396.webp" type="image/webp" medium="image" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
	<media:content url="https://juris.id/univ-1188-uin-bukittinggi.rss" type="application/rss+xml" medium="document" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
	<media:content url="https://juris.id/jur-19662-jurnal-fuaduna-jurnal-kajian-keagamaan-kemasyarakatan.rss" type="application/rss+xml" medium="document" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
 </entry>
 <entry>
	<title><![CDATA[ Religious Moderation as a Framework for Peaceful Coexistence in Contemporary Islamic Thought ]]></title>
	<dc:title><![CDATA[ Religious Moderation as a Framework for Peaceful Coexistence in Contemporary Islamic Thought ]]></dc:title>
	<itunes:subtitle><![CDATA[ Religious Moderation as a Framework for Peaceful Coexistence in Contemporary Islamic Thought ]]></itunes:subtitle>
	<link rel="via" type="text/html" href="https://juris.id/pdf-68682-kebisingan-keagamaan-islam-moderasi-beragama-konse" />
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://juris.id/pdf-68682-kebisingan-keagamaan-islam-moderasi-beragama-konse" />
	<link rel="alternate" type="application/xml" href="https://juris.id/last-updates.rss" />
	<id>tag:juris.id,2026-09-23:1d6dbb41cebaa3b0682a89a669c0ec34</id>
	<published>2026-09-23T16:32:13+07:00</published>
	<updated>2026-09-23T16:32:13+07:00</updated>
	<dc:publisher><![CDATA[ juris JURIS.id ]]></dc:publisher>
	<category term="rumah jurnal" label="rumah jurnal" />
	<category term="view vol" label="view vol" />
	<itunes:keywords><![CDATA[jurnal,rumah,view,vol]]></itunes:keywords>
	<itunes:summary><![CDATA[ Untuk penelitian lanjutan, dapat diusulkan beberapa arah studi. Pertama, bagaimana implementasi moderasi beragama dalam kurikulum pendidikan formal dan non-formal, terutama dalam konteks Indonesia. Kedua, bagaimana peran media sosial dan teknologi digital ]]></itunes:summary>
  <summary><![CDATA[ Untuk penelitian lanjutan, dapat diusulkan beberapa arah studi. Pertama, bagaimana implementasi moderasi beragama dalam kurikulum pendidikan formal dan non-formal, terutama dalam konteks Indonesia. Kedua, bagaimana peran media sosial dan teknologi digital ]]></summary>
  <content type="html"><![CDATA[ <p>
<a href="https://cdn.juris.id/5/d/kebisingan-keagamaan-islam-moderasi-beragama-konse-thumb-6c91d.webp" title="JURIS - Religious Moderation as a Framework for Peaceful Coexistence in Contemporary Islamic Thought" class="imga">
<img width="100%" src="https://cdn.juris.id/5/d/kebisingan-keagamaan-islam-moderasi-beragama-konse-thumb-6c91d.webp" data-src="https://cdn.juris.id/5/d/kebisingan-keagamaan-islam-moderasi-beragama-konse-thumb-6c91d.webp" srcset="https://cdn.juris.id/5/d/kebisingan-keagamaan-islam-moderasi-beragama-konse-thumb-6c91d.webp 1x" title="JURIS - Religious Moderation as a Framework for Peaceful Coexistence in Contemporary Islamic Thought" alt="JURIS - Religious Moderation as a Framework for Peaceful Coexistence in Contemporary Islamic Thought" >
</a>
<a href="https://cdn.juris.id/5/d/kebisingan-keagamaan-islam-moderasi-beragama-konse-thumb-46c48.webp" title="JURIS - Religious Moderation as a Framework for Peaceful Coexistence in Contemporary Islamic Thought" class="imga">
<img width="100%" src="https://cdn.juris.id/5/d/kebisingan-keagamaan-islam-moderasi-beragama-konse-thumb-46c48.webp" data-src="https://cdn.juris.id/5/d/kebisingan-keagamaan-islam-moderasi-beragama-konse-thumb-46c48.webp" srcset="https://cdn.juris.id/5/d/kebisingan-keagamaan-islam-moderasi-beragama-konse-thumb-46c48.webp 1x" title="JURIS - Religious Moderation as a Framework for Peaceful Coexistence in Contemporary Islamic Thought" alt="JURIS - Religious Moderation as a Framework for Peaceful Coexistence in Contemporary Islamic Thought" >
</a>
<a href="https://cdn.juris.id/5/d/kebisingan-keagamaan-islam-moderasi-beragama-konse-thumb-b1b19.webp" title="JURIS - Religious Moderation as a Framework for Peaceful Coexistence in Contemporary Islamic Thought" class="imga">
<img width="100%" src="https://cdn.juris.id/5/d/kebisingan-keagamaan-islam-moderasi-beragama-konse-thumb-b1b19.webp" data-src="https://cdn.juris.id/5/d/kebisingan-keagamaan-islam-moderasi-beragama-konse-thumb-b1b19.webp" srcset="https://cdn.juris.id/5/d/kebisingan-keagamaan-islam-moderasi-beragama-konse-thumb-b1b19.webp 1x" title="JURIS - Religious Moderation as a Framework for Peaceful Coexistence in Contemporary Islamic Thought" alt="JURIS - Religious Moderation as a Framework for Peaceful Coexistence in Contemporary Islamic Thought" >
</a>
<a href="https://juris.id/calendar" target="_blank">#calendar</a> - <a href="https://juris.id/pdf-68682-kebisingan-keagamaan-islam-moderasi-beragama-konse" title="JURIS - Religious Moderation as a Framework for Peaceful Coexistence in Contemporary Islamic Thought" target="_blank">Religious Moderation as a Framework for Peaceful Coexistence in Contemporary Islamic Thought</a>: Untuk penelitian lanjutan, dapat diusulkan beberapa arah studi. Pertama, bagaimana implementasi moderasi beragama dalam kurikulum pendidikan formal dan non-formal, terutama dalam konteks Indonesia. Kedua, bagaimana peran media sosial dan teknologi digital dalam mempromosikan atau menghambat moderasi beragama, serta strategi apa yang dapat diterapkan untuk meningkatkan literasi intelektual dan spiritual di era digital. Ketiga, bagaimana moderasi beragama dapat diwujudkan dalam praktik-praktik keagamaan sehari-hari, seperti ibadah, interaksi sosial, dan pengambilan keputusan etis. Penelitian-penelitian ini dapat memberikan kontribusi lebih lanjut dalam memahami dan mempromosikan moderasi beragama sebagai kerangka kerja untuk membangun perdamaian di masyarakat yang semakin beragam dan terfragmentasi..
<br>Dalam pemikiran Islam kontemporer, moderasi beragama muncul sebagai konstruksi multidimensional yang berakar pada pendidikan, dialog budaya, dan etika spiritual.Melalui ajaran para ulama Islam terkemuka, baik klasik maupun modern, moderasi (wasathiyah) muncul sebagai prinsip teologis, etika hidup, dan respons strategis terhadap ekstremisme, intoleransi, dan fragmentasi ideologis di era digital.Studi ini mengidentifikasi tiga kerangka utama dalam membangun perdamaian.(1) kerangka intelektual dan pendidikan yang berfokus pada tafsir kontekstual, pedagogi Islam, dan keseimbangan epistemologis.(2) kerangka dialog sosial-budaya yang menekankan pluralisme, inklusivitas, dan keterlibatan antaragama melalui komunikasi artistik dan simbolis.dan (3) kerangka spiritual-etika yang menarik dari Sufisme dan yurisprudensi berbasis maqashid untuk mendorong perdamaian batin dan harmoni sosial.Meskipun memiliki penekanan yang berbeda, ketiga kerangka ini bersatu dalam visi Islam sebagai sumber kasih sayang, kebijaksanaan, dan koeksistensi.Penting untuk memahami moderasi beragama sebagai dedikasi proaktif terhadap prinsip-prinsip keadilan, harmoni, dan kasih sayang, bukan sebagai sikap pasif atau akomodatif.Kontribusi para ulama ini berfungsi sebagai sumber teoretis dan panduan praktis bagi pendidik, pembuat kebijakan, dan pemimpin agama untuk membangun masyarakat plural yang damai.Komitmen ini harus terus dibudidayakan, dikontekstualisasikan, dan dikomunikasikan lintas generasi
<br>Di tengah meningkatnya polarisasi keagamaan dan rigiditas ideologi yang kian merebak, moderasi dalam Islam menjadi kebutuhan mendesak secara teologis dan moral. Studi ini mengkaji bagaimana konsep moderasi beragama (wasatiyyah) dipahami dalam pemikiran Islam kontemporer, dengan menelusuri keragaman tradisi intelektual dan konteks sosial-budaya yang melingkupinya. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi pustaka dengan metode deskriptif-analitis. Data diambil dari pemikiran sebelas tokoh: Quraish Shihab, Yusuf al-Qaradawi, Muchlis Hanafi, Dainawi, Husain Thabathabai, Abdurrahman Wahid, Musthofa Bisri, Joachim Wach, Djamaluddin Ahmad, dan Afifuddin Muhajir. Gagasan para tokoh tentang moderasi beragama ditelusuri melalui artikel ilmiah yang tersebar di portal Moraref dan jurnal-jurnal yang terafiliasi dengan Perguruan Tinggi...
<br>Kunjungi <a href="https://juris.id/calendar" target="_blank">calendar</a> untuk informasi lainnya.
</p>
 ]]></content>
	<enclosure url="https://cdn.juris.id/5/d/kebisingan-keagamaan-islam-moderasi-beragama-konse-thumb-b1b19.webp" type="image/webp" length="85020" />
	<media:content url="https://cdn.juris.id/5/d/kebisingan-keagamaan-islam-moderasi-beragama-konse-thumb-6c91d.webp" type="image/webp" medium="image" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
	<media:content url="https://cdn.juris.id/5/d/kebisingan-keagamaan-islam-moderasi-beragama-konse-thumb-46c48.webp" type="image/webp" medium="image" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
	<media:content url="https://cdn.juris.id/5/d/kebisingan-keagamaan-islam-moderasi-beragama-konse-thumb-b1b19.webp" type="image/webp" medium="image" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
	<media:content url="https://juris.id/univ-1188-uin-bukittinggi.rss" type="application/rss+xml" medium="document" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
	<media:content url="https://juris.id/jur-19662-jurnal-fuaduna-jurnal-kajian-keagamaan-kemasyarakatan.rss" type="application/rss+xml" medium="document" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
 </entry>
 <entry>
	<title><![CDATA[ Cultural Identity in the Book of Tafsir Raudhatul Irfan fi Marifatil Quran by K H Ahmad Sanusi ]]></title>
	<dc:title><![CDATA[ Cultural Identity in the Book of Tafsir Raudhatul Irfan fi Marifatil Quran by K H Ahmad Sanusi ]]></dc:title>
	<itunes:subtitle><![CDATA[ Cultural Identity in the Book of Tafsir Raudhatul Irfan fi Marifatil Quran by K H Ahmad Sanusi ]]></itunes:subtitle>
	<link rel="via" type="text/html" href="https://juris.id/pdf-68662-kitab-tafsir-hidyat-bahasa-sunda-banten-identitas" />
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://juris.id/pdf-68662-kitab-tafsir-hidyat-bahasa-sunda-banten-identitas" />
	<link rel="alternate" type="application/xml" href="https://juris.id/last-updates.rss" />
	<id>tag:juris.id,2026-09-23:6f96e76974adcb147519927fd51f32cd</id>
	<published>2026-09-23T16:32:13+07:00</published>
	<updated>2026-09-23T16:32:13+07:00</updated>
	<dc:publisher><![CDATA[ juris JURIS.id ]]></dc:publisher>
	<category term="ahmad sanusi" label="ahmad sanusi" />
	<category term="rumah jurnal" label="rumah jurnal" />
	<category term="rifatil qur" label="rifatil qur" />
	<itunes:keywords><![CDATA[ahmad,jurnal,qur,rifatil,rumah,sanusi]]></itunes:keywords>
	<itunes:summary><![CDATA[ Berdasarkan penelitian ini, ada beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat dikembangkan. Pertama, dapat dilakukan penelitian lebih mendalam mengenai pengaruh penggunaan bahasa Sunda dalam tafsir Raudhatul Irfan terhadap pemahaman dan interpretasi ajaran ]]></itunes:summary>
  <summary><![CDATA[ Berdasarkan penelitian ini, ada beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat dikembangkan. Pertama, dapat dilakukan penelitian lebih mendalam mengenai pengaruh penggunaan bahasa Sunda dalam tafsir Raudhatul Irfan terhadap pemahaman dan interpretasi ajaran ]]></summary>
  <content type="html"><![CDATA[ <p>
<a href="https://cdn.juris.id/5/6/kitab-tafsir-hidyat-bahasa-sunda-banten-identitas-thumb-4f9d1.webp" title="JURIS - Cultural Identity in the Book of Tafsir Raudhatul Irfan fi Ma&#039;rifatil Qur&#039;an by K.H. Ahmad Sanusi" class="imga">
<img width="100%" src="https://cdn.juris.id/5/6/kitab-tafsir-hidyat-bahasa-sunda-banten-identitas-thumb-4f9d1.webp" data-src="https://cdn.juris.id/5/6/kitab-tafsir-hidyat-bahasa-sunda-banten-identitas-thumb-4f9d1.webp" srcset="https://cdn.juris.id/5/6/kitab-tafsir-hidyat-bahasa-sunda-banten-identitas-thumb-4f9d1.webp 1x" title="JURIS - Cultural Identity in the Book of Tafsir Raudhatul Irfan fi Ma&#039;rifatil Qur&#039;an by K.H. Ahmad Sanusi" alt="JURIS - Cultural Identity in the Book of Tafsir Raudhatul Irfan fi Ma&#039;rifatil Qur&#039;an by K.H. Ahmad Sanusi" >
</a>
<a href="https://cdn.juris.id/5/6/kitab-tafsir-hidyat-bahasa-sunda-banten-identitas-thumb-9a94b.webp" title="JURIS - Cultural Identity in the Book of Tafsir Raudhatul Irfan fi Ma&#039;rifatil Qur&#039;an by K.H. Ahmad Sanusi" class="imga">
<img width="100%" src="https://cdn.juris.id/5/6/kitab-tafsir-hidyat-bahasa-sunda-banten-identitas-thumb-9a94b.webp" data-src="https://cdn.juris.id/5/6/kitab-tafsir-hidyat-bahasa-sunda-banten-identitas-thumb-9a94b.webp" srcset="https://cdn.juris.id/5/6/kitab-tafsir-hidyat-bahasa-sunda-banten-identitas-thumb-9a94b.webp 1x" title="JURIS - Cultural Identity in the Book of Tafsir Raudhatul Irfan fi Ma&#039;rifatil Qur&#039;an by K.H. Ahmad Sanusi" alt="JURIS - Cultural Identity in the Book of Tafsir Raudhatul Irfan fi Ma&#039;rifatil Qur&#039;an by K.H. Ahmad Sanusi" >
</a>
<a href="https://cdn.juris.id/5/6/kitab-tafsir-hidyat-bahasa-sunda-banten-identitas-thumb-294e2.webp" title="JURIS - Cultural Identity in the Book of Tafsir Raudhatul Irfan fi Ma&#039;rifatil Qur&#039;an by K.H. Ahmad Sanusi" class="imga">
<img width="100%" src="https://cdn.juris.id/5/6/kitab-tafsir-hidyat-bahasa-sunda-banten-identitas-thumb-294e2.webp" data-src="https://cdn.juris.id/5/6/kitab-tafsir-hidyat-bahasa-sunda-banten-identitas-thumb-294e2.webp" srcset="https://cdn.juris.id/5/6/kitab-tafsir-hidyat-bahasa-sunda-banten-identitas-thumb-294e2.webp 1x" title="JURIS - Cultural Identity in the Book of Tafsir Raudhatul Irfan fi Ma&#039;rifatil Qur&#039;an by K.H. Ahmad Sanusi" alt="JURIS - Cultural Identity in the Book of Tafsir Raudhatul Irfan fi Ma&#039;rifatil Qur&#039;an by K.H. Ahmad Sanusi" >
</a>
<a href="https://juris.id/calendar" target="_blank">#calendar</a> - <a href="https://juris.id/pdf-68662-kitab-tafsir-hidyat-bahasa-sunda-banten-identitas" title="JURIS - Cultural Identity in the Book of Tafsir Raudhatul Irfan fi Ma&#039;rifatil Qur&#039;an by K.H. Ahmad Sanusi" target="_blank">Cultural Identity in the Book of Tafsir Raudhatul Irfan fi Ma'rifatil Qur'an by K.H. Ahmad Sanusi</a>: Berdasarkan penelitian ini, ada beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat dikembangkan. Pertama, dapat dilakukan penelitian lebih mendalam mengenai pengaruh penggunaan bahasa Sunda dalam tafsir Raudhatul Irfan terhadap pemahaman dan interpretasi ajaran Islam di kalangan masyarakat Sunda. Kedua, dapat dilakukan studi komparatif antara tafsir Raudhatul Irfan dengan tafsir-tafsir lain yang menggunakan bahasa daerah, untuk menganalisis perbedaan dan kesamaan dalam pendekatan interpretasi dan penyampaian pesan agama. Ketiga, penelitian dapat dilakukan untuk mengeksplorasi lebih lanjut mengenai peran dan pengaruh aksara Pegon dalam melestarikan tradisi literasi lokal dan menjaga identitas budaya Sunda dalam konteks keagamaan..
<br>Cultural identity encompasses local wisdom, which includes aspects of language, activities, practices, customs, and traditions that are unique to a particular region.This study reveals that the Tafsir Raudhatul Irfan by K.Ahmad Sanusi, a prominent scholar from West Java, is a reflection of such cultural identity.The cultural identity in this tafsir is clearly evident through the use of the Sundanese language, which the mufassir chose to communicate the QurAoanic message to students who were already familiar with the language rather than to a broader audience.This choice was not only influenced by K.Ahmad SanusiAos background as a student of Islamic knowledge but also served to strengthen the local cultural ties within Islamic education.Ahmad Sanusi employed the Pegon script, a writing system resembling the Arabic script used for the Sundanese, Javanese, and Madurese languages.The use of Pegon in this tafsir also had a strategic dimension, aimed at maintaining confidentiality in communication between Islamic schools and preventing comprehension by the Dutch colonial authorities, thus reflecting local wisdom in the social and political context of that time
<br>Kitab tafsir merupakan salah satu sarana penting dalam menjelaskan dan mendalami ajaran Al-QurAoan di tengah masyarakat. Selain berfungsi sebagai instrumen keagamaan, kitab tafsir sering kali mencerminkan kekayaan budaya dengan menggabungkan aspek-aspek keislaman dengan nilai-nilai budaya setempat. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana identitas kultural masyarakat Sunda tercermin dalam Tafsir Raudhatul Irfan fi MaAorifatil QurAoan yang ditulis oleh K.H. Ahmad Sanusi dari Sukabumi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa identitas kultural dalam...
<br>Kunjungi <a href="https://juris.id/calendar" target="_blank">calendar</a> untuk informasi lainnya.
</p>
 ]]></content>
	<enclosure url="https://cdn.juris.id/5/6/kitab-tafsir-hidyat-bahasa-sunda-banten-identitas-thumb-294e2.webp" type="image/webp" length="93370" />
	<media:content url="https://cdn.juris.id/5/6/kitab-tafsir-hidyat-bahasa-sunda-banten-identitas-thumb-4f9d1.webp" type="image/webp" medium="image" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
	<media:content url="https://cdn.juris.id/5/6/kitab-tafsir-hidyat-bahasa-sunda-banten-identitas-thumb-9a94b.webp" type="image/webp" medium="image" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
	<media:content url="https://cdn.juris.id/5/6/kitab-tafsir-hidyat-bahasa-sunda-banten-identitas-thumb-294e2.webp" type="image/webp" medium="image" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
	<media:content url="https://juris.id/univ-1188-uin-bukittinggi.rss" type="application/rss+xml" medium="document" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
	<media:content url="https://juris.id/jur-19662-jurnal-fuaduna-jurnal-kajian-keagamaan-kemasyarakatan.rss" type="application/rss+xml" medium="document" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
 </entry>
 <entry>
	<title><![CDATA[ Gus Durs Understanding of Humanity and Pluralism in Defending the Indonesian Chinese Community ]]></title>
	<dc:title><![CDATA[ Gus Durs Understanding of Humanity and Pluralism in Defending the Indonesian Chinese Community ]]></dc:title>
	<itunes:subtitle><![CDATA[ Gus Durs Understanding of Humanity and Pluralism in Defending the Indonesian Chinese Community ]]></itunes:subtitle>
	<link rel="via" type="text/html" href="https://juris.id/pdf-68676-tangan-gus-dur-identitas-warga-negara-masyarakat-k" />
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://juris.id/pdf-68676-tangan-gus-dur-identitas-warga-negara-masyarakat-k" />
	<link rel="alternate" type="application/xml" href="https://juris.id/last-updates.rss" />
	<id>tag:juris.id,2026-09-23:8c0006d7f34f713b4ef910161ea01bb3</id>
	<published>2026-09-23T16:32:13+07:00</published>
	<updated>2026-09-23T16:32:13+07:00</updated>
	<dc:publisher><![CDATA[ juris JURIS.id ]]></dc:publisher>
	<category term="ahmad sanusi" label="ahmad sanusi" />
	<category term="rumah jurnal" label="rumah jurnal" />
	<category term="rifatil qur" label="rifatil qur" />
	<itunes:keywords><![CDATA[ahmad,jurnal,qur,rifatil,rumah,sanusi]]></itunes:keywords>
	<itunes:summary><![CDATA[ Untuk penelitian lanjutan, dapat diusulkan beberapa ide berikut: Pertama, menyelidiki lebih lanjut bagaimana pemikiran Gus Dur tentang kemanusiaan dan pluralisme dapat diterapkan dalam konteks sosial dan politik Indonesia saat ini, terutama dalam upaya ]]></itunes:summary>
  <summary><![CDATA[ Untuk penelitian lanjutan, dapat diusulkan beberapa ide berikut: Pertama, menyelidiki lebih lanjut bagaimana pemikiran Gus Dur tentang kemanusiaan dan pluralisme dapat diterapkan dalam konteks sosial dan politik Indonesia saat ini, terutama dalam upaya ]]></summary>
  <content type="html"><![CDATA[ <p>
<a href="https://cdn.juris.id/9/0/tangan-gus-dur-identitas-warga-negara-masyarakat-k-thumb-f2ce7.webp" title="JURIS - Gus Dur&#039;s Understanding of Humanity and Pluralism in Defending the Indonesian Chinese Community" class="imga">
<img width="100%" src="https://cdn.juris.id/9/0/tangan-gus-dur-identitas-warga-negara-masyarakat-k-thumb-f2ce7.webp" data-src="https://cdn.juris.id/9/0/tangan-gus-dur-identitas-warga-negara-masyarakat-k-thumb-f2ce7.webp" srcset="https://cdn.juris.id/9/0/tangan-gus-dur-identitas-warga-negara-masyarakat-k-thumb-f2ce7.webp 1x" title="JURIS - Gus Dur&#039;s Understanding of Humanity and Pluralism in Defending the Indonesian Chinese Community" alt="JURIS - Gus Dur&#039;s Understanding of Humanity and Pluralism in Defending the Indonesian Chinese Community" >
</a>
<a href="https://cdn.juris.id/9/0/tangan-gus-dur-identitas-warga-negara-masyarakat-k-thumb-9eca3.webp" title="JURIS - Gus Dur&#039;s Understanding of Humanity and Pluralism in Defending the Indonesian Chinese Community" class="imga">
<img width="100%" src="https://cdn.juris.id/9/0/tangan-gus-dur-identitas-warga-negara-masyarakat-k-thumb-9eca3.webp" data-src="https://cdn.juris.id/9/0/tangan-gus-dur-identitas-warga-negara-masyarakat-k-thumb-9eca3.webp" srcset="https://cdn.juris.id/9/0/tangan-gus-dur-identitas-warga-negara-masyarakat-k-thumb-9eca3.webp 1x" title="JURIS - Gus Dur&#039;s Understanding of Humanity and Pluralism in Defending the Indonesian Chinese Community" alt="JURIS - Gus Dur&#039;s Understanding of Humanity and Pluralism in Defending the Indonesian Chinese Community" >
</a>
<a href="https://cdn.juris.id/9/0/tangan-gus-dur-identitas-warga-negara-masyarakat-k-thumb-1f79b.webp" title="JURIS - Gus Dur&#039;s Understanding of Humanity and Pluralism in Defending the Indonesian Chinese Community" class="imga">
<img width="100%" src="https://cdn.juris.id/9/0/tangan-gus-dur-identitas-warga-negara-masyarakat-k-thumb-1f79b.webp" data-src="https://cdn.juris.id/9/0/tangan-gus-dur-identitas-warga-negara-masyarakat-k-thumb-1f79b.webp" srcset="https://cdn.juris.id/9/0/tangan-gus-dur-identitas-warga-negara-masyarakat-k-thumb-1f79b.webp 1x" title="JURIS - Gus Dur&#039;s Understanding of Humanity and Pluralism in Defending the Indonesian Chinese Community" alt="JURIS - Gus Dur&#039;s Understanding of Humanity and Pluralism in Defending the Indonesian Chinese Community" >
</a>
<a href="https://juris.id/calendar" target="_blank">#calendar</a> - <a href="https://juris.id/pdf-68676-tangan-gus-dur-identitas-warga-negara-masyarakat-k" title="JURIS - Gus Dur&#039;s Understanding of Humanity and Pluralism in Defending the Indonesian Chinese Community" target="_blank">Gus Dur's Understanding of Humanity and Pluralism in Defending the Indonesian Chinese Community</a>: Untuk penelitian lanjutan, dapat diusulkan beberapa ide berikut: Pertama, menyelidiki lebih lanjut bagaimana pemikiran Gus Dur tentang kemanusiaan dan pluralisme dapat diterapkan dalam konteks sosial dan politik Indonesia saat ini, terutama dalam upaya mempromosikan kesetaraan dan toleransi. Kedua, menganalisis dampak kebijakan Gus Dur dalam membela hak-hak warga negara Tionghoa Indonesia dan bagaimana hal itu mempengaruhi hubungan antar-etnis di Indonesia. Ketiga, mengeksplorasi bagaimana pemikiran Gus Dur tentang pluralisme dapat diterapkan dalam pendidikan multikultural, dan bagaimana pendidikan tersebut dapat membantu membangun masyarakat yang inklusif dan harmonis..
<br>Berdasarkan tulisan artikel ini, dapat disimpulkan bahwa KH.Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah figur penting dengan pandangan yang luas, universal, global, dan penuh wawasan.sehingga figur seperti Gus Dur juga dikenal sebagai figur Islam Neo-Modernis kosmopolitan.Dari perspektif Islam dan pemikiran Gus Dur, kita diingatkan akan kesadaran keagamaan akan hal-hal substansial yang dapat melintasi batas-batas perbedaan agama itu sendiri dan memahami substansi dari keragaman, yaitu tentang kemanusiaan.Semua penganut agama sama dalam keyakinannya bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan segala kompetensinya dan Gus Dur menekankan dan mengingatkan kita akan perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri melalui tindakannya yang konkret dalam membela ketidakadilan, diskriminasi, dan kelompok tertindas tanpa memandang agama, etnis, dan ras.Pemahaman kemanusiaan menegakkan martabat, kehormatan, dan sikap saling menghormati manusia.Oleh karena itu, ideologi pluralisme Gus Dur mendorong semua orang untuk memahami dan menerima keragaman dengan hati yang terbuka, karena itu adalah kenyataan hidup yang tidak dapat disangkal, juga dikenal sebagai sunnatullah dalam Islam.Langkah-langkah kebijakan Gus Dur saat menjadi Presiden dengan mencabut Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967, yang melarang komunitas Tionghoa beribadah dan melaksanakan tradisi budaya mereka, bukan hanya pembelaan terhadap warga negara Tionghoa Indonesia, tetapi juga pembelaan terhadap hak asasi manusia untuk kebebasan setiap orang dan kelompok, sebagaimana dinyatakan dalam konsensus HAM PBB, dan juga sejalan dengan nilai-nilai ajaran Islam tentang al-insaniah (kemanusiaan)
<br>Artikel ini mengkaji dinamika rumit interaksi historis antara warga negara pribumi dan keturunan Tionghoa di Indonesia, dengan fokus pada dimensi ekonomi dan politik dari hubungan tersebut. Secara khusus, makalah ini menyelidiki kontribusi signifikan KH. Abdurrahman Wahid, yang dikenal sebagai Gus Dur, dalam memperjuangkan hak-hak warga negara Tionghoa Indonesia melalui sudut pandang kemanusiaan dan pluralisme. Dengan menggunakan metodologi kualitatif, terutama berdasarkan penelitian pustaka, penelitian ini mengungkap bahwa selama Orde Baru, kebijakan diskriminatifAiterutama Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 yang dikeluarkan...
<br>Kunjungi <a href="https://juris.id/calendar" target="_blank">calendar</a> untuk informasi lainnya.
</p>
 ]]></content>
	<enclosure url="https://cdn.juris.id/9/0/tangan-gus-dur-identitas-warga-negara-masyarakat-k-thumb-f2ce7.webp" type="image/webp" length="88086" />
	<media:content url="https://cdn.juris.id/9/0/tangan-gus-dur-identitas-warga-negara-masyarakat-k-thumb-f2ce7.webp" type="image/webp" medium="image" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
	<media:content url="https://cdn.juris.id/9/0/tangan-gus-dur-identitas-warga-negara-masyarakat-k-thumb-9eca3.webp" type="image/webp" medium="image" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
	<media:content url="https://cdn.juris.id/9/0/tangan-gus-dur-identitas-warga-negara-masyarakat-k-thumb-1f79b.webp" type="image/webp" medium="image" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
	<media:content url="https://juris.id/univ-1188-uin-bukittinggi.rss" type="application/rss+xml" medium="document" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
	<media:content url="https://juris.id/jur-19662-jurnal-fuaduna-jurnal-kajian-keagamaan-kemasyarakatan.rss" type="application/rss+xml" medium="document" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
 </entry>
 <entry>
	<title><![CDATA[ Sayyidina Ali And KhawarijAos Story in Qawaid Al Iman fi Bayan Al Iman Manuscript by Sheikh Tengku H Muhammad bin Alim ]]></title>
	<dc:title><![CDATA[ Sayyidina Ali And KhawarijAos Story in Qawaid Al Iman fi Bayan Al Iman Manuscript by Sheikh Tengku H Muhammad bin Alim ]]></dc:title>
	<itunes:subtitle><![CDATA[ Sayyidina Ali And KhawarijAos Story in Qawaid Al Iman fi Bayan Al Iman Manuscript by Sheikh Tengku H Muhammad bin Alim ]]></itunes:subtitle>
	<link rel="via" type="text/html" href="https://juris.id/pdf-68677-qawaid-al-iman-sheikh-tengku-khawarij-interogasi" />
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://juris.id/pdf-68677-qawaid-al-iman-sheikh-tengku-khawarij-interogasi" />
	<link rel="alternate" type="application/xml" href="https://juris.id/last-updates.rss" />
	<id>tag:juris.id,2026-09-23:f022d12a296d2a54198168d5da9eeb84</id>
	<published>2026-09-23T16:32:13+07:00</published>
	<updated>2026-09-23T16:32:13+07:00</updated>
	<dc:publisher><![CDATA[ juris JURIS.id ]]></dc:publisher>
	<category term="ahmad sanusi" label="ahmad sanusi" />
	<category term="rumah jurnal" label="rumah jurnal" />
	<category term="rifatil qur" label="rifatil qur" />
	<itunes:keywords><![CDATA[ahmad,jurnal,qur,rifatil,rumah,sanusi]]></itunes:keywords>
	<itunes:summary><![CDATA[ Penelitian lanjutan dapat fokus pada analisis dampak manuskrip Qawaid Al-Iman terhadap praktik keagamaan masyarakat lokal di Jambi. Selain itu, perlu dilakukan studi perbandingan antara pandangan Khawarij dalam manuskrip ini dengan kelompok Islam lainnya ]]></itunes:summary>
  <summary><![CDATA[ Penelitian lanjutan dapat fokus pada analisis dampak manuskrip Qawaid Al-Iman terhadap praktik keagamaan masyarakat lokal di Jambi. Selain itu, perlu dilakukan studi perbandingan antara pandangan Khawarij dalam manuskrip ini dengan kelompok Islam lainnya ]]></summary>
  <content type="html"><![CDATA[ <p>
<a href="https://cdn.juris.id/f/5/qawaid-al-iman-sheikh-tengku-khawarij-interogasi-s-thumb-95f82.webp" title="JURIS - Sayyidina Ali And KhawarijAos Story in Qawaid Al-Iman fi Bayan Al-Iman Manuscript by Sheikh Tengku H. Muhammad bin Alim" class="imga">
<img width="100%" src="https://cdn.juris.id/f/5/qawaid-al-iman-sheikh-tengku-khawarij-interogasi-s-thumb-95f82.webp" data-src="https://cdn.juris.id/f/5/qawaid-al-iman-sheikh-tengku-khawarij-interogasi-s-thumb-95f82.webp" srcset="https://cdn.juris.id/f/5/qawaid-al-iman-sheikh-tengku-khawarij-interogasi-s-thumb-95f82.webp 1x" title="JURIS - Sayyidina Ali And KhawarijAos Story in Qawaid Al-Iman fi Bayan Al-Iman Manuscript by Sheikh Tengku H. Muhammad bin Alim" alt="JURIS - Sayyidina Ali And KhawarijAos Story in Qawaid Al-Iman fi Bayan Al-Iman Manuscript by Sheikh Tengku H. Muhammad bin Alim" >
</a>
<a href="https://cdn.juris.id/f/5/qawaid-al-iman-sheikh-tengku-khawarij-interogasi-s-thumb-de1a4.webp" title="JURIS - Sayyidina Ali And KhawarijAos Story in Qawaid Al-Iman fi Bayan Al-Iman Manuscript by Sheikh Tengku H. Muhammad bin Alim" class="imga">
<img width="100%" src="https://cdn.juris.id/f/5/qawaid-al-iman-sheikh-tengku-khawarij-interogasi-s-thumb-de1a4.webp" data-src="https://cdn.juris.id/f/5/qawaid-al-iman-sheikh-tengku-khawarij-interogasi-s-thumb-de1a4.webp" srcset="https://cdn.juris.id/f/5/qawaid-al-iman-sheikh-tengku-khawarij-interogasi-s-thumb-de1a4.webp 1x" title="JURIS - Sayyidina Ali And KhawarijAos Story in Qawaid Al-Iman fi Bayan Al-Iman Manuscript by Sheikh Tengku H. Muhammad bin Alim" alt="JURIS - Sayyidina Ali And KhawarijAos Story in Qawaid Al-Iman fi Bayan Al-Iman Manuscript by Sheikh Tengku H. Muhammad bin Alim" >
</a>
<a href="https://cdn.juris.id/f/5/qawaid-al-iman-sheikh-tengku-khawarij-interogasi-s-thumb-9f8a0.webp" title="JURIS - Sayyidina Ali And KhawarijAos Story in Qawaid Al-Iman fi Bayan Al-Iman Manuscript by Sheikh Tengku H. Muhammad bin Alim" class="imga">
<img width="100%" src="https://cdn.juris.id/f/5/qawaid-al-iman-sheikh-tengku-khawarij-interogasi-s-thumb-9f8a0.webp" data-src="https://cdn.juris.id/f/5/qawaid-al-iman-sheikh-tengku-khawarij-interogasi-s-thumb-9f8a0.webp" srcset="https://cdn.juris.id/f/5/qawaid-al-iman-sheikh-tengku-khawarij-interogasi-s-thumb-9f8a0.webp 1x" title="JURIS - Sayyidina Ali And KhawarijAos Story in Qawaid Al-Iman fi Bayan Al-Iman Manuscript by Sheikh Tengku H. Muhammad bin Alim" alt="JURIS - Sayyidina Ali And KhawarijAos Story in Qawaid Al-Iman fi Bayan Al-Iman Manuscript by Sheikh Tengku H. Muhammad bin Alim" >
</a>
<a href="https://juris.id/calendar" target="_blank">#calendar</a> - <a href="https://juris.id/pdf-68677-qawaid-al-iman-sheikh-tengku-khawarij-interogasi" title="JURIS - Sayyidina Ali And KhawarijAos Story in Qawaid Al-Iman fi Bayan Al-Iman Manuscript by Sheikh Tengku H. Muhammad bin Alim" target="_blank">Sayyidina Ali And KhawarijAos Story in Qawaid Al-Iman fi Bayan Al-Iman Manuscript by Sheikh Tengku H. Muhammad bin Alim</a>: Penelitian lanjutan dapat fokus pada analisis dampak manuskrip Qawaid Al-Iman terhadap praktik keagamaan masyarakat lokal di Jambi. Selain itu, perlu dilakukan studi perbandingan antara pandangan Khawarij dalam manuskrip ini dengan kelompok Islam lainnya untuk memahami perkembangan sejarah pemikiran Islam. Terakhir, penelitian dapat mengeksplorasi peran manuskrip tradisional dalam pelestarian pengetahuan keagamaan, khususnya dalam konteks modernisasi dan globalisasi..
<br>Manuskrip Qawaid al-Iman fi Bayan al-Iman (Prinsip-prinsip Iman.Sebuah Eksposisi tentang Rukun-rukun Iman), yang ditulis oleh Sheikh Tengku H.Muhammad bin Alim, dibuat selama masa dakwahnya di Desa Muara Jernih antara tahun 1970 dan 1980, selesai lima tahun sebelum kematiannya.Manuskrip ini mencakup berbagai topik seperti hukum syariah, rukun iman, sifat moral, cerita dan parabel, serta diskusi tentang pemeliharaan tubuh setelah kematian.Isi utamanya adalah interaksi antara Sayyidina Ali dan Khawarij, di mana Ali menjawab pertanyaan berulang kali tentang keunggulan ilmu pengetahuan.Ali memberikan berbagai alasan mengapa ilmu pengetahuan lebih unggul daripada harta, menekankan bahwa sementara harta dapat rusak dan membuat hati keras, ilmu pengetahuan tetap abadi dan mampu menerangi jiwa.Pernyataannya bahwa ia akan memberikan alasan berbeda tergantung jumlah pertanyaan menunjukkan nilai tak terbatas dan multifaset dari ilmu pengetahuan.Pertukaran ini menegaskan pentingnya ilmu pengetahuan dalam pemikiran Islam, tema yang ditekankan oleh Sheikh Tengku sepanjang manuskripnya, menegaskan keunggulannya atas kekayaan material di dunia dan akhirat
<br>Kajian ini mengeksplorasi dua tema utama: naskah Qawaid al-Iman fi Bayan al-Iman karya Sheikh Tengku H. Muhammad bin Alim, dan narasi interogasi Sayyidina Ali oleh Khawarij, sebagaimana disajikan dalam naskah ini. Dengan menggunakan metodologi penelitian kualitatif, kajian ini bertujuan untuk mengkaji isu-isu ini secara mendalam, memanfaatkan pendekatan filologis untuk menganalisis teks. Penelitian ini mengadopsi kerangka deskriptif untuk merinci langkah-langkah sistematis analisis filologis, termasuk identifikasi teks, katalogisasi naskah, deskripsi, studi perbandingan, transliterasi, dan penerjemahan. Temuan menunjukkan bahwa naskah berjudul Qawaid al-Imani fi...
<br>Kunjungi <a href="https://juris.id/calendar" target="_blank">calendar</a> untuk informasi lainnya.
</p>
 ]]></content>
	<enclosure url="https://cdn.juris.id/f/5/qawaid-al-iman-sheikh-tengku-khawarij-interogasi-s-thumb-de1a4.webp" type="image/webp" length="90378" />
	<media:content url="https://cdn.juris.id/f/5/qawaid-al-iman-sheikh-tengku-khawarij-interogasi-s-thumb-95f82.webp" type="image/webp" medium="image" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
	<media:content url="https://cdn.juris.id/f/5/qawaid-al-iman-sheikh-tengku-khawarij-interogasi-s-thumb-de1a4.webp" type="image/webp" medium="image" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
	<media:content url="https://cdn.juris.id/f/5/qawaid-al-iman-sheikh-tengku-khawarij-interogasi-s-thumb-9f8a0.webp" type="image/webp" medium="image" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
	<media:content url="https://juris.id/univ-1188-uin-bukittinggi.rss" type="application/rss+xml" medium="document" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
	<media:content url="https://juris.id/jur-19662-jurnal-fuaduna-jurnal-kajian-keagamaan-kemasyarakatan.rss" type="application/rss+xml" medium="document" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
 </entry>
 <entry>
	<title><![CDATA[ The Early Development of Islamic Law Examining the Rational and Flexible Nature of Compilation and Standardization ]]></title>
	<dc:title><![CDATA[ The Early Development of Islamic Law Examining the Rational and Flexible Nature of Compilation and Standardization ]]></dc:title>
	<itunes:subtitle><![CDATA[ The Early Development of Islamic Law Examining the Rational and Flexible Nature of Compilation and Standardization ]]></itunes:subtitle>
	<link rel="via" type="text/html" href="https://juris.id/pdf-68667-ajaran-islam-modern-analysis-islamic-law-eko" />
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://juris.id/pdf-68667-ajaran-islam-modern-analysis-islamic-law-eko" />
	<link rel="alternate" type="application/xml" href="https://juris.id/last-updates.rss" />
	<id>tag:juris.id,2026-09-23:f766aadcf76b2c963084807c6ff64f49</id>
	<published>2026-09-23T16:32:13+07:00</published>
	<updated>2026-09-23T16:32:13+07:00</updated>
	<dc:publisher><![CDATA[ juris JURIS.id ]]></dc:publisher>
	<category term="ahmad sanusi" label="ahmad sanusi" />
	<category term="rumah jurnal" label="rumah jurnal" />
	<category term="rifatil qur" label="rifatil qur" />
	<itunes:keywords><![CDATA[ahmad,jurnal,qur,rifatil,rumah,sanusi]]></itunes:keywords>
	<itunes:summary><![CDATA[ Penelitian ini telah menguraikan bagaimana hukum Islam pada awalnya disusun dan distandarisasi dengan karakter rasional dan fleksibel. Namun, masih banyak ruang untuk eksplorasi lebih lanjut. Salah satu arah penelitian yang menarik adalah bagaimana prinsip ]]></itunes:summary>
  <summary><![CDATA[ Penelitian ini telah menguraikan bagaimana hukum Islam pada awalnya disusun dan distandarisasi dengan karakter rasional dan fleksibel. Namun, masih banyak ruang untuk eksplorasi lebih lanjut. Salah satu arah penelitian yang menarik adalah bagaimana prinsip ]]></summary>
  <content type="html"><![CDATA[ <p>
<a href="https://cdn.juris.id/8/8/ajaran-islam-modern-analysis-islamic-law-ekonomi-t-thumb-885c1.webp" title="JURIS - The Early Development of Islamic Law: Examining the Rational and Flexible Nature of Compilation and Standardization" class="imga">
<img width="100%" src="https://cdn.juris.id/8/8/ajaran-islam-modern-analysis-islamic-law-ekonomi-t-thumb-885c1.webp" data-src="https://cdn.juris.id/8/8/ajaran-islam-modern-analysis-islamic-law-ekonomi-t-thumb-885c1.webp" srcset="https://cdn.juris.id/8/8/ajaran-islam-modern-analysis-islamic-law-ekonomi-t-thumb-885c1.webp 1x" title="JURIS - The Early Development of Islamic Law: Examining the Rational and Flexible Nature of Compilation and Standardization" alt="JURIS - The Early Development of Islamic Law: Examining the Rational and Flexible Nature of Compilation and Standardization" >
</a>
<a href="https://cdn.juris.id/8/8/ajaran-islam-modern-analysis-islamic-law-ekonomi-t-thumb-015ea.webp" title="JURIS - The Early Development of Islamic Law: Examining the Rational and Flexible Nature of Compilation and Standardization" class="imga">
<img width="100%" src="https://cdn.juris.id/8/8/ajaran-islam-modern-analysis-islamic-law-ekonomi-t-thumb-015ea.webp" data-src="https://cdn.juris.id/8/8/ajaran-islam-modern-analysis-islamic-law-ekonomi-t-thumb-015ea.webp" srcset="https://cdn.juris.id/8/8/ajaran-islam-modern-analysis-islamic-law-ekonomi-t-thumb-015ea.webp 1x" title="JURIS - The Early Development of Islamic Law: Examining the Rational and Flexible Nature of Compilation and Standardization" alt="JURIS - The Early Development of Islamic Law: Examining the Rational and Flexible Nature of Compilation and Standardization" >
</a>
<a href="https://cdn.juris.id/8/8/ajaran-islam-modern-analysis-islamic-law-ekonomi-t-thumb-677ab.webp" title="JURIS - The Early Development of Islamic Law: Examining the Rational and Flexible Nature of Compilation and Standardization" class="imga">
<img width="100%" src="https://cdn.juris.id/8/8/ajaran-islam-modern-analysis-islamic-law-ekonomi-t-thumb-677ab.webp" data-src="https://cdn.juris.id/8/8/ajaran-islam-modern-analysis-islamic-law-ekonomi-t-thumb-677ab.webp" srcset="https://cdn.juris.id/8/8/ajaran-islam-modern-analysis-islamic-law-ekonomi-t-thumb-677ab.webp 1x" title="JURIS - The Early Development of Islamic Law: Examining the Rational and Flexible Nature of Compilation and Standardization" alt="JURIS - The Early Development of Islamic Law: Examining the Rational and Flexible Nature of Compilation and Standardization" >
</a>
<a href="https://juris.id/calendar" target="_blank">#calendar</a> - <a href="https://juris.id/pdf-68667-ajaran-islam-modern-analysis-islamic-law-eko" title="JURIS - The Early Development of Islamic Law: Examining the Rational and Flexible Nature of Compilation and Standardization" target="_blank">The Early Development of Islamic Law: Examining the Rational and Flexible Nature of Compilation and Standardization</a>: Penelitian ini telah menguraikan bagaimana hukum Islam pada awalnya disusun dan distandarisasi dengan karakter rasional dan fleksibel. Namun, masih banyak ruang untuk eksplorasi lebih lanjut. Salah satu arah penelitian yang menarik adalah bagaimana prinsip rasionalitas dan fleksibilitas hukum Islam ini secara konkret diterapkan dalam sistem hukum positif di negara-negara mayoritas Muslim saat ini. Studi kasus perbandingan bisa dilakukan untuk menganalisis putusan-putusan pengadilan atau fatwa-fatwa lembaga keagamaan terkait isu-isu kontemporer, misalnya di Indonesia yang memiliki konteks sosial-budaya unik, untuk melihat apakah "fleksibilitas" tersebut benar-benar dirasakan dan berfungsi sebagaimana mestinya di tengah masyarakat. Selanjutnya, akan sangat berharga untuk menelaah bagaimana para ahli hukum Islam modern menghadapi tantangan-tantangan baru yang tidak ada pada masa lampau, seperti etika digital, bioteknologi, atau krisis iklim. Penelitian dapat menganalisis interpretasi dan metodologi ijtihad yang digunakan untuk merumuskan hukum atas permasalahan-permasalahan kompleks tersebut, guna memastikan relevansi ajaran Islam di abad ke-21. Terakhir, mengingat perdebatan historis antara Madrasah al-Hadith dan Madrasah al-Ra'y yang menonjolkan perbedaan pendekatan dalam penetapan hukum, sebuah studi komparatif bisa mengeksplorasi sejauh mana warisan metodologi ini masih memengaruhi kerangka pemikiran dan keputusan hukum dalam diskursus fiqh modern. Ini akan membantu memahami bagaimana dinamika intelektual masa lalu terus membentuk cara hukum Islam beradaptasi dengan realitas yang terus berubah..
<br>Penyusunan dan standarisasi hukum Islam pasca-wafat Nabi Muhammad SAW melahirkan para ulama dengan keahlian luar biasa pada era salaf, menjadikan periode ini rujukan utama dalam penetapan hukum melalui qiyas dan ijmaAo.Karakteristik penting hukum Islam yang teridentifikasi adalah rasionalitas, fleksibilitas, dan kemudahannya, selaras dengan ajaran Al-Qur'an yang menghendaki kemudahan bagi umat manusia.Sifat rasional dan fleksibel hukum Islam ini tetap relevan dan harus menjadi rujukan utama dalam adopsi serta penetapan hukum Islam di era modern, sebagaimana diperkuat oleh berbagai penelitian kontemporer
<br>Penetapan hukum baku menjadi kerangka penting bagi umat Islam, khususnya dalam meredakan kekacauan pasca wafatnya Nabi Muhammad. Artikel ini mengkaji penyusunan dan standarisasi hukum Islam selama tahun-tahun pembentukan Islam, dengan menekankan kontribusi para Sahabat, yang membawa latar belakang dan perspektif yang beragam pada wacana tersebut. Analisis dimulai dengan konteks historis tentang bagaimana hukum Islam disusun dan distandarisasi, berlanjut ke eksplorasi karakteristik hukum Islam sebagaimana diartikulasikan oleh para ahli hukum (mujtahid). Melalui tinjauan pustaka yang komprehensif, makalah...
<br>Kunjungi <a href="https://juris.id/calendar" target="_blank">calendar</a> untuk informasi lainnya.
</p>
 ]]></content>
	<enclosure url="https://cdn.juris.id/8/8/ajaran-islam-modern-analysis-islamic-law-ekonomi-t-thumb-677ab.webp" type="image/webp" length="96762" />
	<media:content url="https://cdn.juris.id/8/8/ajaran-islam-modern-analysis-islamic-law-ekonomi-t-thumb-885c1.webp" type="image/webp" medium="image" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
	<media:content url="https://cdn.juris.id/8/8/ajaran-islam-modern-analysis-islamic-law-ekonomi-t-thumb-015ea.webp" type="image/webp" medium="image" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
	<media:content url="https://cdn.juris.id/8/8/ajaran-islam-modern-analysis-islamic-law-ekonomi-t-thumb-677ab.webp" type="image/webp" medium="image" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
	<media:content url="https://juris.id/univ-1188-uin-bukittinggi.rss" type="application/rss+xml" medium="document" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
	<media:content url="https://juris.id/jur-19662-jurnal-fuaduna-jurnal-kajian-keagamaan-kemasyarakatan.rss" type="application/rss+xml" medium="document" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
 </entry>
 <entry>
	<title><![CDATA[ Digital Dawah The Role of Youtube in Enhancing Religious Literacy among Nahdlatul Ulama Youth ]]></title>
	<dc:title><![CDATA[ Digital Dawah The Role of Youtube in Enhancing Religious Literacy among Nahdlatul Ulama Youth ]]></dc:title>
	<itunes:subtitle><![CDATA[ Digital Dawah The Role of Youtube in Enhancing Religious Literacy among Nahdlatul Ulama Youth ]]></itunes:subtitle>
	<link rel="via" type="text/html" href="https://juris.id/pdf-68678-konten-dakwah-remaja-ipnu-ippnu-buya" />
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://juris.id/pdf-68678-konten-dakwah-remaja-ipnu-ippnu-buya" />
	<link rel="alternate" type="application/xml" href="https://juris.id/last-updates.rss" />
	<id>tag:juris.id,2026-09-23:e1c814738f40f66cd4a98b2e96ba9752</id>
	<published>2026-09-23T14:26:33+07:00</published>
	<updated>2026-09-23T14:26:33+07:00</updated>
	<dc:publisher><![CDATA[ juris JURIS.id ]]></dc:publisher>
	<category term="polemic isra" label="polemic isra" />
	<category term="rumah jurnal" label="rumah jurnal" />
	<category term="digital da" label="digital da" />
	<itunes:keywords><![CDATA[da,digital,isra,jurnal,polemic,rumah]]></itunes:keywords>
	<itunes:summary><![CDATA[ Untuk penelitian lanjutan, dapat dilakukan studi komparatif antara dampak konten dakwah di YouTube dengan media sosial lainnya, seperti Instagram atau TikTok, terhadap peningkatan literasi keagamaan di kalangan remaja. Selain itu, penelitian dapat fokus ]]></itunes:summary>
  <summary><![CDATA[ Untuk penelitian lanjutan, dapat dilakukan studi komparatif antara dampak konten dakwah di YouTube dengan media sosial lainnya, seperti Instagram atau TikTok, terhadap peningkatan literasi keagamaan di kalangan remaja. Selain itu, penelitian dapat fokus ]]></summary>
  <content type="html"><![CDATA[ <p>
<a href="https://cdn.juris.id/2/e/konten-dakwah-remaja-ipnu-ippnu-buya-minat-putra-d-thumb-924b0.webp" title="JURIS - Digital Da&#039;wah: The Role of Youtube in Enhancing Religious Literacy among Nahdlatul Ulama Youth" class="imga">
<img width="100%" src="https://cdn.juris.id/2/e/konten-dakwah-remaja-ipnu-ippnu-buya-minat-putra-d-thumb-924b0.webp" data-src="https://cdn.juris.id/2/e/konten-dakwah-remaja-ipnu-ippnu-buya-minat-putra-d-thumb-924b0.webp" srcset="https://cdn.juris.id/2/e/konten-dakwah-remaja-ipnu-ippnu-buya-minat-putra-d-thumb-924b0.webp 1x" title="JURIS - Digital Da&#039;wah: The Role of Youtube in Enhancing Religious Literacy among Nahdlatul Ulama Youth" alt="JURIS - Digital Da&#039;wah: The Role of Youtube in Enhancing Religious Literacy among Nahdlatul Ulama Youth" >
</a>
<a href="https://cdn.juris.id/2/e/konten-dakwah-remaja-ipnu-ippnu-buya-minat-putra-d-thumb-061ff.webp" title="JURIS - Digital Da&#039;wah: The Role of Youtube in Enhancing Religious Literacy among Nahdlatul Ulama Youth" class="imga">
<img width="100%" src="https://cdn.juris.id/2/e/konten-dakwah-remaja-ipnu-ippnu-buya-minat-putra-d-thumb-061ff.webp" data-src="https://cdn.juris.id/2/e/konten-dakwah-remaja-ipnu-ippnu-buya-minat-putra-d-thumb-061ff.webp" srcset="https://cdn.juris.id/2/e/konten-dakwah-remaja-ipnu-ippnu-buya-minat-putra-d-thumb-061ff.webp 1x" title="JURIS - Digital Da&#039;wah: The Role of Youtube in Enhancing Religious Literacy among Nahdlatul Ulama Youth" alt="JURIS - Digital Da&#039;wah: The Role of Youtube in Enhancing Religious Literacy among Nahdlatul Ulama Youth" >
</a>
<a href="https://cdn.juris.id/2/e/konten-dakwah-remaja-ipnu-ippnu-buya-minat-putra-d-thumb-ff41d.webp" title="JURIS - Digital Da&#039;wah: The Role of Youtube in Enhancing Religious Literacy among Nahdlatul Ulama Youth" class="imga">
<img width="100%" src="https://cdn.juris.id/2/e/konten-dakwah-remaja-ipnu-ippnu-buya-minat-putra-d-thumb-ff41d.webp" data-src="https://cdn.juris.id/2/e/konten-dakwah-remaja-ipnu-ippnu-buya-minat-putra-d-thumb-ff41d.webp" srcset="https://cdn.juris.id/2/e/konten-dakwah-remaja-ipnu-ippnu-buya-minat-putra-d-thumb-ff41d.webp 1x" title="JURIS - Digital Da&#039;wah: The Role of Youtube in Enhancing Religious Literacy among Nahdlatul Ulama Youth" alt="JURIS - Digital Da&#039;wah: The Role of Youtube in Enhancing Religious Literacy among Nahdlatul Ulama Youth" >
</a>
<a href="https://juris.id/calendar" target="_blank">#calendar</a> - <a href="https://juris.id/pdf-68678-konten-dakwah-remaja-ipnu-ippnu-buya" title="JURIS - Digital Da&#039;wah: The Role of Youtube in Enhancing Religious Literacy among Nahdlatul Ulama Youth" target="_blank">Digital Da'wah: The Role of Youtube in Enhancing Religious Literacy among Nahdlatul Ulama Youth</a>: Untuk penelitian lanjutan, dapat dilakukan studi komparatif antara dampak konten dakwah di YouTube dengan media sosial lainnya, seperti Instagram atau TikTok, terhadap peningkatan literasi keagamaan di kalangan remaja. Selain itu, penelitian dapat fokus pada strategi dan teknik yang digunakan para da'i dalam menciptakan konten dakwah yang menarik dan efektif di YouTube, serta bagaimana konten tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan minat remaja. Terakhir, penelitian dapat mengeksplorasi peran dan pengaruh interaksi langsung antara da'i dan penonton melalui fitur komentar dan diskusi di YouTube, serta bagaimana interaksi tersebut dapat meningkatkan pemahaman dan keterlibatan remaja dalam materi dakwah yang disajikan..
<br>Konten dakwah di YouTube sangat bermanfaat untuk kondisi remaja saat ini karena banyak muncul berita tentang isu bunuh diri, narkoba, dan lainnya, yang merupakan beberapa faktor utama karena mereka tidak menguasai pengetahuan agama dan kurangnya kesadaran iman.Setelah mendengarkan studi dakwah, orang akan mengubah atau memperbaiki diri dari buruk menjadi lebih baik.Kemudian, remaja, terutama dari PAC IPNU IPPNU Juwana, merasa nyaman dan tidak mengalami gangguan mental, terutama jika mereka lelah, sedih, atau kecewa.mungkin menonton studi dakwah di YouTube akan menjadi pencerahan.Untuk penelitian lebih lanjut, penulis berharap dapat menciptakan dan mengembangkan artikel ilmiah yang lebih baik.Penulis menyadari artikel ilmiah ini masih belum memuaskan dan memiliki banyak kekurangan.Semoga artikel ini bermanfaat bagi pembaca sehingga mereka dapat mengetahui kelebihan dan kekurangan artikel ini
<br>YouTube, sebagai platform media telah menjadi sarana penting bagi para da'i dalam menyebarkan kajian dakwah, terutama di kalangan remaja Pimpinan Anak Cabang (PAC), Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Juwana. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana konten dakwah di YouTube dapat meningkatkan minat religius di kalangan remaja, terutama ketika mereka menghadapi kesulitan untuk mengikuti dakwah secara langsung. Kebaruan penelitian ini terletak pada pendekatan inovatif...
<br>Kunjungi <a href="https://juris.id/calendar" target="_blank">calendar</a> untuk informasi lainnya.
</p>
 ]]></content>
	<enclosure url="https://cdn.juris.id/2/e/konten-dakwah-remaja-ipnu-ippnu-buya-minat-putra-d-thumb-ff41d.webp" type="image/webp" length="108494" />
	<media:content url="https://cdn.juris.id/2/e/konten-dakwah-remaja-ipnu-ippnu-buya-minat-putra-d-thumb-924b0.webp" type="image/webp" medium="image" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
	<media:content url="https://cdn.juris.id/2/e/konten-dakwah-remaja-ipnu-ippnu-buya-minat-putra-d-thumb-061ff.webp" type="image/webp" medium="image" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
	<media:content url="https://cdn.juris.id/2/e/konten-dakwah-remaja-ipnu-ippnu-buya-minat-putra-d-thumb-ff41d.webp" type="image/webp" medium="image" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
	<media:content url="https://juris.id/univ-1188-uin-bukittinggi.rss" type="application/rss+xml" medium="document" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
	<media:content url="https://juris.id/jur-19662-jurnal-fuaduna-jurnal-kajian-keagamaan-kemasyarakatan.rss" type="application/rss+xml" medium="document" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
 </entry>
 <entry>
	<title><![CDATA[ From Dialogue to Digital Spiritual Practice Thematic Content Analysis of Tiga Fakir on YouTube ]]></title>
	<dc:title><![CDATA[ From Dialogue to Digital Spiritual Practice Thematic Content Analysis of Tiga Fakir on YouTube ]]></dc:title>
	<itunes:subtitle><![CDATA[ From Dialogue to Digital Spiritual Practice Thematic Content Analysis of Tiga Fakir on YouTube ]]></itunes:subtitle>
	<link rel="via" type="text/html" href="https://juris.id/pdf-68663-praktik-spiritual-kongregasi-spi-adopsi-pr" />
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://juris.id/pdf-68663-praktik-spiritual-kongregasi-spi-adopsi-pr" />
	<link rel="alternate" type="application/xml" href="https://juris.id/last-updates.rss" />
	<id>tag:juris.id,2026-09-23:dcb3ae609c150b28cbbb03d1707ee274</id>
	<published>2026-09-23T13:58:51+07:00</published>
	<updated>2026-09-23T13:58:51+07:00</updated>
	<dc:publisher><![CDATA[ juris JURIS.id ]]></dc:publisher>
	<category term="rumah jurnal" label="rumah jurnal" />
	<category term="view vol" label="view vol" />
	<itunes:keywords><![CDATA[jurnal,rumah,view,vol]]></itunes:keywords>
	<itunes:summary><![CDATA[ Penelitian lanjutan dapat mengeksplorasi dampak platform media sosial lain seperti TikTok atau Instagram terhadap transformasi dialog spiritual menjadi praktik harian. Selain itu, penting untuk mengkaji peran komunitas dalam mempertahankan praktik spiritual ]]></itunes:summary>
  <summary><![CDATA[ Penelitian lanjutan dapat mengeksplorasi dampak platform media sosial lain seperti TikTok atau Instagram terhadap transformasi dialog spiritual menjadi praktik harian. Selain itu, penting untuk mengkaji peran komunitas dalam mempertahankan praktik spiritual ]]></summary>
  <content type="html"><![CDATA[ <p>
<a href="https://cdn.juris.id/1/8/praktik-spiritual-kongregasi-spi-adopsi-konservasi-thumb-28f00.webp" title="JURIS - From Dialogue to Digital Spiritual Practice: Thematic Content Analysis of &quot;Tiga Fakir&quot; on YouTube" class="imga">
<img width="100%" src="https://cdn.juris.id/1/8/praktik-spiritual-kongregasi-spi-adopsi-konservasi-thumb-28f00.webp" data-src="https://cdn.juris.id/1/8/praktik-spiritual-kongregasi-spi-adopsi-konservasi-thumb-28f00.webp" srcset="https://cdn.juris.id/1/8/praktik-spiritual-kongregasi-spi-adopsi-konservasi-thumb-28f00.webp 1x" title="JURIS - From Dialogue to Digital Spiritual Practice: Thematic Content Analysis of &quot;Tiga Fakir&quot; on YouTube" alt="JURIS - From Dialogue to Digital Spiritual Practice: Thematic Content Analysis of &quot;Tiga Fakir&quot; on YouTube" >
</a>
<a href="https://cdn.juris.id/1/8/praktik-spiritual-kongregasi-spi-adopsi-konservasi-thumb-8fa8b.webp" title="JURIS - From Dialogue to Digital Spiritual Practice: Thematic Content Analysis of &quot;Tiga Fakir&quot; on YouTube" class="imga">
<img width="100%" src="https://cdn.juris.id/1/8/praktik-spiritual-kongregasi-spi-adopsi-konservasi-thumb-8fa8b.webp" data-src="https://cdn.juris.id/1/8/praktik-spiritual-kongregasi-spi-adopsi-konservasi-thumb-8fa8b.webp" srcset="https://cdn.juris.id/1/8/praktik-spiritual-kongregasi-spi-adopsi-konservasi-thumb-8fa8b.webp 1x" title="JURIS - From Dialogue to Digital Spiritual Practice: Thematic Content Analysis of &quot;Tiga Fakir&quot; on YouTube" alt="JURIS - From Dialogue to Digital Spiritual Practice: Thematic Content Analysis of &quot;Tiga Fakir&quot; on YouTube" >
</a>
<a href="https://cdn.juris.id/1/8/praktik-spiritual-kongregasi-spi-adopsi-konservasi-thumb-54251.webp" title="JURIS - From Dialogue to Digital Spiritual Practice: Thematic Content Analysis of &quot;Tiga Fakir&quot; on YouTube" class="imga">
<img width="100%" src="https://cdn.juris.id/1/8/praktik-spiritual-kongregasi-spi-adopsi-konservasi-thumb-54251.webp" data-src="https://cdn.juris.id/1/8/praktik-spiritual-kongregasi-spi-adopsi-konservasi-thumb-54251.webp" srcset="https://cdn.juris.id/1/8/praktik-spiritual-kongregasi-spi-adopsi-konservasi-thumb-54251.webp 1x" title="JURIS - From Dialogue to Digital Spiritual Practice: Thematic Content Analysis of &quot;Tiga Fakir&quot; on YouTube" alt="JURIS - From Dialogue to Digital Spiritual Practice: Thematic Content Analysis of &quot;Tiga Fakir&quot; on YouTube" >
</a>
<a href="https://juris.id/calendar" target="_blank">#calendar</a> - <a href="https://juris.id/pdf-68663-praktik-spiritual-kongregasi-spi-adopsi-pr" title="JURIS - From Dialogue to Digital Spiritual Practice: Thematic Content Analysis of &quot;Tiga Fakir&quot; on YouTube" target="_blank">From Dialogue to Digital Spiritual Practice: Thematic Content Analysis of "Tiga Fakir" on YouTube</a>: Penelitian lanjutan dapat mengeksplorasi dampak platform media sosial lain seperti TikTok atau Instagram terhadap transformasi dialog spiritual menjadi praktik harian. Selain itu, penting untuk mengkaji peran komunitas dalam mempertahankan praktik spiritual berbasis digital, terutama dalam konteks generasi muda yang aktif secara online. Penelitian juga bisa fokus pada perbedaan respons audiens dari latar belakang demografis berbeda terhadap pendekatan non-klerikal dalam dakwah digital. Dengan memperluas wawasan ini, studi masa depan dapat mengembangkan kerangka teoritis yang lebih komprehensif tentang dinamika spiritualitas digital dalam masyarakat modern..
<br>Penelitian ini menyimpulkan bahwa dialog AuTiga FakirAy beroperasi sebagai peta operasional spiritualitas digital, yang menerjemahkan kerangka kesadaran yang kompleks ke dalam disiplin-disiplin transformasional dalam kehidupan sehari-hari melalui praktik media dialogis.Penelitian ini menunjukkan bahwa interaksi audiens melalui komentar tidak hanya menciptakan resonansi afektif, tetapi juga menjadi ruang untuk klarifikasi sejawat dan adopsi praktik spiritual.Pendekatan non-klerikal dan dialogis yang digunakan oleh Tiga Fakir berhasil menurunkan hambatan psikologis dalam pengambilan keputusan spiritual, menjadikannya lebih mudah diakses oleh audiens urban yang mencari makna eksistensial
<br>Studi ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana wacana dialogis non-klerikal di ruang digital dapat ditransformasikan menjadi praktik spiritual sehari-hari dalam ekosistem keagamaan daring kontemporer. Dengan berfokus pada segmen AuTiga FakirAy di kanal YouTube SAY Inspiratif, studi ini menyoroti celah penting dalam kajian agama digital yang selama ini lebih didominasi oleh pola dakwah satu arah dibandingkan dialog partisipatoris. Menggunakan pendekatan analisis isi tematik, penelitian ini menganalisis transkrip episode AuMenjawab Pertanyaan Abadi Dalam KehidupanAy yang telah dibersihkan, serta data resepsi audiens yang diperoleh dari kolom komentar YouTube. Hasil analisis mengidentifikasi lima mekanisme konversi dialog menjadi praktik,...
<br>Kunjungi <a href="https://juris.id/calendar" target="_blank">calendar</a> untuk informasi lainnya.
</p>
 ]]></content>
	<enclosure url="https://cdn.juris.id/1/8/praktik-spiritual-kongregasi-spi-adopsi-konservasi-thumb-54251.webp" type="image/webp" length="105678" />
	<media:content url="https://cdn.juris.id/1/8/praktik-spiritual-kongregasi-spi-adopsi-konservasi-thumb-28f00.webp" type="image/webp" medium="image" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
	<media:content url="https://cdn.juris.id/1/8/praktik-spiritual-kongregasi-spi-adopsi-konservasi-thumb-8fa8b.webp" type="image/webp" medium="image" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
	<media:content url="https://cdn.juris.id/1/8/praktik-spiritual-kongregasi-spi-adopsi-konservasi-thumb-54251.webp" type="image/webp" medium="image" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
	<media:content url="https://juris.id/univ-1188-uin-bukittinggi.rss" type="application/rss+xml" medium="document" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
	<media:content url="https://juris.id/jur-19662-jurnal-fuaduna-jurnal-kajian-keagamaan-kemasyarakatan.rss" type="application/rss+xml" medium="document" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
 </entry>
 <entry>
	<title><![CDATA[ Violence Against Ahmadiyya as Productive Intolerance Adressing Jeremy MenchikyCEs Godly Nationalism ]]></title>
	<dc:title><![CDATA[ Violence Against Ahmadiyya as Productive Intolerance Adressing Jeremy MenchikyCEs Godly Nationalism ]]></dc:title>
	<itunes:subtitle><![CDATA[ Violence Against Ahmadiyya as Productive Intolerance Adressing Jeremy MenchikyCEs Godly Nationalism ]]></itunes:subtitle>
	<link rel="via" type="text/html" href="https://juris.id/pdf-68673-minoritas-pluralisme-agama-tata-k" />
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://juris.id/pdf-68673-minoritas-pluralisme-agama-tata-k" />
	<link rel="alternate" type="application/xml" href="https://juris.id/last-updates.rss" />
	<id>tag:juris.id,2026-09-23:11cf7cb712279ef22a8c50929381d20b</id>
	<published>2026-09-23T13:37:16+07:00</published>
	<updated>2026-09-23T13:37:16+07:00</updated>
	<dc:publisher><![CDATA[ juris JURIS.id ]]></dc:publisher>
	<category term="west sumatra" label="west sumatra" />
	<category term="rumah jurnal" label="rumah jurnal" />
	<category term="view vol" label="view vol" />
	<itunes:keywords><![CDATA[jurnal,rumah,sumatra,view,vol,west]]></itunes:keywords>
	<itunes:summary><![CDATA[ Penelitian lanjutan dapat secara mendalam mengkaji pengalaman sehari-hari komunitas Ahmadiyah di tingkat mikro, khususnya di daerah-daerah yang menunjukkan variasi respons dari pemerintah daerah atau organisasi keagamaan arus utama. Hal ini untuk memahami ]]></itunes:summary>
  <summary><![CDATA[ Penelitian lanjutan dapat secara mendalam mengkaji pengalaman sehari-hari komunitas Ahmadiyah di tingkat mikro, khususnya di daerah-daerah yang menunjukkan variasi respons dari pemerintah daerah atau organisasi keagamaan arus utama. Hal ini untuk memahami ]]></summary>
  <content type="html"><![CDATA[ <p>
<a href="https://cdn.juris.id/3/0/minoritas-pluralisme-agama-tata-kelola-negara-stud-thumb-5d834.webp" title="JURIS - Violence Against Ahmadiyya as Productive Intolerance: Adressing Jeremy MenchikyCEs Godly Nationalism" class="imga">
<img width="100%" src="https://cdn.juris.id/3/0/minoritas-pluralisme-agama-tata-kelola-negara-stud-thumb-5d834.webp" data-src="https://cdn.juris.id/3/0/minoritas-pluralisme-agama-tata-kelola-negara-stud-thumb-5d834.webp" srcset="https://cdn.juris.id/3/0/minoritas-pluralisme-agama-tata-kelola-negara-stud-thumb-5d834.webp 1x" title="JURIS - Violence Against Ahmadiyya as Productive Intolerance: Adressing Jeremy MenchikyCEs Godly Nationalism" alt="JURIS - Violence Against Ahmadiyya as Productive Intolerance: Adressing Jeremy MenchikyCEs Godly Nationalism" >
</a>
<a href="https://cdn.juris.id/3/0/minoritas-pluralisme-agama-tata-kelola-negara-stud-thumb-d156e.webp" title="JURIS - Violence Against Ahmadiyya as Productive Intolerance: Adressing Jeremy MenchikyCEs Godly Nationalism" class="imga">
<img width="100%" src="https://cdn.juris.id/3/0/minoritas-pluralisme-agama-tata-kelola-negara-stud-thumb-d156e.webp" data-src="https://cdn.juris.id/3/0/minoritas-pluralisme-agama-tata-kelola-negara-stud-thumb-d156e.webp" srcset="https://cdn.juris.id/3/0/minoritas-pluralisme-agama-tata-kelola-negara-stud-thumb-d156e.webp 1x" title="JURIS - Violence Against Ahmadiyya as Productive Intolerance: Adressing Jeremy MenchikyCEs Godly Nationalism" alt="JURIS - Violence Against Ahmadiyya as Productive Intolerance: Adressing Jeremy MenchikyCEs Godly Nationalism" >
</a>
<a href="https://cdn.juris.id/3/0/minoritas-pluralisme-agama-tata-kelola-negara-stud-thumb-68bc7.webp" title="JURIS - Violence Against Ahmadiyya as Productive Intolerance: Adressing Jeremy MenchikyCEs Godly Nationalism" class="imga">
<img width="100%" src="https://cdn.juris.id/3/0/minoritas-pluralisme-agama-tata-kelola-negara-stud-thumb-68bc7.webp" data-src="https://cdn.juris.id/3/0/minoritas-pluralisme-agama-tata-kelola-negara-stud-thumb-68bc7.webp" srcset="https://cdn.juris.id/3/0/minoritas-pluralisme-agama-tata-kelola-negara-stud-thumb-68bc7.webp 1x" title="JURIS - Violence Against Ahmadiyya as Productive Intolerance: Adressing Jeremy MenchikyCEs Godly Nationalism" alt="JURIS - Violence Against Ahmadiyya as Productive Intolerance: Adressing Jeremy MenchikyCEs Godly Nationalism" >
</a>
<a href="https://juris.id/calendar" target="_blank">#calendar</a> - <a href="https://juris.id/pdf-68673-minoritas-pluralisme-agama-tata-k" title="JURIS - Violence Against Ahmadiyya as Productive Intolerance: Adressing Jeremy MenchikyCEs Godly Nationalism" target="_blank">Violence Against Ahmadiyya as Productive Intolerance: Adressing Jeremy MenchikyCEs Godly Nationalism</a>: Penelitian lanjutan dapat secara mendalam mengkaji pengalaman sehari-hari komunitas Ahmadiyah di tingkat mikro, khususnya di daerah-daerah yang menunjukkan variasi respons dari pemerintah daerah atau organisasi keagamaan arus utama. Hal ini untuk memahami bagaimana mereka menavigasi, beradaptasi, dan membangun ketahanan terhadap narasi "nasionalisme bertuhan" atau "intoleransi produktif" yang dituduhkan, melampaui sekadar respons defensif. Misalnya, studi komparatif dapat menelisik faktor-faktor spesifik (baik politik, sosial, ekonomi, maupun budaya lokal) yang mempengaruhi keputusan gubernur Yogyakarta untuk tidak melarang Ahmadiyah, dibandingkan dengan kebijakan di Jawa Barat atau Jawa Timur. Dengan demikian, penelitian ini dapat mengungkap dinamika lokal yang membentuk sikap toleransi atau intoleransi, menunjukkan bahwa konsep nasionalisme bertuhan mungkin tidak berlaku secara seragam di seluruh wilayah Indonesia. Lebih jauh, penting untuk menggali bagaimana nilai-nilai kebangsaan Indonesia, seperti Pancasila, yang secara historis merupakan hasil negosiasi kompleks antara kelompok nasionalis dan religius, dapat diinterpretasikan ulang atau dikembangkan untuk menciptakan kerangka hubungan agama dan negara yang lebih inklusif. Pendekatan ini diharapkan dapat melampaui dikotomi biner antara sekularisme dan teokrasi, mencari model rekonsiliasi yang melindungi hak-hak kebebasan beragama minoritas tanpa mengikis identitas religius mayoritas. Penelitian semacam ini akan memberikan pemahaman yang lebih kaya tentang kompleksitas interaksi agama dan negara di Indonesia..
<br>Konsep nasionalisme bertuhan Jeremy Menchik, meskipun menarik, memiliki kelemahan signifikan dalam menjelaskan hubungan agama dan negara di Indonesia, terutama terkait kekerasan terhadap Ahmadiyah.Kritik utama adalah fokusnya yang berlebihan pada data makro dan kegagalannya untuk sepenuhnya mengintegrasikan diskursus sekularisme, sehingga menyederhanakan dinamika kompleks antara religiusitas dan tata kelola negara.Analisis lebih lanjut melalui lensa sekularisme dan penolakan terhadap pemikiran biner menunjukkan perlunya pendekatan yang lebih komprehensif dan mengakomodasi pluralisme agama untuk memahami interaksi agama dan negara di Indonesia
<br>Artikel ini mengkaji nasionalisme bertuhan dengan menggunakan teori sekularisme. Menchik mengartikan hubungan agama dan negara di Indonesia sebagai Aunasionalisme bertuhanAy. Keterkaitan ini berdasarkan Auperasaan kebersamaanAy yang bersumber pada sistem kepercayaan bersama yang dibina melalui kerja sama antara negara dan organisasi keagamaan (NU, Muhammadiyah, Persis). Jeremy Menchik berpendapat bahwa kekerasan terhadap Ahmadiyah harus dilihat sebagai Auintoleransi produktifAy dan bukan sekedar merusak demokrasi, karena hal ini dimaksudkan untuk melindungi ikatan keagamaan. Konsep nasionalisme bertuhan telah dikritik karena mengabaikan kebebasan beragama sebagai hak asasi manusia. Konsep ini juga terlalu menekankan...
<br>Kunjungi <a href="https://juris.id/calendar" target="_blank">calendar</a> untuk informasi lainnya.
</p>
 ]]></content>
	<enclosure url="https://cdn.juris.id/3/0/minoritas-pluralisme-agama-tata-kelola-negara-stud-thumb-68bc7.webp" type="image/webp" length="92886" />
	<media:content url="https://cdn.juris.id/3/0/minoritas-pluralisme-agama-tata-kelola-negara-stud-thumb-5d834.webp" type="image/webp" medium="image" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
	<media:content url="https://cdn.juris.id/3/0/minoritas-pluralisme-agama-tata-kelola-negara-stud-thumb-d156e.webp" type="image/webp" medium="image" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
	<media:content url="https://cdn.juris.id/3/0/minoritas-pluralisme-agama-tata-kelola-negara-stud-thumb-68bc7.webp" type="image/webp" medium="image" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
	<media:content url="https://juris.id/univ-1188-uin-bukittinggi.rss" type="application/rss+xml" medium="document" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
	<media:content url="https://juris.id/jur-19662-jurnal-fuaduna-jurnal-kajian-keagamaan-kemasyarakatan.rss" type="application/rss+xml" medium="document" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
 </entry>
 <entry>
	<title><![CDATA[ Actualization of the Maqsid Al Sharah in Indonesia A Case Study of the Spiritual Counting of Prisoners in Judicial Institutions ]]></title>
	<dc:title><![CDATA[ Actualization of the Maqsid Al Sharah in Indonesia A Case Study of the Spiritual Counting of Prisoners in Judicial Institutions ]]></dc:title>
	<itunes:subtitle><![CDATA[ Actualization of the Maqsid Al Sharah in Indonesia A Case Study of the Spiritual Counting of Prisoners in Judicial Institutions ]]></itunes:subtitle>
	<link rel="via" type="text/html" href="https://juris.id/pdf-68666-akal-hifz-al-sosial-narapidana-korupsi-nara" />
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://juris.id/pdf-68666-akal-hifz-al-sosial-narapidana-korupsi-nara" />
	<link rel="alternate" type="application/xml" href="https://juris.id/last-updates.rss" />
	<id>tag:juris.id,2026-09-23:b5f781d3bb55179419dc8339546483f4</id>
	<published>2026-09-23T12:25:12+07:00</published>
	<updated>2026-09-23T12:25:12+07:00</updated>
	<dc:publisher><![CDATA[ juris JURIS.id ]]></dc:publisher>
	<category term="west sumatra" label="west sumatra" />
	<category term="rumah jurnal" label="rumah jurnal" />
	<category term="view vol" label="view vol" />
	<itunes:keywords><![CDATA[jurnal,rumah,sumatra,view,vol,west]]></itunes:keywords>
	<itunes:summary><![CDATA[ Untuk meningkatkan efektivitas program pelatihan berbasis agama di fasilitas pemasyarakatan Indonesia, perlu dilakukan evaluasi komprehensif terhadap model pengembangan kepribadian yang saat ini diterapkan. Penelitian ini menunjukkan bahwa dominasi program ]]></itunes:summary>
  <summary><![CDATA[ Untuk meningkatkan efektivitas program pelatihan berbasis agama di fasilitas pemasyarakatan Indonesia, perlu dilakukan evaluasi komprehensif terhadap model pengembangan kepribadian yang saat ini diterapkan. Penelitian ini menunjukkan bahwa dominasi program ]]></summary>
  <content type="html"><![CDATA[ <p>
<a href="https://cdn.juris.id/7/0/akal-hifz-al-sosial-narapidana-korupsi-prisoner-co-thumb-0434b.webp" title="JURIS - Actualization of the Maqsid Al-Shar&#039;ah in Indonesia: A Case Study of the Spiritual Counting of Prisoners in Judicial Institutions" class="imga">
<img width="100%" src="https://cdn.juris.id/7/0/akal-hifz-al-sosial-narapidana-korupsi-prisoner-co-thumb-0434b.webp" data-src="https://cdn.juris.id/7/0/akal-hifz-al-sosial-narapidana-korupsi-prisoner-co-thumb-0434b.webp" srcset="https://cdn.juris.id/7/0/akal-hifz-al-sosial-narapidana-korupsi-prisoner-co-thumb-0434b.webp 1x" title="JURIS - Actualization of the Maqsid Al-Shar&#039;ah in Indonesia: A Case Study of the Spiritual Counting of Prisoners in Judicial Institutions" alt="JURIS - Actualization of the Maqsid Al-Shar&#039;ah in Indonesia: A Case Study of the Spiritual Counting of Prisoners in Judicial Institutions" >
</a>
<a href="https://cdn.juris.id/7/0/akal-hifz-al-sosial-narapidana-korupsi-prisoner-co-thumb-b9a5b.webp" title="JURIS - Actualization of the Maqsid Al-Shar&#039;ah in Indonesia: A Case Study of the Spiritual Counting of Prisoners in Judicial Institutions" class="imga">
<img width="100%" src="https://cdn.juris.id/7/0/akal-hifz-al-sosial-narapidana-korupsi-prisoner-co-thumb-b9a5b.webp" data-src="https://cdn.juris.id/7/0/akal-hifz-al-sosial-narapidana-korupsi-prisoner-co-thumb-b9a5b.webp" srcset="https://cdn.juris.id/7/0/akal-hifz-al-sosial-narapidana-korupsi-prisoner-co-thumb-b9a5b.webp 1x" title="JURIS - Actualization of the Maqsid Al-Shar&#039;ah in Indonesia: A Case Study of the Spiritual Counting of Prisoners in Judicial Institutions" alt="JURIS - Actualization of the Maqsid Al-Shar&#039;ah in Indonesia: A Case Study of the Spiritual Counting of Prisoners in Judicial Institutions" >
</a>
<a href="https://cdn.juris.id/7/0/akal-hifz-al-sosial-narapidana-korupsi-prisoner-co-thumb-41315.webp" title="JURIS - Actualization of the Maqsid Al-Shar&#039;ah in Indonesia: A Case Study of the Spiritual Counting of Prisoners in Judicial Institutions" class="imga">
<img width="100%" src="https://cdn.juris.id/7/0/akal-hifz-al-sosial-narapidana-korupsi-prisoner-co-thumb-41315.webp" data-src="https://cdn.juris.id/7/0/akal-hifz-al-sosial-narapidana-korupsi-prisoner-co-thumb-41315.webp" srcset="https://cdn.juris.id/7/0/akal-hifz-al-sosial-narapidana-korupsi-prisoner-co-thumb-41315.webp 1x" title="JURIS - Actualization of the Maqsid Al-Shar&#039;ah in Indonesia: A Case Study of the Spiritual Counting of Prisoners in Judicial Institutions" alt="JURIS - Actualization of the Maqsid Al-Shar&#039;ah in Indonesia: A Case Study of the Spiritual Counting of Prisoners in Judicial Institutions" >
</a>
<a href="https://juris.id/calendar" target="_blank">#calendar</a> - <a href="https://juris.id/pdf-68666-akal-hifz-al-sosial-narapidana-korupsi-nara" title="JURIS - Actualization of the Maqsid Al-Shar&#039;ah in Indonesia: A Case Study of the Spiritual Counting of Prisoners in Judicial Institutions" target="_blank">Actualization of the Maqsid Al-Shar'ah in Indonesia: A Case Study of the Spiritual Counting of Prisoners in Judicial Institutions</a>: Untuk meningkatkan efektivitas program pelatihan berbasis agama di fasilitas pemasyarakatan Indonesia, perlu dilakukan evaluasi komprehensif terhadap model pengembangan kepribadian yang saat ini diterapkan. Penelitian ini menunjukkan bahwa dominasi program berbasis ceramah perlu diatasi dengan model yang lebih komprehensif dan berbasis hukum Islam. Oleh karena itu, disarankan untuk mengembangkan model pelatihan yang lebih interaktif dan melibatkan partisipasi aktif narapidana. Model ini dapat mencakup berbagai aktivitas, seperti diskusi kelompok, simulasi, dan kegiatan praktis yang relevan dengan kehidupan narapidana setelah bebas. Selain itu, penting untuk memastikan bahwa program ini disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik narapidana yang beragam, terutama mereka yang terlibat dalam kejahatan serius. Masalah kelebihan kapasitas di fasilitas tertentu, seperti Salemba dan Lembaga Pemasyarakatan Wanita Jakarta, merupakan tantangan serius yang menghambat proses rehabilitasi dan reintegrasi sosial. Untuk mengatasi masalah ini, disarankan agar pemerintah dan pihak terkait melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kapasitas dan fasilitas yang tersedia di setiap lembaga pemasyarakatan. Upaya-upaya peningkatan kapasitas, seperti pembangunan fasilitas baru atau renovasi yang sudah ada, perlu dipertimbangkan untuk mengatasi masalah kelebihan kapasitas. Selain itu, penting untuk memastikan bahwa sumber daya dan staf yang tersedia memadai untuk memenuhi kebutuhan narapidana, termasuk dukungan medis dan psikologis yang tepat.Studi ini juga menekankan urgensi keadilan restoratif dalam penjatuhan hukuman. Oleh karena itu, disarankan agar sistem peradilan pidana di Indonesia lebih menekankan pada rehabilitasi dan reintegrasi sosial narapidana. Hal ini dapat dicapai dengan menerapkan pendekatan keadilan restoratif yang lebih holistik, di mana hukuman yang dijatuhkan tidak hanya berfokus pada hukuman semata, tetapi juga pada proses rehabilitasi dan persiapan narapidana untuk kembali ke masyarakat. Pendekatan ini dapat mencakup program-program yang lebih terintegrasi antara lembaga pemasyarakatan dengan masyarakat, seperti program pendampingan dan pelatihan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja..
<br>The Correctional Law was established after the reformation to provide punishment for violations that harm victims.The state aims to avoid a colonial approach solely focusing on retaliatory punishment through this law.The government has transformed the implementation of penitentiaries into coaching and improvement programs to facilitate the reintegration of penitentiary residents into society.Implementing coaching in correctional institutions centers around three key areas.hifz al-din (spiritual development), national and state awareness (implemented in 3 other maqasid.Hifz al-Nafs, Hifz al-Nasl, and Hifz al-Mal), and Hifz al-'Aql (intellectual ability development).Spiritual development (Hifz al-Din) activities involve providing inmates access to houses of worship and religious guidance.However, financial support is required for these activities.National and state awareness (which refers to Hifz al-Nafs, Hifz al-Nasl, and Hifz al-Mal) is fostered through counseling and scouting activities, with external institutions and the community contributing to the coaching.Intellectual ability development (Hifz al-'Aql) involves reading, writing, and education, focusing on increasing knowledge and skills.Independence development emphasizes self-reliance through training programs and practical work.However, the issues caused by overcapacity in correctional institutions affect the availability of resources and funding, making effective inmate rehabilitation difficult.Therefore, it is essential to address overcapacity and strengthen spiritual indicators.Indonesian correctional institutions face significant challenges that hinder effective inmate rehabilitation and reintegration.The low weighting of spiritual indicators and severe overcapacity undermines holistic prisoner development.This study aims to enhance personality development models using religious-based programs and a qawaid al-fiqhiyyah approach, which aligns with addressing these challenges.Resolving overcapacity issues, addressing the shortage of medical staff, and implementing enhancements proposed in this study are pivotal for a more just and humane correctional system in Indonesia.These actions align with maqasid shari'ah principles and foster impactful implementation within correctional frameworks.Rectifying these challenges will facilitate inmate rehabilitation and prepare them for successful reintegration into society
<br>Lembaga pemasyarakatan mengalami perubahan transformatif dari ruang hukuman menjadi pengakuan akan kemanusiaan narapidana. Dengan memprioritaskan perlindungan narapidana, reintegrasi, dan martabat, studi ini meneliti program pelatihan berbasis agama di fasilitas pemasyarakatan Indonesia. Dengan menganalisisnya melalui prinsip hukum Islam dan Maqasid al-sharAoah, penelitian ini mengeksplorasi model pengembangan kepribadian dan mengidentifikasi batasan dalam pendekatan yang ada saat ini. Meskipun temuan awal menunjukkan hasil positifAiperubahan perilaku dan penurunan tekanan psikologisAistudi ini menyoroti dominasi program berbasis ceramah, yang menandakan perlunya...
<br>Kunjungi <a href="https://juris.id/calendar" target="_blank">calendar</a> untuk informasi lainnya.
</p>
 ]]></content>
	<enclosure url="https://cdn.juris.id/7/0/akal-hifz-al-sosial-narapidana-korupsi-prisoner-co-thumb-41315.webp" type="image/webp" length="78578" />
	<media:content url="https://cdn.juris.id/7/0/akal-hifz-al-sosial-narapidana-korupsi-prisoner-co-thumb-0434b.webp" type="image/webp" medium="image" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
	<media:content url="https://cdn.juris.id/7/0/akal-hifz-al-sosial-narapidana-korupsi-prisoner-co-thumb-b9a5b.webp" type="image/webp" medium="image" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
	<media:content url="https://cdn.juris.id/7/0/akal-hifz-al-sosial-narapidana-korupsi-prisoner-co-thumb-41315.webp" type="image/webp" medium="image" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
	<media:content url="https://juris.id/univ-1188-uin-bukittinggi.rss" type="application/rss+xml" medium="document" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
	<media:content url="https://juris.id/jur-19662-jurnal-fuaduna-jurnal-kajian-keagamaan-kemasyarakatan.rss" type="application/rss+xml" medium="document" expression="full">
	<media:rating>nonadult</media:rating>
	</media:content>
 </entry>
</feed>

<!--Generated at Wed, 23 Sep 2026 18:26:20 +0700. 12 items. Served in: 4.057 seconds [atom] -->
